
Bugh!
"Kau memang pengecut!"
Pukulan telak mendarat sempurna tepat pada wajah Dean, hingga mengenai ujung bibirnya yang ini sedikit sobek dan berdarah.
Dean tidak ingin terima begitu saja, dia membalas dengan memukulnya dua kali dan membuat Robin hampir terhuyung ke belakang, bebrapa orang pria menghampirinya dan berusaha melerai mereka namun tumbang begitu saja. Begitu juga Alexa yang hanya bisa ikut berteriak dan membuat suasana semakin kacau
"Kau yang brengsekk karena terus ikut campur urusan orang lain!" tegas Dean dengan marah.
"Harusnya kau malu pada dirimu sendiri atas tindakaan bodoh yang kau lakukan, jangan mengusiknya lagi atau kau berurusan dengan ku." tunjuk Robin yang juga terbakar emosi.
"Robin ... Apa kau gila, apa salah kekasihku sampai kau memukulnya sampai dia berdarah, kau ini sangat kacau!" timpal ALexa yang melindungi tubuh Dean di belakangnya.
"See Dean ... Sepengecut itukah dirimu yang bersembunyi di belakang seorang wanita?"
"Ayo kita pergi Dean! Kau terluka."
"Pegilah ALexa, jangan ikut caampur urusanku dan bajingan itu."
"Kenapa? Apa kau masih bingung dengan pilihanmu sendiri Dean?" timpal Robin yang sudah tahu segalanya bahkan tanpa terlewat sedikitpun.
Arlene mengernyitkaan dahinya,
"Apa maksudnya Dean?"
"Saat kau membahagiakan tunanganmu dan kau bahkan sanggup melakukan semuanya untuknya, berhentilah memikirkan wanita lain." timpal Robin lagi yang terus menatap Dean dengan tajam.
"Dean ... Aku bertanya padamu apa yang Robin maksud. Apa yang terjadi Dean?" Alexa mengguncangkan dua bahunya namun pria berlesung pipi itu tetap terdiam.
Dia hanya menatap Robin dengan amat sengit.
"Dean! Katakan padanya ... Jujurlah!" sela Robin yang terus tertawa kecil.
"Berhenti ikut campur, kau tidak ada hubungannya dengan semua ini, kau tidak tahu apa apa Robin!"
__ADS_1
Robin kini tergelak mendengarnya, "Bagaimana mungkin aku tidak tahu apa apa Dean? Kau naif sekali, aku bahkan lebih tahu dari kau soal ini. Termasuk kau yang mampu melakukan apapun demi Alexa termasuk mencari dress bahkan mampu membayarnya lima kali lipat, tapi apa kau melakukan sesuatu saat kau tahu siapa pemilik dress itu, mana dugaanmu yang katanya kuat dan yakin jika dia adalah wanita yang kau cari selama ini, kau bahkan tidak meminta maaf padanya!" terang Robin dengan menggelengkan kepalanya.
Alexa sedikit terhenyak, dia mulai faham apa yang dikatakan oleh Robin, dan juga pemilik dress.
"Jadi ini dress milik siapa? Kau tahu ini milik siapa dan kau tidak mengatakannya padaku Dean?"
"Ya ... Dean tahu siapa pemilik Dress itu ... Leyka dan dia adalah___" timpal Robin dengan terus tertawa.
"Leyka. Memangnya siapa dia?" Tanya Alexa yang memang tidak tahu apa apa.
"Robin ... diamlah kau berengsekk!"
"See .. Kau ketakutan bahkan saat aku sebut Leyka didepannya?" Tunjuknya pada Alexa, "Kau gila kalau kau masih mau mengusik hidup Arlene?" sela Robin lagi yang mengangkat bibirnya ke atas.
"Kau yang gila!" ujar Dean yang melangkahkan kakinya dengan menarik tangan Alexa dan membawanya pergi.
Robin tertawa saat melihat rivalnya pergi begitu saja dengan kepecundangannya dan menyuruh orang orang yang juga melihatnya kembali berpesta. Tak lama dia dia sendiri melangkahkan kakinya melangkah pergi.
Robin berjalan keluar dari ballroom dimana pesta masih berlangsung, dia berjalan ke arah mobil dan langsung memanaskan kendaraannya.
Tak lama kemudian Robin tiba di sebuah rumah yang terletak di pesisir kota, rumah yang di penuhi pohon rindang dan terlihat sangat asri. Rumah dimana hampir 6 bulan ini di tempati oleh Arlene alias Leyka.
Tapi Robin hanya diam di dalam mobil dan tidak ingin keluar apalagi masuk kedalam rumah yang Arlene minta, rumah yang jauh dari akses kota dan tidak banyak orang yang tahu.
Wanita itu tidak ingin Baron maupun Dean tahu dimana dia tinggal kini.
Flash back on
Malam itu suasana cukup dingin, Robin yang hendak berkunjung ke tempat saudaranya justru menolong seseorang yaang tengah terkapar bersimbah darah di depan salah satu pintu unit apartemen mewah yang menjungjung tinggi privasi. Apartemen dengan tingkat keamanan di atas rata rata itu bahkan tidak pernah sekalipun ada kejadian apa apa, damai dan tenang.
"Pak .. Kau tidak apa apa?"
Dalam rintih kesakitan pria yang terluka di bagian kepalanya menunjuk ke arah unit apartemen yang terbuka sedikit, dimana kunci otomatis terlihat sudah rusak, "Tolong selamatkan seseorang di dalam sana!" rintihnya dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Robin nekat masuk kendalam , dia mendapati seorang pria mabuk yang tengah menggendong anak balita dalam pelukannya, dan seorang wanita yang tengah tersungkur dengan kening berdarah.
__ADS_1
Bugh!
Robin memukul tengkuk pria itu hingga pria tinggu itu terjatuh, dia lansung menggendong anak kecil yang kini menangis tanpa suara dan menghampiri wanita yang hampir tidak berdaya di depannya.
"Kau ... Arlene?'
Arlene mengangguk, dia berusaha bangkit namun tubuhnya sedikit limbung hingga Robin membantunya berdiri.
"Apa yang terjadi, siapa dia. Bukankah ini apartemen Dean. Mana dia?""
Robin yang bari sadar jika itu apartemen milik Dean pun memberondongya dengan banyak pertanyaan yang satupun tidak ingin di jawab oleh Arlene.
Saat itu juga Robin membawa Arlene ke rumahya, dia juga merawat lukanya dan melarikan pria yang tidak lain adalah supir keluarga Mcdemott yang sengaja di tugaskan menjaga Arlene.
"Kenapa kau tidak ingin memberi tahu Dean. bukankah kau ini istrinya Dean? Maksudku setidaknya Dean tahu kondisimu.'"
Arlene menggelengkan kepalanya, "Tolong jangan beritahu dia apapun yang terjadi padaku dan juga Alleyah, aku tidak ingin kembali berurusan dengannya dan juga keluarganya itu,"
Arlene pun menceritakannya tanpa kecuali pada Robin, mulai dari dia yang tanpa sengaja bertemu Dean dan ditawari sebuah pekerjaan yang konyol namun tidak bisa dia tolak saat itu karena keadaan yang memaksanya, dia juga menceritakan perasaannya yang jadi berkembang akibat perlakuan Dean yang membingungkan, penolakan demi penolakan serta penghinaan keluarga Mdcermott juga semuanya yang dia rasakan.
Dan yang terakhir tentu saja keputusan Dean yang menghentikan kerja sama dan memutuskan pilihannya akan wanita lain sementara dia juga memberinya harapan serta janji janji manis padanya, tidak lupa juga menyuruhnya untuk percaya.
"Aku sudah menduga hal ini dari awal, entah kenapa sejak pertama melihatmu saat bersama Dean di pesta temanmu itu aku sangat yakin jika ada yang tidak beres dengan hubungan kalian, dan dugaanku benar. Lalu apa yang akan kau lakukan kedepannya?"
"Aku ingin peri dari kota ini ... Tapi aku juga takut mereka menemukanku. Dean dan Baron sama brengsekknya. Tapi ada ZOoya sudah pasti akan mencariku saat mereka tidak melihatku berada di apartemen." terang Arlene.
"Itu sudah pasti, bahkan mungkin mereka akan langsung melaporkanmnya pada polisi dan kurasa kau tidak bisa pergi saat ini,"
Arlene berdecak pelan, dia sudah yakin jika langkahnya terus akan menghadapi jalan buntu.
"Kau ingin mendengar usulku?" ucap Robin yang tengah mengganti perban di kening Arlene.
"Apa?"
"Kau tidak perlu melarikan diri, kau harus menghadapinya dengaan kuat, bentuk dirimu dengan kuat agar bisa menghadapi semua masalah dan orang orang yang membuatmu kecewa termasuk pria pecundang itu!"
__ADS_1
"Bagaimana caranya?"