
"Bagaimana caranya?"
"Aku akan membantumu, tapi dengan satu syarat ... Kau tinggal bersamaku untuk sementara waktu sampai aku menemukan tempat tinggal yang aman dan tidak bisa di usik orang lain, aku akan menutup semua aksesmu dan kau harus mengganti nomor kontakmu. Kau juga di larang menghubungi orang orang yang kau kenal," ujar Robin. "Aku akan membantumu semaksimal mungkin apalagi jika keputusanmu tidak akan berubah"
Arlene menatap Robin, entah ini keberuntungankah atau bukan yang pasti dia sangat waspada saat ini.
"Aku tidak akan berubah denagn mudah, aku tidak ingin kembali apalagi aku tidak ingin bertemu lagi dengan Dean dan menjadi wanita bodoh!"
"Nice ... Aku janji akan membantumu Arlene."
Mereka akhirnya dekat dan saling bercerita, Robin mengajarinya banyak hal, termasuk soal pekerjaan yang dibutuhkan oleh Arlene, dia tidak ingin hidup cuma cuma di dalam pertolongan Robin, dia juga belajar banyak hal sampaai menjadi Leyka, nama yang di usulkan Robin agar dirinya tenang dan tidak lagi takut jika bertemu Dean atau bahkan Baron lagi.
Tok
Tok
Suara kaca mobil yang di ketuk dari luar mengagetkan Robin yang kala itu tengah melamun dengan pandangan kosong terhadap rumah yang ada di depannya.
"Ley ...? Kau mengagetkanku." ujar Baron yang segera membuka pintu dan langsung keluar dari mobil.
"Sedang apa? Aku bilang aku baik baik saja Robin, kenapa kau pergi dari pesta mu, bagaimana tamu tamu undangan yang datang dan menungumu di sana?" ujar Arlene.
"Tenang saja, disana akan ada banyak orang yang datang, mereka tidak akan sadar jika aku tidak ada, aku hanya ingin memastkan kau baik baik saja." terangnya dengan menyempilkan anak rambut Arlene yang berantakan tertiup angin.
Arlene terkekeh degan melangkah kembali menuju rumah. Sememtraa Robin mengikutinya dari belakang.
"Aku lapar, apa kau bisa buatkan aku sesuatu untuk mengganjal perutku ini?"
"Kau ini ... Bukankah di pestamu banyak makanan kenapa kau minta makan kemari."
"Ayolah, kau ini pelit sekali," ujar Robin yang mengikuti Arlene yang masuk ke dalam rumah.
Terlihat Alleyah yang tengah bermain dengan pengasuhnya yang sengaja di sewa oleh Robin untuk menjaga Alleyah selama Arlene bekerja.
"Halo anak manis? Apakabar mu sayang?" sapa Robin pada Alleyah. "Oh ya Sus .. Hari ini Sus boleh setengah hari karena aku akan membantu menjaga Alleyah dan tidak akan pergi kemana mana lagi setelah ini." seloroh Robin pada pengasuh Alleyah.
"Hei ... Kau bicara apa?' celetuk Arlene yang menyembulkan kepalnya di sela pintu kamar.
__ADS_1
Robin terkekeh, "Tidak apa apa, biarkan suster pengasuh pulang lebih awal .. Biarkan dia beristirahat, oke Sus?"
Suster pengasuh itu hanya menatap ke arah Arlene seolah menunggu persetujuannya.
"Baiklah ... kau bosnya!" ujar Arlene yang kembali menutup pintu kamar dan menggeruru didalam kamarnya.
Robin todak ingin membuat fikiran Arlene terus memikirkan Dean hngga dia membuatnya terus sibuk, selain dia juga minta di buatkan makanan, dia juga membantu menjaga Alleyah yang kini sudah beerumur hamir 3 tahun. Setelah pengasuh bayi pamit pulang, keduanya hanya diam dan diam saja, hanya suara Alleyah yang terdengar berceloteh tidak jelas.
"Bagaimana kalau kita jalan jalan, kita bawa Ley ke mall atau taman agar dia tidak bosan?"
Arlene yang membawa sepiring nasi goreng di dapur pun meletakkan piring dengan agak kasar.
"Kau ini sengaja ya? Bukankah kau ingin makan di sini kenapa sekarang kau malah ingin jalan jalan."
"Ley .. Ibuu sangat galak." cicit Robin setegah berbisik pada Alleyah.
Pluk!
Arlene melemparkan bantal sofa padanya dengan kesal, membuat putrinya tertawa melihatnya terlebih Robin berpura pura meringis.
"Robin!"
Sepertinya rencana Robin membuat Arlene tidak terus memikirkan Dean berhasil, dan itu tidak hanya menenangkan namun juga sangat menyenangkan.
Nama Leyka memang sengaja dia pilih dari nama Alleyah, putri lucu yang tidak mengerti apa apa dan harus terlibat urusan orang dewasa.
Alleyah mengangguk setuju, anak kecil berusia hampir 3 tahun itu menyimpan mainannya dan segera memeluk kaki Arlene.
"Mama ... Jangan malah malah sam om Obin." ujarnya dengan pengucapan kata yang masih kurang jelas. "Ya ... Ya ... mam ... Jalan jalan.. Sana .. " selorohnya lagi menujuk kearah pintu keluar.
Arlene mendengus kecil, menatap Robin dengan sinis. "Habiskan makananmu lebih dulu Robin!"
"Siap mama!" ujar Robin yang menaik turunkan kedua alisnya pada bocah yang masih memeluk kaki ibunya. Dan membuat Alleyah akhirnya tertawa riang.
Robin memang baik, terlebih setelah sekian lama semakin mengenalnya, dia yang dulu so ikut campur urusan Dean dan terlihat sangat tidak menyukainya memiliki hati yang tulus, bahkan dia tidak seperti Dean yang kadang berubah ubah, dia sangat pengertian dan juga baik hati.
Namun ternyata itu saja tidak cukup. Perhatian apapun itu tetap saja itu tidak membuat Arlene luluh setelah tahu perasaan pria dengan rahang tegas itu.
__ADS_1
"Bagaimana Mama Arlene ... Kau mau kan?"
"Mau ma ... Mau!" cetus putri semata wayangnya itu.
Setelah bersiap siap sebentar dan menungu Robin menghabiskan makanan yang dia minta akhirnya mereka bertiga keluar dari rumah dan masuk kedalam mobil milik Robin.
Pria itu membukakaan pintu untuk Arlene yang memapah Alleyah yang baru bisa berjalan dengan lancar itu. Robin terus menatap ke arah Arlene seolah ingin tahu bagaimana perasaannya kini.
"Sudah aku bilang aku tidak apa apa Robin, kau ini kenapa? Aku hanya tidak menyangka akan bertemu secepat ini dengan Dean, hidupku sudah tenang sebeum bertemu dengannya, tapi sekarang aku seperti buronan lagi.
"Apa itu artinya kau masih memiliki perasaan lebih untuknya Arlene," cicit Robin ynag menginjak pedal gas dan kendarannya melaju dari sana.
Arlebe terdiam. Itu benar, bahkan dalam lubuk hatinya yang dalam Arlene merindukan sosok itu, dia yang terkadang terlihat tidak peduli dan menyebalkan, namun bisa juga menjadi pria lembut dan menyenangkan,.. Aneh bukan .. Harusnya dia sudah benar benar melupakan pria yang bahkan tidak bisa tegas dan memutuskan.
Dia juga ingat semua ucapannya terlebih saat tadi dimans Dean menciumnya dengan paksa.
"Jangan terus melamun lagi!?" ujar robin, "Apa yang Dean katakan sampai membuat kau melamun lagi seperti ini. Apa dia mengatakan jika dia mencintaimu dan hatimu lemah mendengarnya."
"Stop Robin, aku tidak ingin membicarakannya!"
"Kenapa Arlene .. Kenapa kau naif sekali dan tidak bisa melupakan pria itu," ujar Robin dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.
"Maaf aku tidak bisa menahan diriku sendiri Arlene, aku tahu itu bukan hakku melarangmu. Tapi kau sudah berjanji tidak akan merubah keputusanmu terlebih pada pria yang bahkan tidak berusaha mengejarmu, dia itu plin plan dan pecundang, dia tidak peduli tentang kebahagianmu." kata Robim yang terus menatap ruas jalan.
"Robin ... Berhenti membahasnya! Aku mohon, aku memang tidak akan menarik ucapanku lagi, tapi aku juga tidak bisa mengatur perasaanku ini Robin, Jujur aku bingung dengan semua ini. Dia bahkan tidak pernah sekalipun mengatakan dia mecintaiku Robin, tidak, tapi ini hanya tentang kebodohanku saja!"
Tiba tiba saja Robin menepikan mobilnyya di tepi jalan, dia juga mematikan mesin mobil dan menghadap ke arah Arlene. "Kalau begitu, lupakan dia dan menikahlah denganku. Aku bisa membahagiakan dirimu dibanding pria pengecut itu, aku juga akan menjagamu dan juga Alleyah. Menikahklah denganku Arlene .. Kau tahu bagaimana perasaanku padamu bukan?"
Arlene terdiam, semua ucapan Robin berlarian di dalam kepalanya. namun dia tidak berani menatap kearah Robin yang menatapnya dengan intens.
"Aku tahu waktunya tidak tepat, tapi aku juga tidak mau membuatmu bingung, aku juga tidak mau Dean kembali datang dan membuatmu lemah lagi, jadi mari kita menikah aku. Aku akan mengurusmu dan Alleyah dengan baik!"
.
.
Belum tahu othor bakal ngetik berapa hari ini. Yang pasti like dan komen jangan lupa yaa....
__ADS_1