
"Kau berengsekk! Kau jadi aneh semenjak dari pesta Robin! Apa ini ada hubungannya dengan wanita yang terus kau tatap itu? Leyka?" Sentak Alexa marah, sebagai wanita yang hanya menduga dan dugaannya tepat sekali.
Dean tertawa seraya menggelengkan kepalanya. "Bukan ... Bukan dia!"
"Bohong! Kau tidak bisa seperti ini padaku Dean. Kau berbohong selama ini, aku berusaha menjaga hati dan fkiranku hanya karena mu, aku berjuang mati matian bekerja di luar negeri dan kau berselingkuh di belakangku!"
"Ya aku memang jahat, tapi aku tidak berselingkuh, dia menolak semuanya. Dan aku hanya memanfaatkan kepolosan Arlene demi kepentinganku. Demi kamu ... aku melakukan semuanya untukmu bahkan berpura pura!" ujarnya lirih, lalu menghempaskan bokongnya di tepi ranjang. "Semua ini ku lakukan hanya untukmu Alexa!"
Alexa mengerjapkan kedua matanya. "Untukku? Apa yang kau maksud?"
Dengan lancar dan tanpa basa basi Dean menceritakannya secara gamplang perihal rencananya sejak awal, bahkan pertemuan pertama dan keterlibatan Arlene yang membantunya demi kelancaran rencananya. Dia juga mengatakan tanpa ada yang terlewat, bagaimana sejak awal dia melakukannya demi kelangsungan hubungan mereka.
Alexa hanya tahu jika Dean di jodohkan saja, dia tahu sosok Selena bahkan sepak terjangnya di dunia permodelan, dia juga yang menyarankan agar Dean membatalkan pertunangan bagaimana pun caranya, tapi dia tidak tau jika cara yang dipakai Dean cukup konyol. Menyuruh wanita lain berpura pura sebagai istrinya agar terhindar dari perjodohan namun semua gagal total. Dan kali ini Dean merasa dirinya yang bermasalah karena telah jatuh hati pada wanita itu.
Kekecewaan terlihat jelas di wajah Alexa setelah mendengar kejujuran Dean yang menyakitkan walau dia yakin Dean berkata jujur karena pengaruh minuman keras.
Jika dia sudah sadar, mugkin dia akan melupakannya dan bersikap seolah tidak ada apa apa. Benar kata orang orang, pengaruh alkohol hanya akan membuat seseorang berkata jujur saja, dan Alexa terperangah setelah mendengar semuanya. Sosok Arlene yang diceritakannya membuatnya semakin penasaran saja.
Bruk!
Tubuh Dean akhirnya terhempas di atas ranjang, dia sama tidak sadarkan diri akibat terlalu banyak minum, sementara Alexa menatapnya tajam bahkan mengepalkan tangan karena kesal.
"Dean, kau membuatku muak!"
Gadis tinggi semampai itu pun berlalu pergi dari unit milik calon suaminya itu, dia sungguh kesal dan juga marah karena hubungan yang semula terjalin baik baik saja harus hancur oleh kehadiran wanita bernama Arlene yang baru saja muncul.
Namun dia juga tidak tahu seperti apa sosok Arlene yang membuat kekasihnya itu memutuskan hubungan mereka dalam keadaan mabuk.
"Mungkin selama ini Dean hanya berusaha menahan diri agar tidak memutuskan hubungan denganku, sampai saat dia mabuk dan mengatakan semuanya padaku. Kau memang brengsek Dean!" ujarnya denga terus berjalan keluar, sesekali dia hanya menyusut air yang tiba tiba membuat matanya terasa perih.
Alexa melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, walaupun dia tidak tahu tujuan kepergiannya kali ini. Sampai dia memutuskan pergi ke klub malam. Model internasional yang baru bisa mengambil izin bekerja selama tiga hari itu memasuki sebuah klub malam yang cukup terkenal, tempat yang menjadi favoritenya dulu sebelum bertemu Dean.
"Wah wah ... Siapa yang datang kemari?"
Alexa menoleh ke arah suara, sosok pria yang duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri dengan rambut yng sedikit berantakan.
__ADS_1
"Robin? Sedang apa kau di sini?" ujarnya dengan menghampirinya lalu duduk di kursi didepannya.
Robin tertawa, "Aku sedang bahagia, kausendiri?"
"Aneh, orang lain yang datang kemari itu mencari hiburan karena tengah menghadapi banyak masalah hidup, kenapa kau sebaliknya?"
"Siapa kau yang berani mengatur hidupku. Hm?"
Alexa berdecih, dengan bangkit dari duduknya. "Aku bukan siapa siapa, sudahlah percuma bicara denganmu, kau hanya menambah masalah saja." Gadis itu berjalan menuju meja bartenter lalu memesan minuman yang dia inginkan.
Robin mengulas senyuman, mengambil gelas minuman miliknya lalu menyusulnya dengan duduk disamping Alexa.
"Berikan apa yang ia inginkan, masukkan dalam tagihanku!" serunya pada seorang bartenter yang sedang meracik minuman pesanan Alexa.
Gadis itu mendelik ke arahnya dengan tajam.
"Kau fikir aku tidak mampu membayar minumanku sendiri Robin?"
"Tidak ... Aku hanya ingin mentraktirmu karena aku sedang bahagia, aku ingin berbagi sedikit kebahagianku denganmu yang terlihat kusut,"
Robin tertawa, "Apa sikapmu manis hanya di depan Dean saja. Di depanku kau memperlihatkan wujud aslimu Alexandera?"
"Ayolah Robin, pergi lah dan jangan ganggu aku, kau tahu hari ini hari yang paling menyebalkan, dan jangan bawa bawa Dean di sini, aku sedang marah padanya."
"Kenapa. Kau bertengkar dengan pria pengecut itu?" tukas Robin yang berhasil membuat Alexa menoleh ke arahnya lagi.
"Kenapa kau bicara seperti itu. Kau tahu sesuatu, seperti nya akau tidak suka dengan Dean. Apa kalian ada masalah?"
Robin menggelengkan kepalanya. Dia tidak mungkin menceritakan masalah pada seorang wanita yang menjadi kekasih dari rivalnya, yang ada semuanya bisa kacau kembali.
"Tidak ada. Kau tahu kami bahkan tidak pernah akur sejak lama, kami ini selalu saingan dalam hal apapun. Kau ingat bukan, bukan sekali dua kali aku terlibat masalah dengannya dan anehnya, seolah kami ini selalu harus bersaing hingga sekarang." terang Robin dengan menenggak kembali minuman di dalam gelas miliknya.
Rasa penasaran kemudian muncul dengan begitu hebat, Alexa hanya memutar mutarkan gelas miliknya seraya terus menatap Robin.
"Ayo lah Alexa aku tahu aku ini menarik, bahkan lebih tampan dibandingkan Dean, tapi maaf, aku tidak akan tergoda oleh mu. Aku akan segera menikah dalam waktu dekat ini?'
__ADS_1
Alexa tersentak, dia bahkan tidak berusaha menggoda pria yang terus mengumbar senyuman itu, dia hanya penasaran dengan semua ucapan Robin.
"Kau sudah lama mengenal Leyka?" Tanyanya tiba tiba.
"Cukup lumayan, kenapa kau iri padanya karena dia lebih segalanya darimu? Dia pintar, dia cantik, menarik, seksi dan lembut.
"Aku iri padanya? Oh come on Robin, yang benar saja. Aku hanya penasaran dengan wanita itu, kau fikir dia lebih segalanya dariku?" ujarnya dengan mendengus kasar.
"Dia calon istriku!?"
"Benarkah?"
Robin mengangguk dengan pasti dan keyakinan seratus persen. "Kau tidak percaya?"
"Entahlah, kepercayaanku saat ini tengah terganggu, Dean mengatakan jika dia menyukai seseorang dan ingin putus denganku. Kau tahu itu sangat menyakitan!" sahutnya dengan menenggak minuman miliknya.
Robin terperangah dengan ucapan Alexa. Tidak percaya Dean mengatakan hal itu pada kekasihnya. Dan itu akan mengancam hubungannya dengan Arlene yang baru saja terjalin.
"Kau tau siapa wanita yang Dean maksud?"
Alexa menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu, tapi dia menyebutkan satu nama padaku dan aku penasaran dengan nama itu."
"Siapa?" tanya Robin sekalipum dia sudah tahu jawabannya pasti Arlene.
"Arlene! Kau tahu siapa dia. Ia pasti berada di kota xx."
Benar dugaan Robin, Dean sudah mengakuinya sekarang dan itu benar benar ancaman baginya.
"Arlene ... Aku tidak tahu siapa dia!"
"Baiklah .. Aku akan bertanya pada orang lain saja, kau masih punya kontak Sorra kan? Aku bertanya padanya saja, dia pasti tahu."
Dengan cepat Robin mencegahnya dengan menggenggam tangan Alexa. Hingga dia tersentak kaget,
"Jangan. Jangan lakukan hal itu!"
__ADS_1