
Dean terdiam mendengarnya, pertanyaan dari Alleyah yang bertanya seperti itu membuatnya bisu seketika, lidahnya kelu dengan tenggorokan yang tercekat. Dia hanya bisa menatap gadis kecil yang kini tengah terlihat ingin pergi ke kamar mandi.
Gadis kecil itu melangkah ke kamar mandi dan Dean membuntutinya sampai ke pintu kamar mandi.
"Stop, jangan ikuti aku. Aku sudah besar dan bisa melakukannya sendiri!" ujarnya dengan tangan mungil yang diangkat ke arah Dean.
"Oke. Kau yakin bisa sendiri?"
"Yes ... Kenapa orang dewasa selalu tidak memberikan kepercayaan pada anak anak!"
"Kau bilang aku ayahmu bukan?"
"Ya ... Hanya bertanya saja, tapi aku masih tidak yakin, kau tidak pernah pulang dan menemani aku bermain. Its so hurt!" ujarnya dengan membantingkan pintu kamar mandi.
"Astaga!" gumam Dean yang tidak percaya anak kecil yang dulu hanya bisa memanggil dirinya papa itu kini pintar bicara.
Dean pun hanya bisa menunggu Alleyah di depan kamar mandi. Dia berjalan mondar mandir dengan gelisah karena takut anak kecil itu terjatuh atau melakukan hal hal yang kerap dilakukan anak anak.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka, Alleyah keluar dengan wajah yang terlihat segar, sepertinya dia memang diajarkan untuk mandiri sejak dini. Harum pasta gigi tercium dengan sedikit sisa di ujung bibirnya.
"Anak Papa hebat, sudah tidak perlu bantuan saat di kamara mandi . Hm?"
"Yess .. Of course, Mama sekarang harus bekerja mencari uang untuk membeli susu dan kebutuhanku, so aku harus bantu Mama," ujarnya yang kini melangkahkan kaki kscilnya ke arah dapur.
"Sudah aku katakan i can do anything, but semua orang dewasa tidak memberiku kepercayaan." ujarnya dengan terang terangan.
kini dia mengambil gelas berbentuk lion miliknya yang sempat dia tunjukan tadi, mengisinya dengan tiga sendok susu bubuk dan air hangat.
Sementar Dean masih terperangah dengan apa yang dia lihat, Benar benar anak yang luar biasa, Arlene mendidik anak keci itu dengan sangat baik. Batin Dean bicara dengan terus menatap Alleyah yang sibuk menghitung putaran sendok dalam gelas berisi susu yang di buatnya.
"Satu, dua, lima, empat ... Eh aku salah menghitung!" celotehnya tanpa peduli apa yang kini dirasakan Dean.
__ADS_1
Gadis itu kini menoleh lagi ke arahnya.
"I'm confused with adults these days, they never ask me how I feel. I hate adults!"
"Kenapa kau bicara seperti itu Alleyah? Semua orang menyayangimu dan menginginkan yang terbaik. Terlebih ibumu!" sahut Dean yang kini memilih menarik kursi dan duduk.
"Ya ... Itu benar, but aku selalu melihat Mama sedih. Aku ingin ask to her, tapi aku tidak berani!" tukasnya lagi yang terlihat seperti orang dewasa.
"Mamamu sedih?"
Alleyah turun dari kursi, menggeser gelas berisi susu ke hadapan Dean. Lalu dia mengambil botol susu miliknya lalu meminumnya sendiri.
"Ya ... Aku sempat beberapa kali melihat Mama sedih, dan do you know what. Ini rahasia ya ... Aku selalu pura pura tidur tapi telingaku mendengar." ujarnya lagi dengan menunjuk telinganya sendiri. "Mama akan menikahi uncle Robin!" ujarnya lagi.
Dean yang tengah menenggak susu buatan Alleyah tentu saja terperanjat kaget, bahkan dia hampir tersedak dan gelas yang masih menempel di bibirnya nyaris tumpah.
"Apa?"
"Hm ... Harusnya kalau kau my Dad, kau tahu itu!"
"Ya ... Aku ayahmu Alleyah ... Akan selalu jadi ayahmu, jadi jangan pernah menggantikan aku dengan orang lain sekalipun itu Robin!" Ujarnya lalu bangkit dari duduknya.
Dia berjalan ke arah kamar dimana Arlene tanpa sengaja ketiduran akibat kelelahan. Dengan sekuat tenaga Dean membukanya hingga pintu itu terbuka lebar.
Brak!
"Kau tidak mungkin melakukan hal ini Arlene, tidak mungkin kau menerima orang lain tanpa cinta!" bentaknya pada Arlene yang saat ini terperanjat bangun karena kaget.
"Dean. Apa yang kau lakukan? Kenapa kau masuk begitu saja ke dalam kamarku." ujarnya dengan mengerjapkan kedua matanya mencari Alleyah. "Mana putriku Dean?"
"Jangan berkilah Arlene, katakan saja apa yang Alleyah katakan itu tidak benar." sentaknya lagi.
__ADS_1
"Dean .. . Apa kau bicarakan bukankah aku sudah menyuruhmu pergi dari sini, kenapa kau masih ada di sini dan mencecarku seolah kau paling berhak! Ingat Dean ... tidak ada apa apa diantara kita, kita tidak ada hubungan dan kau tidak berhak mengatur hidupku!" ujar Arlene dengan kedua mata yang membola sempuna, dia terlihat marah dan sangat kesal dengan kelancangan yang di lakukan Dean.
"Arlene ... Kau tidak tahu seperti apa Robin itu. Dia itu brengsekk! Tidak pantas untukmu."
"Lalu siapa yang pantas. Kau? Bukankah kau sama aja Dean ... Kau juga brengsekk!"
"Kau dengar Arlene. Itu semua tidak akan berhasil, kau dan Robin?" ujarnya dengan kedua alis yang mengernyit. "lebih baik kau fikirkan lagi."
Arlene terlihat menghela nafas panjang, dengan memijit keningnya yang terasa berdenyut, semalaman dia tidak tidur karena pria yang kini tengah emosi itu. Melihat wanita juga. Dean menghampirinya lebih dekat.
"Kau tidak apa apa kan?"
"Pergilah Dean, jangan menggangguku lagi. Ini juga tidak akan berhasil. Kau hanya akan membuat masalah di hidupku semakin rumit!" ujarnya menohok.
Namun Dean tidak bergeming, dia justru merengkuh kedua bahunya dengan menatapnya dengan lekat. "Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan Robin ... tidak akan Arlene, kau hanya untukku dan akan menikah dengan ku saja!"
Arene menepiskan tangannya dengan kasar. "Jangan gila kau Dean, kau fikir kau ini siapa? Pergilah sekarang juga."
Dean mengelengkan kepalanya, dengan terus menatap Arlene dalam dalam, dua manik hitamnya terlihat nanar dan meneduhkan. Untuk sepersekian detik mereka hanya saling menatap dengan penuh cinta namun juga amarah yang tidak luput dari keduanya.
"Dengar De ____ eempphh..."
Sebelum Arlene menuntaskan ucapannya, Dean sudah lebih dulu melumaat bibirnya dengan lembut, menyambar bibir tipis Arlene dan menyelusupkan lidahnya dengan paksa. Dean pun tidak memberi ruang gerak baginya, membuat Arlene kesulitan karena tubuh Dean menghimpitnya dengan erat.
ciuman yang lambat laun semakin lembut itu membuat Arlene terlena, hingga Dean semakin leluasa memagut bibirnya serta lidahnya yang bermain main di dalam sana. sampai terdengar suara decakan yang membuat keduanya semakin terbuai. Arlene lagi lagi tidak kuasa menahan drinya, sekian lama bertahan namun pada akhirnya dia kalah juga.
"Please Arlene ... Aku tahu kau juga memiliki perasaan yang sama dengan ku, jangan pernah lakukan itu terlebih dengan Robin." ujar Dean dengan lirih, menempelkan dahi mereka dengan deru nafas yang masing terasa terengah engah.
"Dean .. Aku!"
"Jangan Arlene ... jangan." ujarnya dengan mendekap tubuhnya semakin erat. "Aku tidak tahu apa yang terjadi jika Kau dan Robin ... aku tidak bisa membayangkannya. Kembalilah padaku Arlene."
__ADS_1
Kini Arlene hanya bisa terdiam, haruskah dia mengingkari janjinya pada Robin dan kembali pada pria yang kerap mengecewakannya. Fikiran itu semakin berseliweran dalam benaknya,
"Dean .. Aku mohon jangan seperti ini. Biarkan ini terus seperti yang seharusnya, tidak ada cerita antara kau dan aku Dean! Sekuat apa kau berusaha, semua akan sia sia!"