Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.88


__ADS_3

"Zoya. Sedang apa di sini? Apa Dean yang menyuruhmu untuk datang kemari dan menemuiku agar aku luluh padanya?"


"Kaka ipar. kenapa bicara seperti itu, aku kesini karena memang kak Dean yang memberitahuku tapi bukan karena agar membuat kakak ipar luluh pada kak Dean, aku tidak ..."


"Jangan bohong Zoya. Katakan saja!"


"Tidak kaka ipar, aku kesini karena memang aku mencemaskan kakak saja, aku mencarimu kemana mana dan aku cemas sesuatu yang buruk terjadi padamu. Bukan kah kau hilang tanpa kabar malam itu setelah aku meneleponmu padahal aku menyuruhmu untuk menunggu kami datang." terang Zoya dengan jelas. "Aku juga kemari hanya untuk memastikan kakak ipar baik baik saja, tapi responnya seperti itu." ujarnya lagi dengan wajah sedikit keewa.


Zoya menurunkan Alleyah dan berjalan ke arah pekarangan rumah. "Aku pergi kak!"


"Tunggu Zoya. Maafkan aku, aku hanya ..."


Zoya menoleh ke arahnya dengan tersenyum. "Tidak apa apa kak. Aku mengerti kok."


"Masuklah, aku akan membuatkan mu coklat panas." Zoya tentu saja mengumbar seyuman lebar saat Arlene menyuruhnya untuk masuk, dia kembali berjalan dengan menuntun tngan Alleyah.


"Apa kau tadi bermain dengan Papa Dean?" tanyanya.


Arlene mengangguk, "Tapi aku dan Mama meninggalkannya di sana. Mama marah besar."


Zoya pun menatap anak kecil disampingnya itu. "Marah? Pantas aja."


"Bukan pantas kak. Tapi marah .. Marah dan pantas kan beda jauh." cicitny lagi dengan menarik Zoya untuk masuk ke dalam rumah mengikuti Arlene.


"Maksudku... Hah!" Zoya terbeliak ke arahnya. "Kau ini pintar sekali ya."


Alleyah tersenyum saat di puji, hidungnya kembang kempis dengan mulut yang di majukan ke arah depan beberapa senti.

__ADS_1


"Ih .. semakin besar semakin menggemaskan."


"Iya dong. Siapa dulu ... Alleyah gitu lho!" ujarnya dengan bangga.


Arlene yang memperhatikan keduanya hanya menggelengkan kepalanya.


"Oh ya kaka ipar, ku dengar kau bekerja untuk kak Robin ya?"


Arlene menganggukkan kepalanya. "Iya ... Dia yang membantuku malam itu Zoya!"


"Ya... Aku tahu hal itu dari kak Dean juga, tapi aku harap kak Arlene hati hati yah, kak Robin itu...."


"Apa Zoya?"


Dengan cepat Zoya mengeelengkan kepalanyaa, "Ah, Tidak, nanti kau juga tahu sendiri."


"Zoya .. Dean tidak menyuruhmu untuk bicara hal yang memprovokasi bukan?"


"Astaga Kakak ipar, kak Dean tidak melakukan hal seperti itu, memang dia yang memberitahukan semuanya padaku, tapi semata mata hanya agar aku berhenti mencarimu dan kak Dean tahu jika hanya akulah yang mengkhawatirkan kakak." tukas Zoya dengan lirih, terlihat wajahnya yang sedih saat mengatakannya dengan kedua manik berkaca kaca.


"Baiklah ... Aku percaya padamu juga karena hal itu, hanya kau yang bersikap baik padaku saat dulu Zoya. Mafakan aku karena masih meragukanmu." ujarnya dengan merengkuh bahu Zoya.


"Tidak apa apa kak, lagi pula itu sangat wajar karena kak Dean sering bikin Kakak kecewa kan?" cicit Zoya dengan membalas pelukan Arlene.


Tak lama kemudian terdengar deru mesin kendaraan terdengar berhenti tepat di depan rumah, seseorang keluar dari mobil dan langsung melihat mobil yang terparkir disana lebih dulu.


"Sayang ... Kau ada tamu hari ini?"

__ADS_1


Keduanya dikagetkan oleh Robin yang membuka pintu, pria itu masuk dan sedikit tersentak melihat Zoya.


"Oh rupanya kau tamunya. Apa kabar anak kecil?" ucapnya dengan mengacak pucuk rambut Zoya


Zoya menepiskan tangannya, dengan tatapan tidak suka terhadap Robin.


"Kak ipar aku pergi dulu ya. Terima kasih karena selama ini kakak baik baik saja!" ujarnya dengan memggenggam tangan Arlene. "Dan hati hati terhadap orang ini!" bisiknya kemudian.


Robin hanya berdiri menatapnya saja, untung saja dia tidak mendengar bisikan Zoya. Kalau tidak mungkin pria iti sudah marah.


"Sampai ketemu lagi nanti Zoya!" ucap Arlene yang menarik tubuh Zoya dan kembali memeluknya.


"Aku akan langsung pulang ke kota xx kak! Jadi aku harap kakak baik baik saja ya."


Arlene mengangguk lirih, dan mengantarkan Zoya smmpai pintu luar. Tak lama dia kembali masuk setelah memastikan mobil Zoya melaju pergi.


Grep!


"Sayang ... Aku merindukanmu!"


Arlene terkesiap karena Robin kini memeluk tubuhnya dari belakang juga mengecup tengkuknya dengan lembut dan membuatnya darahnya berdesir.


"Robin! Astaga ... Lepas! Kau tidak lihat ada Alleyah yang melihat kita."


"Itu karena aku sangat merindukanmu. Bagaimana dengan tadi. Apa ada yang tidak beres?"


Arlene yang risih berusaha melepaskan kembali tangan Robin yang membelit di pinggangnya.

__ADS_1


"Robin hentikan! Aku tidak mau Alleyah melihat kita!"


__ADS_2