
Tolonglah Arene, untuk kali ini percaya saja padaku!"
Arlene mendorong dada Dean yang terus memeluknya, hingga pelukan mereka kini terurai dan Dean mundur satu langkah.
"Maaf Dean, aku tidak bisa. Aku sudah menerima lamaran Robin dan kami akan menikah. Aku tidak bisa merubah keputusanku dengan mudah seperti yang kau. Dan jangan melakukan hal seperti ini lagi." ujar Arlene yang langsung berhambur keluar, menghindar dari Dean akan lebih baik untuknya.
"Mama ... Tell me what happen. Kau dan Papa berduaan di kamar tanpa mengajakku. Kalian orang dewasa memang selalu begitu!' ujar Alleyah yang berdecak dengan mulut penuh krim.
"Sayang ... Tidak ada yang terjadi pada Mama dan ..." Arlene menoleh pada Dean yang kini berdiri di ambang intu.
Pria itu seolah tidak rela jika Arlene meralat sebutan papa yang selam ini disematkan putri semata wayangnya terhadapnya.
"What wrong? Apa Mama tidak ingin bertemu Papa lagi, kenapa Papa baru pulang sekalang, apa Papa tidak sayang padaku? Apa Papa juga tidak sayang Mama."
"Alleyah .. kita ganti baju ya .. Sus akan segera datang dan Mama harus pergi kerja." ujar Arlene yang bingung harus menjawab apa.
Dean berjalan ke arah Alleyah, dia lantas berjongkok dengan satu lutut yang menumpu di lantai rumah.
"I love You and I love your Mam! Tell her Alleyah." ujarnya dengan mengelus rambut ikal miliknya.
Alleyah menoleh pada sang ibu yang berada tidak jauh darinya. "Aku yakin Mama mendengarnya, so ... Aku tidak perlu mengatakannya dua kali!"
Dean tersenyum, "Good girl!"
"Alleyah ... apa kau mendengar apa yang baru saja aku katakan?" tegasnya.
Alleyah merengut dengan wajah yang dia tekuk 90 derajat. Dean bangkit dan bisa melihat sendiri bagaimana seorang Arlene yang mendidik putrinya.
"Ijinkan hari ini bersama Alleyah, aku akan menjaganya dengan baik." desis Dean yang terus menatap Arlene, terlebih dibagian bibirnya yang sedikit membengkak karena ulahnya tadi.
__ADS_1
"No Dean .. Kau tidak berhak!"
"Yeee ... Aku ingin ikut Papa ... Aku ingin jalan jalan dan bolehkah aku mendapat es krim jumbo?"
Dean mengacak rambutnya dengan penuh kasih sayang. "Tentu Alle ...!"
Alleyah tersenyum namun dia tahu pada siapa seharusnya meminta ijin. Gadis kecil itu menatap ibu kandungnya. "Apakah aku bisa mendapatkannya Mam? Aku akan pulang ke kantor Mama .. boleh kan. Please?"
Arlene menatap putri kecilnya. Gadis itu memang pandai bicara, dia juga terlalu gampang untuk di taklukan terlebih oleh Dean yang sudah lama di kenalnya. Mesikipun saat itu Alleyah belum bisa bicara seperti sekarang, tapi memory anak sekecil itu sudah pasti tajam, dia bahkan ingat Dean walaupun sudah lama mereka tidak pernah bertemu.
"Aku akan jadi anak yang baik. Aku akan jadi anak yang menurut dan tidak akan membuat Mama angry." ujarnya dengan jari telunjuk dan juga jari tengah yang mengacung berbentuk huruf V.
Arlene akhirnya hanya bisa menghela nafas, lalu menoleh pada Dean yang kini tersenyum sumringah setelah di ijinkan membawa Alleyah.
"Kembalikan dia tepat waktu! Aku melakukan ini hanya untuk putriku dan jangan pernah berfikir aku akan berubah fikiran karena kau berhasil membuat Alleyah percaya padamu." ujar Arlene dengan tegas, tidak ada sedikitpun keraguan darinya, terlebih persoalan ini tidak akan dia bahas lagi.
"Aku tidak akan mengecewakanmu Arlene! Ayo Alle ... Kita pergi jalan jalan." ujarnya dengan mengulurkan tangan pada gadis kecil yang kini bersorak sorak bahagia.
Kejadian itu tentu saja bukan tanpa alasan. Mereka seolah sudah ditakdirkan. Namun entah takdir baik ataukah takdir buruk yang terjadi kedepannya.
"Don't worry Mama ... I will be fine!" ucap bocah cilik yang mengecup pipi Arlene secara tiba tiba.
Arlene tentu saja khawatir, tapi setelah melihat raut wajah putrinya yang bahagia juga wajah Dean yng juga cerah membuatnya sedikit tenang.
"Katakan pada Papa jika kau butuh sesuatu atau kau minta tolong untuk hubungi Mama segera ok. Jangan nakal dan menurutlah padanya."
"Alright Mam ... tapi bolehkah Mama beri Papa sarapan sandwich yang super lezat itu? Aku lihat Papa sick ... wajahnya pucat seperti vampire!" celetuknya membuat Dean terkekeh sementara Arlene terlihat berusaha menahan tawa.
"Oke .. Suruh Papa duduk dan Mama buatkan sandwich terlezat. Kau juga pasti mau kan .. Ayo ngaku." ujar Arlene yang mulai menggelitiki pinggang kecil Alleyah.
__ADS_1
Gadis kecil itu tertawa hingga terpingkal pingkal dan membuat hati Dean menghangat seketika. Rasanya dia berada di rumah kecil yang bahagia, harmonis, gelak tawa dan kebahagiaan yang belum pernah dia temukan selama hidup di mansion. Bahkan dia tidak pernah bisa tertawa seperti itu, hubungan antara ibuu dan ayahna pun tidak sedekat itu. Terlebih saat berhadapan dengan sang nenek yang super serius.
Tanpa sadar bibir Dean melengkung dengan tatapan berbinar binar saat membayangkan jika nanti dia benar benar menikahi Arlene dan juga seorang ayah dari anak yang terlampau pintar seperti Alleyah. Dan membayangkannya saja membuat dunianya yang selama ini abu abu tanpa kejelasan kini mulai terang hingga dia dapat menemukan jalan mana yang harus dia pilih ke depanya.
Aku serius dengan ucapanku Arlene, kali ini aku tahu apa yang aku inginkan. Kau dan juga Alleyah. Batin Dean.
Sementara itu sebuah teriakan panjang terdengar di dalam satu kamar, dimana Alexa terperanjat kaget saat terbangun dengsn posisi yang tidak masuk akal. Tubuhnya polos tanpa sehelai kain, juga sesosok pria dengan tangan yang melingkari pinggangnya.
"Arrgghhh! Kau siapa?" ujarnya mendooog bahu pria yang tengkurap di sampingnya hingga terlentang. Dan dia terhenyak saat meliht kenyataan yang kini terjadi.
"Robin! Apa yang kau lakukan?" seru nya dengan memukuli wajah Robin dengan menggunakan bantal. "Kau brengsekk ... Kau menjebakku semalam kan...kau melakukan apa, astaga ... Apa yang harus kita lakukan?" ujarnya lagi dengan histeris.
Sementara Robin kini mengerjap ngerjapkan matanya dengan serangan iba tiba dan suara wanita yang membuat telinganya nyaris sakit.
Tak kalah kagetnya dengan melihat kondisi kamar yang berantakan dengan seorang wanita yng kini berlari ke arah kamar mandi dengan menggulung tubuhnya dengan kain selimut.
"Alexa? Ujar Robin yang kini memukul dahinya sendiri. " Bodoh .. Apa yang kau lakukan Robin. Kau hanya mencari perkara saja."
tak berselang lama, Alexa keluar dari kamar madi degan wajah yang sulit diartikan, dia meemparan selimut yepat pada Robin yang tengh mengotak ngatik ponselnya dengan santai.
"Apa yang ka lakukan, apa kau tidak merasa bersalah atau bahkan tidak berdosa sedikitpun karena sudah menjebakku?"
"Dengar Alexa, ini bukan hal yang perlu di besar besarkan. Aku minta maaf tapi kita melakukannya suka sama suka, aku tidak pernah memaksamu!"
"Kau bohong!! Bagimana dengan Dean, astaga .. Aku bisa mati jika Dean tahu."
"Kau fikir hanya kau saja yang dalam masalah, aku juga begitu. Tenanglah kita akan aman jika kita berdua sama sama tutup mulut dan rahasiakan soal semalam. Anggap saja itu hadiah sebelum kita sama sam menikahi orang yang kita cintai" ujar Robin dengan yang beranjak dari ranjang dan melenggang masuk kedalam kamar mandi..
"Kau! Bagimana bisa berfikir semudah itu! Dasar berandaal licik!!" ujarnya dengan melemparkan satu benda ke arahnya, namun terlambat karena Robin sudah menutup pintu kamar mandi dan sepatu melayang mengenai pintu.
__ADS_1
"Heh ... Kau merusak rumahku!" serunya dari kamar mandi.
"Kau fikir aku peduli, ini rumah... Bukan mansion yang aku inginkan. Aku tidak akan berani melakukannya jika aku di mansion Dean. kau dengar itu berandal licik!"