
Dean menggelengkan kepalanya lirih, seolah menyuruhnya berhenti. Arlene melihat satu persatu orang yang tengah berada disana, yang melakukan hal yang sama bahkan sejak tadi.
Semua orang tampak elegan dan juga rapi, berbeda jauh dengan dirinya yang tidak peduli bahkan dengan mulut yang masih berminyak dan tentu saja masih lapar.
Wanita berambut coklat itu menghela nafas, susah sekali hidup orang kaya dengan banyak aturan, bahkan persoalan makan pun harus di atur, tapi tidak ada pilihan baginya untuk mundur saat ini, dia harus banyak meniru semuanya. Dari cara berbicara, berpakaian, berjalan, bahkan cara memasukkan makanan kedalam mulut yang menurutnya sangat lama.
Apa hidup mereka tidak tertekan, aturan aturan yang menyulitkan, pantas saja yang mereka ributkan hal hal yang berat saja, bukan hal hal remeh yang biasanya. Batinnya lagi lagi bicara.
Semua piring dan mangkuk sudah diangkut, tidak ada yang ingin menambah porsi seperti keinginannya, membuatnya lagi lagi menghela nafas dan hanya bisa menelan saliva saat ikan barramundi hilang dari pandangan.
"Setelah ini apa. Kenapa masih duduk disini?" desisnya pada Dean dan langsung mendapat sorotan dari Debora dan juga Sorra karena sejak tadi dia terus menempel terlalu dekat ďengan Dean.
"Kau akan tahu nanti." jaab Dean sesingkat singkatnya.
Dan benar saja, meskipun makan malam telah usai, dan meja makan telah kembali rapi dan juga bersih. Bergantianlah pelayan masuk, membawa cangkir cangkir teh yang indah dipandang. Menyajikannya di atas meja.
"Apa ini?"
"Setelah makan, kita akan minum teh bersama dan mengobrol." terang Dean, tentu saja dengan suara yang sangat pelan.
"Hah?"
Tidak ada satu pun yang bangkit dari tempatnya duduk, bahkan Selena dan ayahnya. Menunggu maid mengisi cangkir teh dengan aroma camomille yang disajikan dengan gula terpisah ataupun susu.
"Kak Dean bertemu dimana dengan Kakak ipar yang cantik ini?" tanya Zoya memecah keheningan.
Dean menatapnya, lalu menatap Arlene yang kini tersenyum menatapnya dengan kaku, mereka sama sama bingung menjawab pertanyaan dari Zoya.
Melihat hal itu kecurigaan Selena semakin kuat, keduanya justru terdiam lalu saling menatap seolah tengah mencari jawaban yang pas.
"Ayo ceritakan Dean ... Aku juga ingin tahu!" Celetuk Selena kemudian.
"Kami berdua sudah lama bertemu, tentu saja aku masih sangat ingat moment indah itu." Dean terlihat mencoba berpikir dengan senyuman yang tetap melengkung di bibirnya.
"Kita bertemu di kereta api sayang!" jawab Arlene lebih dulu,
__ADS_1
Dean yang langsung mengangguk pun membenarkannya. "Benar ... Kereta bawah tanah!"
"Kereta api dimana?" Selena semakin tertarik memancing keduanya. Sementara Zoya hanya mengangguk nganggukan kepalanya.
"Sydney."
"Darwin!"
Keduanya serempak menjawab namun dengan jawaban yang berbeda, membuatnya saling menatap lalu kemudian Arlene mencubit lengannya. "Kau lupa kan sayang."
"Maksudku saat aku menaiki kereta dari Sydney menuju Darwin dan melewati selatan Adelaide." ralat Dean dengan cepat yang disertai oleh anggukan dari Arlene. "Nah itu baru!"
"Wow ... pasti sangat menyenangkan bukan? Perjalanan gurun tandus lalu peternakan cow dan berakhir di padang rumput yang terhampar luas." Jawab Zoya dengan kedua tangan yang bergerak bebas.
Gadis itu sangat ekspresif dibanding yang lain, membuat Arlene sedikit tenang karena ada satu orang yang menganggapnya ada. Satu satunya diantara orang orang yang tidak peduli bahkan tidak melihatnya.
"Lalu siapa yang mengatakan cinta lebih dulu?"
Arlene maupun Dean saling menunjuk, lalu tertawa, "Dia yang terlebih dulu mengatakan cinta!"
"Tidak ...tidak ... kau yang lebih dulu sayang!"
Dean menendang kaki Arlene, menyuruhnya berhenti bicara saat melihat tatapan semua orang yang heran,
Sejak kapan Dean masuk perkampungan dan melihat wahana malam, dia CEO sibuk yang mengurus perusahaan yang berada di Sydney.
Semua orang yang duduk minum teh diam termangu, membuat Arlene terpaksa tertawa untuk menutupi kegugupan dirinya sendiri, sementara Dean ikut terkekeh.
"Maksudnya saat aku meninjau lokasi di daerah tersebut."
"Aaahh ... iya, maksudku juga begitu! Maklum ... sudah terlalu lama, jadi aku lupa lupa ingat!" Arlene kembali terkekeh, menambah pernyataan untuk memperjelas.
Debora serta Sorra hanya menatapnya tanpa ingin menimpali percakapan mereka, begitu juga Miranda yang tidak terlihat peduli cerita cucu laki laki dan istrinya dimana dan bagaimana mereka berdua bertemu.
Hanya Zoya yang antusias bertanya dan juga mendengar mereka bercerita, ditambah Selena yang sebenarnya hanya ingin memperjelas keraguannya.
__ADS_1
"Baiklah, karena kami baru saja sampai dan lelah. Kami ingin ke kamar dulu dan beristirahat!'
Dean bangkit dari duduknya, mengajak Arlene untuk mengikutinya berdiri lalu keduanya beranjak dan keluar dari ruang makan menuju ke kamar.
"Tidakkah ada yang aneh dengan mereka?" tanya Selena tiba-tiba.
"Kau jangan mengada-ngada Selena, kau hanya iri pada kak Dean lebih memilih kakak ipar dibandingmu, kakak ipar juga lebih lebih cantik darimu." tukas Zoya dengan beranjak pergi meninggalkan ruang makan.
Selena mendengus, dia menoleh pada sang ayah yang bahkan tidak mengeluarkan sepatah katapun, "Tapi aku lah tunangannya!" ucapnya dengan lirih, lalu menatap kearah Debora.
Wanita itu hanya mengambil nafas, "Maafkan perkataan Zoya, karena dia masih kecil!"
"Tidak apa-apa Tante aku bisa mengerti kok, hanya saja, bagaimana nasibku sekarang?"
Miranda bangkit dari duduknya, membuat Debora dan Sorra juga ikut bangkit dan saling menatap.
"Lebih baik kau pulang Selena, itu kita pikirkan nanti." ujarnya pada Selena, "Kau dan kau ... Masuklah ke kamar." ujarnya lagi pada Debora dan Sorra.
Miranda keluar dari ruangan makan, di ikuti oleh seseorang yang selalu menemaninya kemanapun dia pergi.
Melihat hal itu Selena semakin kesal, dia bahkan mencekal lengan Debora yang hendak melangkah keluar. "Kalau begitu aku dan papa pamit untuk pulang, tapi Tante janji akan membereskan semua kekacauan ini kan? Dean tetap tunanganku dan akan menikah denganku apapun yang terjadi."
"Tante akan bicara pada Dean besok pagi, tunggulah kabar dari Tante oke?"
Selena menghampiri Sorra, dengan memasang muka sedih lalu menggenggam kedua tangan Sorra.
"Tolong Sorra ... aku tidak mau berpisah dengan Dean, dari awal Dean adalah milikku! Dan akan tetap menjadi milikku kan?"
Sorra menoleh pada Ibunya, sementara yang ditoleh mengangguk, "Tante akan pastikan sayang, tidak ada yang akan menjadi menantu Tante selain dirimu Selena."
Sorra pun ikut menenangkannya setelah memastikan pada ibunya. Gadis itu dengan lembut mengelus lembut bahu Selena, "Aku akan memastikan wanita itu akan keluar dari mansion ini secepatnya!"
"Thanks Sorra ... you are the best!"
Keduanya pun berlalu, Selena dan Ayahnya kembali pulang malam itu juga dengan membawa kekecewaan, terlebih sang Ayah yang memang menyimpan harapan besar akan pernikahan putrinya.
__ADS_1
"Ayah kenapa diam saja dan tidak membantuku bicara pada Nenek Miranda tadi."
"Ayah percaya kau Nak, ku lihat kau dan calon ibu dan calon kakak iparmu bisa bekerja sama dengan baik. Mereka sama sepertimu."