Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.32


__ADS_3

"Kau tidak hanya menipuku, kau menipu semua orang termasuk wanita itu! Apa yang kau rencanakan Dean?"


Ucapan Miranda tajam, menghunus langsung tanpa ragu.


"Kau fikir aku tidak tahu hah? Kau ... Bodoh! Dan wanita itu ... Lebih bodoh dari mu." tukasnya lagi.


Lembar kertas perkawinan palsu yang dibuat olehnya di catatan sipil dengan nama Arlene yang tertera didalamnya, serta tanggal pembuatan dimana Dean asal saja mengisinya ikut bergetak saat tangan Dean yang memeganginya bergetar tidak karuan.


"Bahkan kau memalsukan dokumen yang kau pegang itu, apa yang tidak aku ketahui lagi Dean. Cinta ... Cinta seperti apa yang kau katakan. Aku bahkan tidak menyangkanya sama sekali." lirih Miranda dengan menggelengkan kepalanya.


"Nek ...! Aku bisa menjelaskannya."


"Apa yang hendak kau jelaskan, apa kau sengaja membawa wanita itu kemari agar nenek membatalkan pernikahanmu dengan Selena, dan setelah itu kau akan membuatnya seolah kau bercerai dengannya untuk kembali bersama wanita itu Dean? Begitu maksudmu?" Sentak Miranda dengan segala dugaannya.


Dean terdiam, itu memanglah benar, segala dugaan Miranda tepat sekali.


"Aku hanya perlu waktu satu tahun Nek ...! Batalkan pernikahanku dengan Selena karena aku___"


"Menunggu wanita yang ada di foto itu? Model internasional yang kini bekerja di luar negeri? Alexandra Timones. Benar bukan?"


Dean semakin terbeliak, tidak menyangka Miranda akan menyelidikinya sejauh ini, dan dia juga tidak mungkin dapat mengelak lagi.


"Alexa masih ada kontrak kerja selama 1 tahun. Dan aku menunggu dia kembali." jelasnya pada akhirnya.


"Sudahlah ... Kau tidak perlu mengatakan apa apa lagi. Pergilah!"


Untuk apa Miranda mendengarkan semua alasan Dean, dia sudah tahu semuanya bahkan alasan Dean membawa Arlene ke dalam mansion.


Dean menghela nafas, meremas kuat kertas bukti pernikahan palsu ditangannya lalu menjatuhkannya begitu saja. Dia juga tidak peduli foto foto dirinya yang tengah bersama Alexa berserakan, Nenek Miranda nyatanya sudah mengetahui semuanya.


"Inikah caramu sebagai seorang pria Dean?" cicit Miranda saat tangan Dean memegangi handle pintu.


Pria itu menoleh lagi ke arah Miranda, sementara orang yang ditoleh kini menatapnya dengan tatapan yang tidak dia mengerti.


Dean berjalan keluar, bahkan mengabaikan sapaan Li. Rencananya gagal total, apa yang dia rencanakan jauh jauh hari kini berantakan. Terutama hatinya yang mulai berubah haluan.


Drett

__ADS_1


Drett


Ponsel yang berada di dalam sakunya kini berdering, nomor yang di rahasiakan tanpa nama itu muncul dan mengagetkannya. Dean sendiri ragu untuk mengangkat sambungan telepon itu, dia hanya memandanginya sampai dering ponselnya berhenti dengan sendirinya.


Pria berlesung pipi itu kembali berjalan menuju eskavator, mengabaikan ponsel yang kini berdering kembali.


Dia menuju ke kamar Zoya yang berada di lantai tiga Mansion mewah itu, kamar yang paling ujung yang dulu merupakan kamarnya. Namun kini kamar itu di tinggali Zoya.


Dean masuk begitu saja kedalam kamar dan langsung menghampiri adik perempuannya yang berbuat ulah dan membuat semuanya semakin berantakan.


"Ini gara gara kau ya! Dasar nakal." ujarnya dengan menjewer telinga Zoya yang kala itu tengah merebahkan diri disofa dengan head phone yang dikenakannya.


"Aaaarrkk! Kak Dean?" pekiknya kesakitan dan langsung mendorong kakaknya. "Kenapa masuk tanpa mengetuk pintu dulu." ujarnya lagi dengan menggosok telinganya yang memerah.


"Apa perlu ku jawab? Setelah membuat Nenek memarahiku dan semua berantakan kau hanya mempersoalkan masalah pintu sialan itu? Hah?" sentaknya kembali menjewer telinga sang adik bungsu.


Zoya tergelak, namun juga meringis kesakitan, "Aku hanya iseng kak! Hanya ingin mengerjaimu,"


"Kau tahu apa akibat dari keisenganmu ini?"


"Ya dari pada Nenek marah marah terus, lebih baik bicara dari hati ke hati, nenek juga lama lama akan luluh dan menerima kakak ipar." terang Zoya dengan pemikirannya yang masih terlalu polos.


"Dasar nakal ... Kau fikir semudah itu?"


"Ya kan menurutku mudah, kau saja yang tidak bisa mengambil hati Nenek. Sama sama Egois."


Dean menghela nafas, mendudukkan pantatnya di samping Zoya, gadis itu menolehkan kepala ke arahnya.


"Sepertinya rencana ku gagal."


"Bukan hanya gagal. Kau malah membuatnya semakin berantakan."


"Memangnya kenapa?"


Dean menggelengkan kepala seraya bangkit dari duduknya serta berkacak pinggang ke arah Zoya. "Lupakan saja!"


Setelah itu dia melangkah keluar dari kamar Zoya, kembali turun kelantai dimana kamarnya sendiri berada.

__ADS_1


Baru saja masuk ke kamar, , Arlene lagsung memburunya dengan wajah yang terlihat hawatir,


"Bagaimana? Apa yang nenek katakan? Apa dia marah dan tetap pada keputusannya?" tanyanya memberondong.


Entah apa yang dikatakan Dean, yang jelas dia hanya menatap wajahnya saja dengan nanar. Wajah Arlene yang membuat tujuan awalnya sedikit berubah haluan itu. Yang membuatnya ragu dan membuatnya resah sepanjang hari.


"Dean? Bicaralah? Kenapa kau diam saja?"


"Sudahlah, semua akan baik baik saja, kau hanya akan mengikuti permainan ini sampai akhir, seperti yang aku katakan tadi. Percayalah Arlene." jawab Dean meyakinkan wanita didepannya, sementara da sendiri tengah tidak merasa yakin saat ini.


Dean masuk ke dalam kamar mandi, membuat Arlene menjadi heran sendiri, sikapnya berubah kembali dari sebelumnya yang menurutnya sangatlah manis dan juga hangat.


Ting


Notifikasi pada ponselnya maasuk, pesan dari seseorang yang membuat Arlene menghela nafas,


"Astaga ... Aku sampai lupa janjiku sendiri pada mereka! Bisa bisanya mereka mengajakku saat situasi seperti ini,' gumamnya saat Arlene membaca pesan dari Imelda yang mengajaknya bertemu.


"Apa aku harus mengatakannya pada Dean dan mengajaknya saat bertemu mereka agar tidak dicap sebagai pembual?"


Arlene terus bermonolog, keraguan dan keyakinan yang sama sama berada di tengah tengah fikirannya.


Pintu kamar mandi terbuka, Arlene langsung memburu Dean yang bahkan belum melangkahkan kakinya keluar.


"Dean? Apa kau bisa menemaniku siang ini?" ujarnya tanpa ragu.


Dean melangkahkah kaki dan Arlene mengikutinya. "Kau mau pergi berbelanja? Pergilah bersama Zoya. Aku akan memberimu uang nya nanti."


"Tidak ... Bukan berbelanja, tapi aku akan bertemu temanku dan dia ingin bertemu dengan suami dan putriku. Karena ... Karena waktu itu mereka sempat melihatku berbelanja." terangnya dengan jujur. "Mereka mengira aku membual karena barang belanjaanku banyak dan mereka ingin memastikannya."


Dean menatapnya sendu, itu jelas saja tidak mungkin


"Maaf aku tidak bisa Arlene, Pernikahan pura pura ini hanya sebatas di mansion ini, aku tidak mau sampai orang luar mengetahuinya."


"Tolonglah bantu aku sekali saja, bukankah sama saja, ini hanya sandiwara kan? lagipula ini hanya teman temanku." Arlene mengatakannya dengan menggigit sedikit bibirnya, sungguh berat mengatakan jika perasaan Dean juga terlihat pura pura.


"Maaf Arlene ... Aku tidak bisa membantumu!" jawabnya lesu, mengambil pakaian dari lemari begitu saja dan memakainya di depan Arlene.

__ADS_1


"Sekali saja Dean, aku janji kali ini saja!"


__ADS_2