
Mobil akhirnya menepi di sebuah jalanan di kota Perth, di depan sebuah apartemen yang cukup mewah, yang didepannya banyak ditumbuhi pohon pohon rindang yang sangat sejuk. Namun bagi Arlene itu semua tidaklah menenangkan, terlebih saat Arlene mendongakkan kepalanya untuk melihat bangunan tinggi di depan matanya.
Bangunan bergaya Eropa yang sudah pasti sangat mahal harganya. "Aku berubah fikiran Dean, ada baiknya jika aku pergi ketempat yang sesuai denganku saja!"
"Kenapa Arlene, bukankah aku sudah bilang aku yang akan mengurus semuanya untukmu?" Ujar Dean dengan menatap manik coklat Arlene yang meneduhkan.
"Aku tidak mau, lebih baik kita tidak lagi saling berurusan satu sama lain Dean."
"Apa yang kau khawatirkan Arlene, aku sudah menyiapkan semuanya sebagai bentuk tanggung jawabku padamu."
"Tanggung jawab? Untuk ...?" sela Arlene, "Kenapa kau harus bertanggung jawab padaku Dean."
Dean menghela nafas, "Aku memilih memberimu apartemen ini agar Alleyah terjamin."
"Dan aku tidak mau! Aku hanya ingin Apartemen yang biasa saja."
"Kau tidak usah khawatir masalah apapun, karena ini adalah apartemen milikku pribadi. Tidak akan ada yang akan mengusikmu dari sana, kau bisa memakainya selama kau mau Arlene."
Arlene menoleh lagi, "Justru itu, untuk apa lagi aku masih harus berhubungan denganmu termasuk menerima apartemen pribadimu sendiri untuk aku tinggali. Ayolah Dean ... Apa tujuanmu sebenarnya? Kau bisa melepaskanku sepenuhnya, aku tidak mau terus-terusan berurusan denganmu." Arlene menghela nafas. "Hubungan kontrak kerja kita sudah berakhir. Jadi apapun yang terjadi denganku ke depannya, Kau tidak perlu tahu." imbuhnya lagi dengan tegas.
Apapun yang direncanakan Dean, Arlene tidak mau peduli, untuk apa terus menerus terlibat dengan pria yang bahkan tidak bisa memegang ucapannya sendiri.
Arlene turun dari mobil, mengambil tas serta koper dari dalam bagasi dibantu oleh sang supir. Sementara Dean menyusulnya keluar dari mobil.
__ADS_1
"Dengar aku Arlene!"
"Kau bukan siapa siapaku Dean, untuk apa aku mendengarkanmu?" Arlene mengambil koper dari tangan Supir. "Terima kasih Pak!" cicitnya pada Supir.
"Karena aku memikirkanmu Arlene, memikirkan Alleyah juga."
"Tidak usah kau fikirkan Dean. Terima kasih, Aku tidak mau kamu memikirkanku. untuk apa ... kau hanya akan membuang-buang waktumu saja." tukas Arlene yang bahkan tidak ingin melihat wajah Dean.
Terlanjur kecewa karena terlalu berharap atau terlalu percaya ucapannya dan akhirnya patah hati. Mungkin itu yang di rasakan Arlene saat ini, dan memutuskan segala akses adalah yang terbaik. Dean saja tidak membuktikan ucapannya kala itu, menyuruhnya percaya dan menunggu. Tapi, kenyaataannya tujuannya adalah seorang wanita yang dia cintai.
Keduanya yang masih saling menatap itu terdiam, terlebih ucapan Arlene yang membuat Dean bungkam seribu bahasa.
"Aku sudah tidak mau berurusan denganmu lagi Dean! Tidakkah kau paham itu?" ucapnya lagi dengan suara lebih rendah dari sebelumnya.
"Seperti anak kecil? Apa maksudmu....? Untuk apa aku masih harus mendengarmu bicara Dean ... Untuk apa!" ujar Arlene yang melengos pergi, dia berjalan hingga berusaha mencegat taksi yang lewat.
Dean masih berusaha mengejarnya, dia tidak tahu kenapa melakukannya, yang jelas dia ingin melakukannya saja. "Arlene ... Apa kau tidak memikirkan Alleyah ... Dia saja belum sempat makan sejak dari Mansion."
Kali ini Arlene berdecak, "Sudah cukup Dean! Sudah cukup kau libatkan aku dalam urusanmu yang tidak jelas itu, kau hanya akan terus membuatku dalam situasi dimana aku terjebak di dalamnya, sementara kau hanya memikirkan wanita itu!"
Dean mencekal lengannya dengan kuat. "Apa kau sedang cemburu. Hm?"
"Hah ... Cemburu? Untuk apa aku cemburu padamu. Kau jelas bukan siapa-siapa,"
__ADS_1
"Kalau bukan karena cemburu. Terimalah pemberianku Arlene!"
Arlene merasa di pojokkan, jika dia tidak menerimanya, jelas akan terlihat kalau dia memang cemburu dan patah hati, tapi jika dia menerimanya tanpa masalah, juatru akan menjadi boomerang baginya sendiri!"
"Kenapa kau bersikeras seperti ini Dean? Kenapa kau tidak mau membiarkan aku hidup dengan caraku sendiri. Aku berTerima kasih karena kau sudah membantuku dan memberiku uang dengan nilai yang tidak aku perkirakan sebelumnya, kau juga sangat baik dengan membayar tagihan pesta sialan itu. Ke depannya kau tidak usah khawatir tentang apa-apa lagi Dean. Aku bisa mengurus hidupku dan Alleyah sendiri." tukasnya lagi.
"Kenapa kau keras kepala sekali Arlene! Aku hanya ingin membantu!"
"Aku keras kepala?"
"Ya ... Kau keras kepala untuk masalah tempat tinggal yang aku sudah siapkan, kau hanya perlu menerimanya saja Arlene!"
"Apa kau tidak paham juga Dean, kau yang memberi harapan, kau juga yang merusaknya. Kau harus ingat tujuanmu mengajakku berkerja sama, kau harus ingat seseorang telah menunggumu di sana. Lalu untuk apa lagi kau membantuku, apa tujuanmu Dean. Lebih baik kau fikirkan masa depanmu sendiri. Berbahagialah dengannya Dean, dan aku harap kita tidak perlu bertemu lagi!" tambah Arlene yang lagi lagi tidak berhenti menohoknya.
Dean mematung ditempatnya saat ini, entah bagaimana dia mencerna semua ucapan Arlene yang nyaris semua benar, tidak ada alasan apa apa, dia hanya ingin saja. Sekali lagi entah kenapa dia hanya ingin melakukannya saja.
Kau memang bodoh Dean, untuk hal sepele seperti ini saja kau tidak mampu menjawabnya. Batin Arlene.
Arlene terus melangkahkan kakinya berjalan menjauh dari Dean, dia tidak tahu kemana arah tujuannya saat ini yang pasti dia hanya tidak ingin terlibat lagi dengan pria berlesung pipit itu.
Dean lagi lagi tidak membiarkannya tenang, dia berlari dan menghentikan Arlene kembali.
"Tunggu Arlene!"
__ADS_1