Rasa Yang Mati

Rasa Yang Mati
Bab 10


__ADS_3

Sudah seminggu berada di kediaman mertuanya Alesa merasa seperti berada di neraka yang begitu kejam, dari pagi sampai malam ia tak henti-henti mengerjakan semua pekerjaan di rumah ini bahkan ia juga tak di izinkan untuk istirahat kecuali malam hari.


Habis sholat subuh ia harus langsung memasak untuk sarapan pagi, setelah sarapan ia harus membersihkan rumah yang berantakan belum lagi mencuci semua piring kotor dan mencuci seluruh pakaian anggota keluarga di rumah ini.


Meski memakai mesin cuci tetap saja ketika akan di jemur dan akan di angkat setelah bersih sangat banyak, apalagi anggota keluarga di rumah ini bukan hanya kedua mertuanya saja yang tinggal belum lagi kakak iparnya dengan suaminya beserta ketiga anaknya dan belum ia bersama suaminya.


Setiap kali ia mengeluh dan meminta izin untuk istirahat, pasti ibu mertuanya selalu berkata "Hamil besar itu harus banyak-banyak gerak, biar lahiran nanti bisa normal" benar apa yang di katakan ibu mertuanya namun setidaknya ada juga waktunya istirahat meski hanya satu jam untuk tidur siang.


"Kalau terus melamun kapan selesai masaknya, nanti ke buru pagi. Bapak mau pergi ke nelayan jadi butuh sarapan" kata Mas Ilham menegur Alesa yang tengah melamun di depan kulkas


"Iya Mas, aku hanya bingung mau bikin sarapan apa. Makanya dari tadi memperhatikan bahan-bahan yang ada di dalam kulkas" jawab Alesa membuat alasan


"Aii jangan terlalu banyak mikir, buat aja yang kamu bisa dan pastikan harus lezat" kata Mas Ilham kemudian berlalu begitu saja


Alesa pun langsung mengeluarkan beberapa sayuran dan bahan lain untuk di masak, tadi suaminya berkata masak apapun yang terpenting lezat dan Alesa pun mulai membersihkan sayur dan bahan-bahan yang telah di ambilnya dari dalam kulkas.


Kali ini Alesa ingin memasak sup ayam+bakso buat sarapan pagi ini, dengan cekatan Alesa meracik bahan-bahan tersebut kemudian mulai meletakan panci yang berisi sayur dan bahan lainnya di atas kompor dan menghidupkan kompor.


Tak butuh waktu lama masakan Alesa sudah mulai mateng, terlihat di dapur asap mengepul dan bau harum menyeruak ke seluruh penjuru rumah besar milik mertuanya itu membuat seluruh anggota keluarga di rumah tersebut yang tadi habis sholat subuh tidur lagi jadi langsung terbangun.

__ADS_1


Setelah mencicipi masakannya yang memang benar-benar pas di lidahnya, Alesa menyunggingkan senyuman sembari dalam hati ia berkata "Andai saja membunuh itu tidak dosa, mungkin sup ayam+bakso ini sudah aku tambahkan racun agar seluruh anggota di rumah ini mati" .


Matahari mulai naik sedikit demi sedikit, Alesa yang sudah selesai masak segera menata semua makanan yang di masaknya tadi di atas meja makan dan tak lupa juga menyiapkan alat makan seperti piring, sendok dan gelas buat minum beserta satu teko berukuran besar di letakkannya di tengah-tengah meja makan.


"Mas, makanannya udah aku siapkan di atas meja makan. Ayo makan aja yang lain" kata Alesa yang menghampiri suaminya yang tengah rebahan di sofa depan TV


"Iya, aku panggil yang lain dulu" jawab Mas Ilham langsung beranjak dan ke kamar anggota keluarganya satu persatu


Satu persatu anggota keluarga di rumah ini mulai keluar dari kamar mereka masing-masing, dan menuju kamar mandi hendak mencuci wajah mereka yang baru pada bangun dari tidur kemudian setelah itu duduk di kursi makan.


Masing-masing mereka mulai mengambil makanan sendiri-sendiri, berbeda dengan Alesa yang harus mengambilkan makanan untuk suaminya terlebih dahulu baru kemudian ia mengambil untuk diri sendiri.


"Ehh, siapa suruh duduk di situ. Jangan lupa, kamu makan harus di lantai gak boleh gabung disini" kata Kakak iparnya Alesa mencegah Alesa yang hendak duduk setelah mengambil makanan


Alesa pun membawa piring yang berisi makanan yang di ambilnya tadi, kemudian duduk di lantai yang tak jauh dari meja makan dan mulai menyantap makanannya dengan sangat lahap tanpa mempedulikan apapun yang ada di sekitarnya yang terpenting perutnya kenyang sebelum tenaganya terkuras lagi untuk melanjutkan pekerjaannya.


Begitu miris hidup Alesa berada di kediaman mertuanya, bahkan suaminya tampak acuh tak sedikit pun untuk membelanya atau mengasihaninya yang tengah hamil besar justru membenarkan semua perlakuan ibu mertuanya dan kakak iparnya kepadanya.


"Assalamualaikum" ucap Seseorang dari pintu utama langsung nyelonong masuk karena pintu terbuka lebar

__ADS_1


"Ehh, bungsunya ibu udah sampai. Sini gabung kita lagi sarapan" kata Ibu mertuanya Alesa menyambut kedatangan adik bungsu suaminya


Adik iparnya Alesa itu bukannya senang di sambut oleh sang ibu justru memasang wajah marah, karena pagi-pagi sudah melihat pemandangan yang tak mengenakan kemudian ia melangkahkan kakinya menuju ke arah Alesa.


"Apa-apaan ini maksudnya? ibu, bapak, mbak, mas" kata Adik iparnya Alesa marah sembari membantu Alesa untuk berdiri dan mendudukkan di salah satu kursi makan yang kosong


"Kenapa? kamu gak suka kita memperlakukan kakak iparmu seperti itu" kata Kakak iparnya Alesa berdiri menghadapi adik iparnya Alesa


"Kalian semua taukan Mbak Alesa itu menantu di rumah ini, kenapa di perlakukan seperti babu" kata Adik iparnya Alesa meninggikan suaranya di depan semua orang


"Terus mau kamu apa? Kami harus memperlakukan kakak iparmu seperti ratu begitu" tanya Kakak iparnya Alesa lagi yang mulai terpancing emosi


Alesa hanya bisa diam melihat perdebatan kedua saudara kandung itu, ia sebenarnya terharu karena ternyata salah satu anggota keluarga di rumah ini masih ada yang peduli dengannya meski datang terlambat setidaknya masih ada kesempatan buat ke depannya.


"Iya, seperti kalian semua memperlakukan mas Dimas seperti raja di rumah ini" jawab Adik iparnya Alesa


Ia merasa semua keluarganya benar-benar tak adil memperlakukan seorang menantu, Mas Dimas suami dari kakak perempuannya di perlakukan sangat baik sedangkan Mbak Alesa justru di perlakukan dengan tidak baik.


"Mas Ilham juga, kenapa gak memperlakukan Mbak Alesa dengan baik. Padahal Mbak Alesa ini sudah rela jauh dari keluarganya, tapi Mas malah memperlakukannya seperti ini" kata Adik iparnya Alesa memarahi suaminya Alesa

__ADS_1


"Alah, anak kecil tau apa. Gak usah ikut campur urusan orang dewasa, diam aja udah cukup" jawab Mas Ilham yang tak mau disalahkan


"Anak kecil, aku buka anak kecil lagi. Aku udah dewasa bahkan kalau ada laki-laki yang mau menikahi aku, tentu aku sudah bisa jadi istri. Dan kalian pernah mikir gak, bagaimana kalau aku yang di posisi mbak Alesa. Apa kalian rela, melihat aku di perlakukan seperti ini" kata Adik iparnya Alesa benar-benar marah dengan semua anggota keluarganya


__ADS_2