Rasa Yang Mati

Rasa Yang Mati
Bab 42


__ADS_3

"Ada apa, bu?" tanya Alesa kepada ibu mertuanya yang sudah membangunkannya


"Kamu pagi-pagi udah tidur aja, mentang-mentang gak ada kerjaan lagi. Masakin ibu mie sana" kata Ibu mertuanya Alesa nyerocos panjang lebar


"Ibu kan punya tangan, kenapa gak masak sendiri. Alesa lagi capek pengen istirahat" jawab Alesa menolak perintah ibu mertuanya karena ia memang masih sangat kelelahan


"Kamu berani bantah perintah ibu" sentak Ibu mertuanya Alesa sembari berkacak pinggang di hadapan Alesa


Oweng.....Oweng....Oweng


Suara teriakan ibu mertuanya mengejutkan bayi Azzam sehingga bayi Azzam terbangun dan menangis, Alesa yang melihat bayi Azzam menangis langsung di gendongnya bayi Azzam agar diam dan tak menangis lagi sembari mata Alesa menatap ibu mertuanya dengan tatapan tajam.


Sudah cukup Alesa selalu di tindas selama ini dan hanya diam saja, kali ini ia takkan membiarkan siapapun yang seenaknya memerintahnya baik itu ibu mertuanya mau pun suaminya karena ibu mertuanya dan suaminya juga sedikit pun tak mau membantunya hanya untuk menjaga bayi Azzam.


Ibu mertuanya yang kesal memilih pergi dari hadapan Alesa sembari menghentakkan kakinya berjalan menuju dapur, kemudian ibu mertuanya mau tak mau memasak mie instan sendiri di dapur karena Alesa benaran tak mau memasakannya.


Selama menunggu mie instan yang di masak ibu mertuanya mateng, ibu mertuanya terus mencaci maki Alesa dengan kata-kata yang tentunya sangat menyakitkan dan tak ketinggalan sumpah serapah yang keluar dari mulut ibu mertuanya itu untuk Alesa

__ADS_1


Alesa yang sebenarnya mendengar semua cacian dari ibu mertuanya dan sumpah serapah itu memilih diam tetap sibuk menenangkan bayi Azzam yang masih menangis, bayi Azzam tak mau diam sama sekali apalagi mendengar cacian dan sumpah serapah ibu mertuanya kepada Alesa yang begitu keras itu.


Bahkan bayi Azzam semakin mengencangkan tangisannya seperti sedang marah dan tau Bunda-nya sedang di caci maki serta di sumpahi, sehingga sepertinya bayi Azzam tak terima atas perilaku nenek-nya saat ini.


Para pembeli yang kebetulan di warung milik suaminya saat ini sedang ramai jadi mendengar mendengar semua cacian dan sumpah serapah yang keluar dari mulut ibu mertuanya Alesa, para pembeli yang selama ini sering sekali mendengar Alesa sering kenah marah oleh ibu mertuanya dan suaminya merasa kasihan dengan Alesa.


"Nak Ilham, kasihan tu mbak Alesa di caci maki dan di sumpahi ibunya nak Ilham. Di tegur kek ibunya" kata Ibu-ibu yang sedang belanja kepada suaminya Alesa


"Gak usah ikut campur urusan rumah tangga orang bu, kalau mau belanja ya belanja aja" jawab Mas Ilham yang akan tetap teguh membela ibu kandung sendiri


"Ihh awas aja loh nak Ilham, entar mbak Alesa lelah hati lelah pikiran menghadapi nak ilham dan ibu nak ilham baru tau rasa nantinya kalo mbak Alesa sudah minggat dari sini" kata Ibu-ibu itu lagu memperingati suaminya Alesa


Ibu-ibu itu pun langsung menyerahkan uang berwarna biru satu lembar lalu setelah mendapat kembalian, ibu-ibu itu segera pergi dan nyerocos menyumpahi suaminya Alesa yang kurang bersyukur mendapatkan istri sesabar dan sebaik Alesa.


Para pembeli yang lain memilih diam, apalagi mereka yang sudah pernah menegur suaminya Alesa namun justru dapat marahan dari suaminya Alesa jadi sekarang tak mau ikut campur lagi dan bagi para pembeli tersebut hal seperti ini mungkin sudah biasa di lihat mereka ketika sedang belanja ke warung milik suaminya Alesa.


Setelah satu persatu suaminya Alesa melayani para pembeli dan sekarang sudah tak ada lagi, suaminya Alesa segera meninggalkan warungnya dan melangkahkan kaki ke arah ruang TV dimana Alesa berada yang sedang menenangkan bayi Azzam yang masih menangis.

__ADS_1


"Alesa, ini semua gara-gara kamu. Coba kamu tadi mau memasakan ibu mie, gak bakal bayi Azzam kebangun dan sampe nangis gini" kata Mas Ilham menunjuk wajah Alesa dengan tatapan marah


"Gak Mas, gak ibu. Bisa gak ngertiin aku sedikit, aku dari semalam kurang tidur karena jagain bayi Azzam yang gak mau tidur. Terus pagi ini tadi aku kesiangan dan sibuk ngerjain pekerjaan rumah tapi kalian ada gak bantu aku hanya untuk menjaga bayi Azzam, tadi aku baru saja tidur tapi udah di ganggu ibu aja hanya karena minta masakin mie" kata Alesa panjang lebar mengeluarkan semua kekesalannya sembari terus mengendong bayi Azzam yang masih menangis


"Itu sudah tugas kamu sebagai ibu yang menjaga bayi Azzam, jadi harus siap segalanya. Kalau gak mau tanggung resiko kenapa kemarin mau hamil dan melahirkan" bentak Mas Ilham yang sudah sangat emosi


"Aku gak pernah menyesal hamil dan melahirkan bayi Azzam, tapi aku menyesal kenapa harus menikah dengan laki-laki yang tak tau tanggung jawabnya" kata Alesa yang kini ikut emosi mendengar perkataan suaminya barusan


"Apa jadi kamu menyesal menikah dengan aku, HAH" sentak Mas Ilham sembari mencengkeram bahu Alesa dengan begitu keras


Alesa yang kesakitan bahunya di cengkeram suaminya hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan keras sampai terasa bau anyir dan rasa asin di dalam mulutnya karena sepertinya bibir bawahnya jadi pecah saking ia terlalu keras menggigitnya, dan bersamaan itu suaminya baru melepaskan cengkeraman di bahu Alesa.


Kemudian suaminya pergi begitu saja dari hadapan Alesa dan memilih kembali ke depan untuk menjaga warung miliknya, sedangkan ibu mertuanya tersenyum mengejek Alesa setelah Alesa mendapat perlakuan yang kejam dari anak kesayangannya itu.


Air mata Alesa pun akhirnya tumpah, ia langsung terduduk lemas di lantai dengan posisi masih mengendong bayi Azzam yang kini sudah sedikit berkurang menangisnya dan tiba-tiba tangan bayi Azzam menggapai wajah Alesa seperti ingin berusaha menghapus air mata Alesa.


Alesa memeluk bayi Azzam dan menangis tanpa suara, batin dan raganya benar-benar tersisa oleh perilaku suaminya mau pun ibu mertuanya. Ia tak tau lagi harus bagaimana sudah berusaha menjadi istri serta menantu yang baik, namun tetap saja salah di mata suaminya maupun ibu mertuanya.

__ADS_1


"Kamu adalah penguat Bunda, semoga ketika dewasa kamu selalu meratukan istri dan anak-mu kelak dan kamu tak memiliki sifat seperti Ayah-mu" kata Alesa kemudian mendaratkan ciuman di pipi bayi Azzam dengan begitu dalam


Alesa baru sadar bahwa ia belum mandi pagi dari tadi, dan sekarang waktu sudah menunjukan pukul 10.00 pagi namun ia juga tak bisa untuk mandi saat ini apalagi ia harus menjaga bayi Azzam untuk meminta bantuan dengan suaminya atau pun ibu mertuanya tak kan ia lakukan lagi jika ujungnya akan seperti ini lagi.


__ADS_2