Rasa Yang Mati

Rasa Yang Mati
Bab 30


__ADS_3

Oweng....Oweng....Oweng


Tak henti-henti bayi Azzam terus menangis padahal Alesa sudah berusaha menenangkannya, bahkan Alesa juga sudah menyusui bayi Azzam tapi tetap saja bayi Azzam tak mau berhenti dan masih menangis sampai Alesa bingung harus melakukan apa.


"Ya ampun, Alesa....." bentak Mas Ilham keluar dari kamar dengan mata merah sembari meremas rambutnya karena kesal


"Kamu tu bisa gak sih ngurus bayi Azzam, ini udah jam berapa lihat. Tengah malam masih juga bayi Azzam menangis, coba tenangkan dari tadi. Menganggu tidur aku saja" kata Mas Ilham marah karena tidurnya terganggu apalagi ini sudah pukul 01.00 malam


"Aku juga gak tau Mas, bayi Azzam gak mau diam. Udah aku tenangkan dari tadi, bahkan sudah berapa kali aku susui tapi bayi Azzam masih menangis" kata Alesa yang mengendong bayi Azzam kesana kemari agar bayi Azzam bisa tenang


"Ahh alasan saja, bilang aja kalau gak bisa ngurus bayi Azzam" kata Mas Ilham kembali masuk kamar tanpa mau membantu Alesa menenangkan bayi Azzam


Alesa yang sebenarnya sudah mengantuk dari tadi dan sangat lelah karena seharian mengurus rumah serta menjaga warung tak bisa berbuat apa-apa, ia menatap nanar pintu kamar yang tertutup rapat tanpa di minta air matanya pun jatuh.


Padahal Alesa sangat berharap suaminya membantunya menenangkan bayi Azzam tapi nyatanya tak seperti yang ia harapkan, Alesa pun meletakkan bayi Azzam di kasur bayi membiarkan bayi Azzam menangis karena ia juga sudah sangat lelah terus mengendong bayi Azzam.


Oweng....Oweng....Oweng


Suara tangisan bayi Azzam semakin kencang bersamaan air mata Alesa terus keluar, Alesa terduduk sembari mengigit bibir bawahnya menahan tangisannya agar tak mengeluarkan suara sedikit pun dan ia hanya bisa menatap bayi Azzam yang masih menangis.


Saking lama menangis dan kemungkinan sudah kelelahan bayi Azzam pun akhirnya tertidur sembari menyedot jari jempolnya, Alesa pun mendekati bayi Azzam dan mulai menyusui bayi Azzam lagi namun air mata Alesa masih mengalir apalagi ketika menatap bayi Azzam.


"Maafkan Bunda nak" kata Alesa sembari mengelus pucuk kepala bayi Azzam

__ADS_1


Alesa berpikir sejenak mungkin saja bayi Azzam pengen di gendong oleh ayahnya makanya bayi Azzam menangis, apalagi sudah hampir satu minggu semenjak kepulangan sang ibu suaminya tak pernah lagi mengendong bayi Azzam atau pun mencium bayi Azzam.


Selesai menyusui bayi Azzam Alesa beranjak sebentar dan melangkahkan kaki ke arah dapur hendak mengambil air putih, ingin membasahi tenggorokannya yang terasa kering dari tadi akibat kelelahan menangkan bayi Azzam serta ia ikut menangis tadi.


Kemudian Alesa kembali ke ruang TV dan segera berbaring di atas kasur lantai yang ada di samping kasur bayi Azzam, rasa kantuk Alesa hilang seketika akibat ia tadi menangis padahal ia belum sama sekali tidur dari tadi apalagi ini sudah tengah malam bahkan waktu sudah menunjukan pukul 02.00 malam dini hari.


Alesa pun memaksa memejamkan kedua kelopak matanya agar bisa menyusul bayi Azzam yang sudah tertidur dengan sangat pulas, lama kelamaan akhirnya Alesa pun terserang kantuk juga kemudian ia mulai ikut tertidur dan masuk ke alam mimpi.


.


.


"Mas, badan bayi Azzam panas banget" kata Alesa sembari memegang tubuh bayi Azzam


Tanpa pikir panjang Alesa langsung memegang kedua pipi bayi Azzam serta kening bayi Azzam yang ternyata memang sangat panas, ia pun langsung memberi tahu suaminya bahwa badan bayi Azzam saat ini sangat panas.


"Mungkin karena tidur saja, tapi kalau mau memastikan cek dulu pakai termometer" kata Mas Ilham lalu mengambil kotak P3K yang ada di laci meja TV


Alesa pun menerima kotak P3K tersebut lalu di bukanya dan mengambil termometer yang ada di dalam kotak P3K itu, kemudian meletakkan termometer di ketiak bayo Azzam dan di tungguinya selama 3 menit.


"39 derajat, Mas" kata Alesa sembari menyodorkan termometer kepada suaminya


"Nanti bawa ke Puskesdes kalau matahari udah muncul, saat ini kompres aja dulu" kata Mas Ilham kemudian berlalu dari hadapan Alesa dan melangkahkan kaki ke arah warung

__ADS_1


Alesa beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki ke arah dapur ingin mengambil baskom yang di isinya air dari wastafel, kemudian membawa baskom yang berisi air itu ke ruang TV dan mengambil baju singlet bayi Azzam untuk mengompres kening bayi Azzam.


Kali ini Alesa tak bisa mengerjakan pekerjaannya karena ia harus mengurus bayi Azzam dahulu, apalagi bayi Azzam lagi terkena panas tinggi tentu sangat bahaya jika tidak segera di tangan dan kemungkinan bayi Azzam panas tinggi akibat semalaman bayi Azzam kelamaan menangis.


Matahari mulai muncul dari ufuk timur bersamaan dengan Alesa merasa perutnya sangat perih saat ini karena belum mengisi perutnya sama sekali, bahkan sampai detik ini ia belum sempat mengerjakan apapun karena sedang mengurus bayi Azzam yang panas tinggi.


"Alesa mana sarapanku?" tanya Mas Ilham yang melihat dapur tak ada apapun


"Aku gak sempat buat sarapan Mas, dari tadi mengompres tubuh bayi Azzam yang panasnya tak mau turun-turun" jawab Alesa yang masih mengurus bayi Azzam


"Ngomong kek dari tadi, biar aku bisa beli sarapan ke warung jualan sarapan pagi" kata Mas Ilham memarahi Alesa kemudian pergi dari hadapan Alesa sembari mengambil uang dari laci dan keluar dari ruko


Alesa hanya bisa diam dan bersabar menghadapi suaminya yang dikit-dikit marah apalagi memarahinya hanya hal sepele, memangnya hanya suaminya saja saat ini merasa lapar Alesa pun juga seperti itu bahkan perutnya sudah terasa sangat perih.


Tak berapa lama suaminya pulang dan melangkahkan kaki masuk ke daam ruko sembari menenteng plastik transparan yang terlihat isinya ada empat bungkus lontong sayur, suaminya langsung menuju dapur untuk mengambil mangkok dan ternyata mengambilkan untuk Alesa juga.


"Nah...." kata Mas Ilham meletakkan mangkok yang berisi dua bungkus lontong sayur yang masih dalam plastik


"Terima kasih, Mas" kata Alesa langsung membuka dua bungkus lontong sayur tersebut


Suaminya tak menjawab dan memilih langsung ke warung membawa mangkok serta dua bungkus lontong miliknya sendiri, setelah terwadah suaminya dengan lahap memakan lontong sayur itu di warung begitu juga dengan Alesa bahkan tak sampai berapa menit lontong sayur milik Alesa sudah habis.


Alesa bersyukur suaminya masih ada hati nurani jika sedang terjadi hal-hal seperti ini, meski hal seperti ini di lakukan suaminya hanya berapa kali bahkan bisa di hitung pakai jari saking memang sangat jarang namun setidaknya rasa kepedulian suaminya masih ada meski hanya setipis lembaran tisu.

__ADS_1


__ADS_2