
Kini matahari telah terbenam di ufuk barat dan berganti rembulan yang menyinari gelapnya malam bersama bintang-bintang yang berkelap-kelip, setelah sholat magrib Alesa dan kedua istri kakaknya menyiapkan makan malam untuk mereka di dapur yang sudah di pasangi karpet.
Setelah semua makanan tertata dengan rapi di atas karpet tersebut, Alesa segera beranjak ke ruang depan memanggil kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya sekalian keponakan-keponakannya sembari ia juga mengajak Azzam makan bersama.
"Suamimu, panggil juga. Masak kamu lupa" kata Ibunya Alesa saat melihat Alesa hendak melangkahkan kaki kembali ke dapur
"Iya, bu" jawab Alesa yang sebenarnya masih malas dengan suaminya itu
Alesa segera melangkahkan kaki ke arah kamarnya kemudian masuk dan mengajak suaminya untuk makan malam bersama yang lain, suaminya pun akhirnya ikut keluar dari kamar dan berjalan beriringan dengan Alesa menuju dapur.
Seperti biasa Alesa masih tetap melayani suaminya dengan sangat baik, mewadahi nasi dan lauk pauk untuk suaminya setelah terisi dengan bermacam-macam makanan segera di berikannya kepada suaminya.
Yang lain juga sudah mengisi piring masing-masing dan mulai menyantap makanan tersebut, Alesa makan sembari menyuapi Azzam juga dan syukurnya Azzam duduk dengan sangat anteng.
Apalagi ada para sepupu Azzam yang sedang makan juga makanya Azzam tak berlari kesana kesini, suasana makan kali ini sangat sunyi bahkan hanya terdengar bunyi celoteh Azzam dan keponakan-keponakannya Alesa saja.
Sedangkan para orang dewasa hanya diam tak bersuara sama sekali entah sedang menikmati makanan yang sangat lezat itu atau sedang sibuk dengan pikiran masing-masing, Alesa yang sudah lama sekali merindukan masakan sang ibu nambah berapa kali.
Apalagi berapa hari terakhir di rumah mertuanya ia tak dapat jatah makan, karena kejadian ia yang tak sengaja memecahkan semua piring-piring mahal milik mertuanya dan syukurnya Alesa dengan cerdik sempat menyisikan sedikit untuknya.
Meski awal kena hukuman ia harus menahan lapar dan untungnya suaminya memberi ia makanan entah dari mana sampai detik ini suaminya tak memberi tahu, namun perlakuan suaminya seperti itu tak bisa meluluhkan kembali hati Alesa.
__ADS_1
"Tambah lagi, dek. Biar badan kamu berisi jangan kurus kayak gitu, kayak gak di kasih makan aja" kata Kakak pertama Alesa kepada Alesa
"Iya bang" jawab Alesa sembari tersenyum kepada kakak pertamanya itu
Suaminya diam saja dari tadi bahkan biasanya menambah kalau makan di rumah mertuanya sekarang jadi malu, apalagi kakak pertama Alesa begitu terang-terangan menyindir suaminya membuat nafsu makannya seketika hilang.
Makanan yang di dalam kerongkongan pun jadi terasa hambar, dan suaminya hanya bisa menelan-nelan saja semua makanan tersebut sampai tandas dengan bantu air minum agar tak ada yang menyangkut di kerongkongan.
Selesai makan Alesa dan kedua istri kakaknya langsung membereskan bekas makan mereka sekalian mencuci piring-piring kotor, dan Alesa tak perlu khawatir dengan Azzam karena yang pasti selalu ada yang menjaganya jika di rumah orang tuanya.
Alesa kebagian merapikan dapur serta menyapu lantai karena takut ada sisa nasi yang berceceran kemana-mana, sedangkan kedua istri kakaknya kebagian mencuci piring dan membilas piring karena itu pekerjaan yang paling mereka suka.
Prang.....
Saat mendengar ada benda yang pecah semua orang yang ada di ruang depan segera bergegas ke dapur ingin melihat apa yang terjadi, kakak kedua Alesa langsung menghampiri istrinya yang terduduk di dekat pecahan piring tersebut.
"Intan, kamu gak apa-apa kan?" tanya Ibunya Alesa kepada menantunya yang memecahkan piring kesayangan miliknya itu
"Intan gak apa-apa, bu. Tapi piring kesayangan ibu pecah, maafin intan bu. Intan gak sengaja soalnya licin banget" kata Istri kedua kakak Alesa menundukkan kepala takut kena marah ibu mertuanya
"Gak apa-apa, piring udah puluhan tahun juga. Yang penting kamu gak terluka" kata Ibunya Alesa sembari tersenyum
__ADS_1
"Lain kali hati-hati ya, sayang. Untung kamu gak luka gimana kalau ada yang luka" kata Kakak kedua Alesa kepada istrinya itu
Setelah permasalahan selesai semuanya kembali ke ruang depan, Alesa yang melihat perlakuan sang ibu kepada istri kakak kedua yang sudah memecahkan piring itu begitu tersentuh ternyata sang ibu memang benar-benar ibu mertua yang baik.
Tentu begitu beruntung yang menjadi menantu sang ibu, Alesa mulai berandai-andai jika ia juga dapat ibu mertua yang baik pasti hidupnya terasa. damai apalagi ibu mertuanya memperlakukannya seperti anaknya pasti ia juga akan memperlakukan ibu mertuanya dengan baik.
Sedangkan suaminya Alesa yang melihat kejadian tadi jadi merasa bersalah dengan Alesa, karena waktu Alesa memecahkan semua piring-piring mahal milik ibunya ia diam dan cuek saja tak membela Alesa sama sekali apalagi waktu itu ibunya sangat marah.
Rasa bersalah di hati suaminya Alesa semakin besar dan ia memilih kembali masuk kamar Alesa, mengurung diri di kamar lagi dan hanya bisa bermain gawainya karena mau bergabung dengan yang lain masih memiliki rasa malu.
Di luar kamar Alesa dan kedua istri kakaknya telah selesai membereskan dapur dan sekarang bergabung dengan yang lain yang sedang asyik menonton TV, Alesa mendekati sang ibu dan mulai bermanja-manja yaitu guling di pangkuan sang ibu.
Yang lain melihat kelakuan Alesa hanya bisa geleng-geleng kepala karena si bungsu di rumah ini masih tak berubah sifat manjanya, padahal Alesa sudah memiliki anak namun masih juga mau manja-manja dengan sang ibu.
Sang ibu justru tak masalah karena sang ibu juga rindu dengan kemanjaan anak-anaknya yang sekarang sudah pada dewasa, bahkan sudah berumah tangga semua dan sudah memberinya cucu yang tampan dan cantik.
Azzam yang melihat Alesa guling di pangkuan sang nenek segera mendekat dan mencium pipi Alesa, membuat Alesa tersenyum karena ia hari ini tidak terlalu sering bersama Azzam soalnya Azzam sibuk bermain dengan keponakan-keponakan Alesa.
"Alesa, kalau kamu ada masalah jangan di pendam sendiri. Kamu punya ALLAH buat mengaduh dan kamu punya orang tua untuk meminta solusi" kata Ibunya Alesa sembari membelai kepala sang anak yang terhalang jilbab
"Iya bu, Alesa akan ingat pesan ibu" kata Alesa sembari tersenyum menyembunyikan luka di hatinya
__ADS_1
"Kalau misal Ilham buat kamu menangis, kasih tau abang. Abang yang akan pertama kali menghajarnya" kata Kakak pertama Alesa kepada Alesa sembari menepuk dadanya
"Gak pernah kok, bang. Mas Ilham buat Alesa menangis" kata Alesa yang tetap menutupi aib rumah tangganya