Rasa Yang Mati

Rasa Yang Mati
Bab 83


__ADS_3

Alesa pun berusaha menenangkan Azzam yang masih menangis dan masih gemetar itu, Alesa terus memeluk Azzam lebih erat dan mencium pucuk kepala Azzam karena ia juga saat ini sakit hati mendengar semua perkataan suaminya tadi.


Bahkan perkataan suaminya terus terngiang-ngiang ke telinga Alesa, dan Alesa pun kembali teringat kepada janji suaminya yang tak akan lagi berbuat kasar dengan dan akan memperlakukannya dengan baik nyatanya itu hanya sebuah janji yang tak bisa di buktikan.


Air mata Alesa kian menetes bahkan semakin deras, ia rindu dengan kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya yang selalu melindungi dan menyayanginya dengan tulus bahkan tak pernah main tangan kepadanya meski ia membuat kesalahan.


Azzam yang sudah tenang pun akhirnya tertidur, padahal Azzam baru saja tadi sebelum sholat dzuhur tidur ini justru tidur lagi saking kebanyakkan menangis siang ini dan biasanya juga Azzam jika tidur siang hanya satu kali.


Alesa pun segera mengendong Azzam dan meletakkan Azzam ke kasur, lalu Alesa ikut berbaring di samping Azzam sembari membelai kepala Azzam dan menatap Azzam dengan dalam hingga air mata Alesa kembali mengalir.


"Aiish, masih juga nangis. Padahal aku gak nyiksa kamu, jadi jangan drama deh" kata Mas Ilham masuk rumah melihat Alesa masih menangis


Alesa tak menoleh ke arah suaminya dan segera menghapus air matanya, ia menangis bukan hanya sakit hati dan sakit di tubuhnya tapi ia merasa kasihan dengan Azzam yang masih kecil sudah sering di bentak dan di marahi suaminya sampai Azzam jadi trauma.


Adzan ashar berkumandang membuat Alesa harus beranjak dari tidurnya dan duduk di samping Azzam, di lihatnya suaminya keluar dari kamar mandi habis mengambil air wudhu dan segera memakai baju koko serta sarung serta tak lupa peci sebagai pelengkap jika hendak sholat.


Tak ada pamitan sama sekali suaminya langsung saja melangkahkan kaki keluar dari ruko meski ada Alesa di ruang TV tadi, bahkan tak ada juga mengucap salam mereka sama-sama diam dan Alesa juga tak mau menyapa suaminya lebih dulu.


Selepas keberangkatan suaminya Alesa beranjak ingin ke kamar mandi hendak mengambil air wudhu juga, tiba di kamar mandi Alesa mulai menuangkan air sedikit demi sedikit hingga ketika air wudhu itu mengalir mengenai lehernya Alesa jadi meringis karena bagian lehernya terasa sangat perih.


Alesa mendekat ke arah cermin yang ada di dalam kamar mandi, kemudian mendongak sedikit ingin melihat area lehernya yang ternyata terkelupas bahkan memerah akibat kena peniti tadi pas suaminya menarik kuat jilbab yang di pakainya tadi.

__ADS_1


Lalu Alesa melanjutkan mengambil air wudhu tadi yang sempat tertunda, selesai mengambil air wudhu Alesa segera keluar dan hendak sholat ashar namun baru saja mengambil mukena serta sajadahnya di gantungan ada yang mengucap salam di warung milik suaminya.


"Walaikumsalam, iya sebentar" kata Alesa segera memakai jilbab instannya dan melangkahkan kaki ke warung milik suaminya


"Ohh aku kira siapa, mau beli apa?" kata Alesa setelah tiba di warung milik suaminya


"Kamu kenapa? Habis nangis, ya" kata Menantu Bu Sri kepada Alesa


"Gak kok, aku habis ngambil air wudhu makanya wajahku masih basah" kata Alesa menyunggingkan senyuman berusaha membuat menantu Bu Sri percaya


"Mungkin iya kamu habis ngambil air wudhu, tapi kedua bola mata kamu gak bisa bohong merah kayak gitu bahkan kelopak matamu sedikit bengkak. Terus leher kamu kenapa lagi sampai terkelupas begini" kata Menantu Bu Sri panjang lebar lalu matanya melihat ke arah leher Alesa


"Ohh ini tadi Azzam gak sengaja narik jilbab aku pas lagi main, makanya leher aku terkelupas dan inilah penyebab aku nangis. Sakit juga rupanya, hahaha" kata Alesa berusaha menyembunyikan kenyataan


"Hemm...hemm" suara deheman


Membuat menantu Bu Sri terlonjak kaget dan segera menoleh ke belakang, ternyata suaminya Alesa sudah berdiri di belakang dengan memasang wajah yang datar namun aura di sekitar seperti aura mau membunuh musuh sehingga menantu Bu Sri hanya bisa nyengir.


"Aku gak jadi beli deh, soalnya lupa tadi mau beli apa" kata Menantu Bu Sri dan melangkahkan kaki dengan gaya seribu langkah agar bisa secepatnya tiba di rumah mertuanya


Alesa tersenyum melihat tingkah menantu Bu Sri barusan, namun ketika suaminya menoleh ke arahnya seketika senyum di wajah Alesa hilang dan Alesa memasang wajah datar bahkan tampak masam karena malas melihat suaminya.

__ADS_1


Jadi Alesa pun memilih pergi dari warung milik suaminya itu dan segera melangkahkan kaki ke ruang TV hendak menunaikan sholat ashar empat raka'at, kemudian ia mengambil mukena dan sajadah yang tergantung segera di pakainya dan di bentangkannya lalu mulai mendirikan sholatnya.


Selesai sholat dan membaca al-quran Alesa memilih untuk segera mandi mumpung Azzam masih tidur, bertepatan ia selesai mandi dan memakai pakaian Azzam bangun sehingga Alesa pun memandikan Azzam juga agar Azzam terlihat segar setelah terlalu kebanyakan tidur.


Setelah Azzam mandi seperti biasa Alesa akan membaluri tubuh Azzam dengan minyak telon dan bedak, lalu Alesa segera memakaikan Azzam piyama tidur lengan pendek yang bergambar mobil-mobilan piyama yang paling di suka Azzam dari piyama lain.


"Jaga warung, aku mau mandi" kata Mas Ilham sudah mengambil handuk dan melangkahkan kaki ke kamar mandi


Alesa tak menyahut sama sekali dan segera mengendong Azzam ke teras depan, ia memilih menjaga warung dari teras depan saja karena warung milik suaminya juga tampak sepi dari tadi pagi hanya satu dua orang yang belanja.


"Alesa...." teriak Mas Ilham dari dalam ruko


"Apaan sih, Mas. Selalu teriak-teriak kayak di tengah hutan saja" kata Alesa yang benar-benar kesal dengan suaminya yang suka berteriak


"Kamu itu aku suruh jaga warung, kenapa malah duduk di teras depan" kata Mas Ilham yang marah lagi


"Aku duduk di teras depan juga sambilan jagain warung, dari tadi juga gak ada yang belanja jadi gak usah memperbesar masalah" jawab Alesa dengan sengit


"Udah berani ya ngejawab" kata Mas Ilham yang tak mau kalah


Alesa pun akhirnya diam karena malas berdebat dengan suaminya yang takkan pernah mau kalah, Alesa juga memilih beranjak dari duduknya dan membawa Azzam untuk jalan-jalan di bawah pohon mangga dari pada melihat wajah suaminya yang selalu membuat mood-nya berantakkan.

__ADS_1


Tiba di bawah pohon mangga Alesa segera duduk di kursi kayu yang ada disitu sembari menatap jalanan yang tampak sepi, dan hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang mungkin karena sudah menjelang sore makanya jalanan sangat sepi.


Bahkan para tetangganya tak ada yang keluar karena kemungkinan betah berada di dalam rumah mereka masing-masing, seperti kata orang tempat ternyaman adalah di dalam rumah namun tidak berlaku untuk Alesa dan justru menurutnya ruko milik suaminya adalah neraka baginya yang tak pernah ia temukan kenyamanan di dalam situ.


__ADS_2