Rasa Yang Mati

Rasa Yang Mati
Bab 110


__ADS_3

Dua tahun kemudian


Kini usia Azzam sudah enam tahun ia bahkan sudah masuk sekolah taman kanak-kanak di daerah kediaman sang kakek dan sang nenek, tepat hari ini juga genap dua tahun kedua orang tuanya telah meninggal dunia.


Azzam dan keluarga besar pihak Alesa saat ini mereka bersama-sama datang berkunjung di makam Alesa dan suaminya, yang ada di pusat kota dan tepatnya di TPU perumahan elit yang ada di sekitar kediaman Sisil dan suaminya.


"Bunda Ayah, Azzam sekarang udah sekolah TK. Pasti Bunda dan Ayah seneng dengar Azzam udah makin besar, Azzam rindu dengan kalian dan Azzam akan selalu mendoakan Bunda dan Ayah dari sini" kata Azzam sembari berjongkok di pusaran makam kedua orang tuanya


Sedangkan yang lain masih sibuk menabur bunga di atas dua makam sepasang suami istri itu, namun meski mereka sibuk mereka semua mendengar Azzam yang seolah-olah sedang berbicara dengan kedua orang tuanya.


Mereka semua tak menyangka kini Azzam tumbuh menjadi anak yang sangat pintar, bahkan sangat mandiri meski mereka juga tau ada sisi rapuh di diri Azzam ketika merindukan kedua orang tuanya yang tak bisa lagi di lihatnya.


Tapi mereka sebagai keluarga akan tetap selalu memberi kekuatan untuk Azzam agar tak larut dalam kesedihan, setelah menaburkan bunga mereka semua berdoa bersama di dekat pusaran kedua orang tua Azzam.


Selesai sudah kegiatan mereka mengunjungi makam Alesa dan suaminya, Azzam dan keluarga besar pihak Alesa menyempatkan diri mampir ke kediaman Sisil yang menjadi satu-satunya keluarga sebelah pihak suaminya Alesa yang masih peduli dengan Azzam.


Sedangkan keluarga yang lain lepas tangan, bahkan pernah berusaha mengambil hak Azzam yang di tinggalkan oleh kedua orang tua Azzam meski sebenarnya peninggalan itu seperti tak sengaja di tinggalkan.


Dan untungnya semua itu di urus Sisil dengan cepat sehingga tak ada yang berani menggutiknya lagi, tiba di kediaman Sisil mereka semua di sambut dengan hangat oleh Sisil yang tinggal sendirian karena suaminya sedang bekerja.

__ADS_1


Kebetulan juga tadi sebelum berangkat ke pusat kota Azzam sudah mengabari Sisil jadi Sisil yang tau akan kedatangan keponakan kesayangannya segera memesan makanan di restoran milik temannya, dan kini sudah terhidang di atas meja makan.


Waktu juga pas sekali tepat waktunya makan siang, Sisil segera mengajak Azzam dan yang lain untuk ke meja makan langsung dan makan siang bersama-sama awalnya keluarga pihak Alesa menolak namun Sisil tetap memaksa.


Sehingga keluarga pihak Alesa mau tak mau menuruti permintaan tuan rumah, Azzam yang tak pernah sungkan dengan Sisil makan dengan sangat lahap bahkan berapa kali nambah membuat Sisil semakin bahagia.


"Azzam gak mau nginep dulu disini, main dengan adik Raya" kata Sisil yang duduk tak jauh dari Azzam sembari menyuapi putrinya


"Hemm, gimana nek. Boleh gak Azzam nginep disini berapa hari ini?" tanya Azzam kepada sang nenek


"Kalau Azzam pengen, gak apa-apa kan Azzam lagi libur semester juga. Tapi satu pinta nenek gak boleh bandel, OKE" kata Ibunya Alesa sembari tersenyum dan mengelus pucuk kepala Azzam


"OKE, nek" kata Azzam sembari memberi tanda hormat pada sang nenek


Selesai makan karena Sisil tengah menjaga putrinya jadi kedua istri kakaknya Alesa yang membantu membereskan meja makan, sekalian mereka membantu mencuci semua piring kotor bekas mereka makan tadi.


Awalnya Sisil melarang namun karena kedua istri kakaknya Alesa memaksa jadi mau tak mau akhirnya Sisil membiarkan, dan selesai semua pekerjaan di bagian dapur kini mereka sudah kembali berkumpul di ruang keluarga.


Keluarga Alesa sudah Sisil anggap seperti keluarga sendiri, apalagi kedua orang tua Alesa yang sangat baik membuat Sisil merasa memiliki kedua orang tua angkat soalnya sekarang hubungan Sisil dengan keluarga kurang baik.

__ADS_1


Semenjak kejadian dulu Sisil menolak memberikan separuh tabungan sang kakak pada keluarganya, karena bagi Sisil itu bukan hak keluarganya melainkan hak Azzam anak yatim piatu dan bukankah dalam agama islam di jelaskan haram memakan hak anak yatim piatu.


Maka dari situ Sisil tak mau keluarganya jadi berdosa, namun tindakan Sisil itu di salah artikan oleh keluarganya sehingga ia di jauhi dan bahkan di musuhi sampai saat ini tapi tak masalah bagi Sisil karena yang di lakukannya sudah benar.


"Kenapa yang lain gak nginep disini aja sekalian, kita buat acara tahlilan lagi aja buat mengirim doa kepada mbak Alesa dan mas Ilham" kata Sisil akhirnya mengeluarkan pendapatnya sekian lama mereka hanya mengobrol ringan


"Kami gak bawa baju ganti, belum juga kami gak punya uang lebih buat acara tahlilan kalau mendadak begini" kata Kakak kedua Alesa yang memang tak mempersiapkan apapun karena tau mereka sore ini kembali ke kediaman masing-masing


"Gak usah khawatir, biar aku saja yang urus semua. Soal baju ganti pakai punya mas Rangga dan punya aku, kalau buat ibu dan ayah ada baju yang memang aku siapkan buat kedua orang tuaku jika menginap disini jadi bisa di pakai" jelas Sisil pada semuanya


Mereka semua terdiam dan berpikir sejenak dengan saran Sisil tadi, dan hanya berapa menit akhirnya mereka semua menganggukkan kepala menyetujui saran Sisil sehingga Sisil pun segera mengabari suaminya soal ingin mengadakan acara tahlilan malam ini.


Hingga tak terasa malam pun tiba acara tahlilan akan di mulai setelah sholat isya', saat ini Sisil dan keluarga Alesa mulai sibuk Sisil memesan nasi kotak sore tadi agar tak membuat mereka kerepotan namun tetap saja harus tertata rapi sebelum di bagikan pada orang-orang yang datang ikut tahlilan.


Setelah nasi kotak itu tersusun rapi di sudut ruangan, Sisil dan keluarga Alesa mulai berdiri di teras depan menyambut para tetangga yang mulai berdatangan ingin ikut tahlilan.


Ketika rumah sudah di penuhi para tetangga Sisil, acara pun di mulai oleh ustad yang selalu memimpin acara tahlilan di perumahan elit tempat tinggal Sisil itu dengan khusyuk mereka mulai membaca doa yasin dan doa lainnya yang di kirim untuk Alesa dan suaminya.


Saat semua orang sedang membaca doa, roh Alesa dan roh suaminya datang berkunjung di acara tahlilan itu roh Alesa dan roh suaminya menyunggingkan senyuman karena mereka berdua sangat bahagia melihat keluarganya dan Sisil selalu ingat untuk mengirim doa kepada mereka berdua.

__ADS_1


Roh Alesa dan roh suaminya sudah bahagia di alamnya sendiri, dan kini mereka berdua juga akhirnya bisa lebih tenang setelah melihat semua orang yang menyayangi Azzam putra mereka berdua yang telah mereka tinggalkan untuk selamanya.


_____________TAMAT___________


__ADS_2