
Kini bus yang membawa Alesa dan suaminya serta para penumpang lain mulai bergiliran dengan bus pariwisata lain untuk naik kapal fery, ketika bus tiba di atas kapal fery yang hendak berjalan seluruh para penumpang bus pariwisata diminta untuk turun dari bus yang mereka tumpangi masing-masing.
Alesa dan suaminya juga ikut turun setelah para penumpang lain sudah turun, dengan hati-hati Alesa menuruni anak tangga bus satu persatu ke lantai kapal fery sembari berpegangan di pegangan bus dan di belakangnya suaminya yang membantu memegangi dirinya.
Setelah itu Alesa dan suaminya berjalan ke arah depan hendak melihat pemandangan di lautan biru yang terbentang luas, tiba di depan kapal Alesa merentangkan kedua tangannya sembari menikmati hembusan angin sore yang menerpa wajahnya membuat bulu-bulu halus di wajahnya berdiri saking angin sepoi begitu deras.
"Beruntung perjalanan tadi lebih cepat jadi kamu bisa melihat dan menikmati pemandangan sore hari, dulu setiap kali aku mudik selalu tiba di kapal malam hari yang terlihat hanya kegelapan jadi gak pernah tau suasana sore di atas kapal" kata Mas Ilham sembari ikut menikmati angin sepoi yang menerpa rambut cepaknya
"Iya syukurlah, aku sangat suka suasana seperti ini" kata Alesa kemudian memejamkan kedua kelopak matanya
Matahari mulai turun di ujung pantai terlihat oleh seluruh penumpang yang ada di atas kapal fery, mereka semua menyaksikan matahari terbenam yang terlihat sangat indah mengeluarkan cahaya jingga sedikit demi sedikit menjadi gelap.
Karena sekarang berganti malam Alesa yang tengah hamil di ajak suaminya untuk masuk ke dalam kapal fery, apalagi angin malam tidak bagus untuk ibu hamil seperti Alesa dan ternyata beberapa penumpang lain juga sudah masuk hanya tinggal beberapa yang masih di luar.
Alesa dan suaminya mengerjakan sholat magrib dan isya' yang mereka jamak qoshor, selesai sholat Alesa dan suaminya memutuskan untuk makan malam dengan nasi bungkus yang mereka beli tadi siang di waktu pemberhentian pertama tadi dan beruntung mereka pisah lauk serta nasi karena biar tidak basi.
Huk...huk...huk...
Alesa yang tengah menyuapkan nasi ke dalam mulutnya tersedak akibat tangannya di senggol oleh anak kecil yang tengah bermain lari-larian di dalam kapal, dengan cepat suaminya langsung menyodorkan botol air mineral kepada Alesa.
Alesa pun langsung mengambil botol air mineral itu sembari mengucap bismillah di dalam hati, ia segera meneguk air mineral tersebut hingga tinggal setengah botol dan suaminya juga membantu menepuk perlahan punggung belakang Alesa.
"Maaf ya mbak mas. Gara-gara anak saya, mbaknya jadi tersedak" ucap Ibu-ibu yang sudah memegang pergelangan tangan anaknya dengan erat
__ADS_1
"Makanya punya anak itu harus di jaga" kata Mas Ilham marah dengan kejadian barusan membuat anak ibu itu jadi ketakutan
"Gak apa-apa bu, namanya juga anak kecil" jawab Alesa setelah lebih baik sembari menggelengkan kepalanya kepada suaminya
Karena Alesa tau anak kecil itu belum bisa berpikir seperti orang dewasa jadi tak sepantasnya kita orang dewasa memarahinya apalagi di depan banyak orang, Alesa pun mengulurkan tangannya mengelus pucuk kepala anak kecil yang tadi menabraknya.
"Terima kasih ya mbak, sekali lagi saya minta maaf" jawab Ibu-ibu itu kemudian meminta anaknya untuk menyalami Alesa dan suaminya
Dengan sangat pintar dan nurut anak kecil itu langsung mencium punggung tangan Alesa dan suaminya dengan takzim secara bergantian, setelah itu ibu-ibu itu dan anak kecil itu pergi dari hadapan Alesa dan suaminya.
"Kamu kok ngebiarin anak kecil itu pergi, seharusnya kasih pelajaran biar dia gak mengulangi kesalahan lagi" kata Mas Ilham yang ternyata masih dongkol dengan kejadian tadi
"Gak apa-apa Mas, dia hanya anak kecil. Suatu saat Mas akan ngerti setelah anak kita lahir" jawab Alesa yang memberi pengertian kepada suaminya
Alesa pun tak menjawab lagi dan memilih melanjutkan makannya juga, baru juga berapa bulan hubungan mereka terlihat baik-baik saja tapi sekarang Alesa kembali melihat emosi suaminya yang tak bisa di kontrol padahal saat ini mereka tengah berada kerumunan orang-orang.
Entah mungkin ini termasuk ujian dalam rumah tangganya mendapatkan suami yang suka marah-marah meski hal kecil, Alesa hanya bisa beristigfar dan terus bersabar menghadapi sikap suaminya ini.
Malam kini semakin larut terlihat di sekitar Alesa para penumpang lain sudah banyak yang terlelap bahkan suaminya juga, hanya Alesa yang masih terjaga di samping suaminya dan memandangi luar jendela yang hanya tanpa kegelapan malam.
Alesa yang masih belum merasakan kantuk memilih untuk turun dari ranjang tempatnya dan suaminya tidur, kemudian Alesa melangkahkan kakinya keluar dari kapal dan berdiri di luar memakai jaket tebal tapi angin malam tetap masih terasa sangat dingin.
"Di luar dingin banget, kenapa justru berdiri di luar" kata Seseorang yang tak jauh dari tempat Alesa berdiri
__ADS_1
Alesa pun langsung menoleh ke sumber suara yang tak di kenalnya dan tersenyum ramah sembari mempererat jaket tebal yang menutupi tubuhnya, seseorang itu langsung menghampiri Alesa dan berdiri di samping Alesa.
"Haii, kenalkan namaku Sinta. Nama kamu siapa?" tanya seseorang tadi yang ternyata bernama Sinta
"Aku Alesa, kamu sendiri kenapa ada di luar?" kata Alesa membalas uluran tangan dari Sinta
"Aku suka suasana malam seperti ini, selain sepi juga lebih enak di nikmati jika sendirian" jelas Sinta sembari menatap Alesa dengan sangat dalam
Alesa hanya menjawab dengan anggukkan kepala sembari telapak tangannya di gosoknya ke sesama telapak tangan, ingin mengurangi dinginnya malam yang sangat menusuk sampai ke tulang menulang Alesa.
"Kamu baru menikah?" tanya Sinta kepada Alesa
"Iya baru delapan bulan lebih, kalau kamu apakah sudah menikah" jawab Alesa kemudian bertanya balik
"Masih sendiri, belum bertemu jodoh. Tapi aku lihat pernikahan kalian tak harmonis" kata Sinta lagi langsung mengutarakan ucapannya
"Akhh, kata siapa. Pernikahan kami baik-baik saja kok" jawab Alesa yang berusaha menutupi aib rumah tangganya
Sinta hanya tersenyum memperhatikan raut wajah Alesa yang berusaha menyembunyikan pernikahannya yang sangat jelas terlihat tak seperti pernikahan orang-orang di luar sana, namun Sinta juga paham setiap rumah tangga pastinya memiliki ujian masing-masing.
"Aku seorang Dokter Psikolog jadi bisa membaca semuanya melalui wajah" jelas Sinta kepada Alesa
Dan membuat Alesa merasa malu karena ternyata Sinta tau tentang pernikahannya karena Sinta seorang Dokter Psikolog, Alesa pun hanya bisa tersenyum setelah tau kenyataan tersebut.
__ADS_1
"Senang berkenalan dengan kamu, masuk sana angin malam gak baik untuk ibu hamil" kata Sinta sembari mengelus pundak Alesa