Rasa Yang Mati

Rasa Yang Mati
Bab 93


__ADS_3

"Alesa... Bangun" kata Menantu Bu Sri sembari meletakkan minyak kayu putih di lobang hidung Alesa


"Tante, Bunda kenapa?" tanya Azzam yang dari tadi berdiri disitu hanya menatap Alesa dengan raut wajah bingung campur khawatir


"Bunda pingsan" jawab Menantu Bu Sri terus berusaha membangunkan Alesa


Dan tak berapa lama Alesa akhirnya membuka kedua kelopak matanya, sembari beranjak duduk Alesa memegang kepalanya yang masih terasa pusing dan sedikit linglung Alesa kaget ada menantu Bu Sri di sampingnya.


"Aku kenapa?" tanya Alesa setelah kesadarannya sepenuhnya sadar


"Mbak Alesa tadi pingsan" kata Menantu Bu Sri menatap kedua bola mata Alesa dengan dalam seperti mengetahui sesuatu


"Terima kasih, jadi ngerepotin" kata Alesa sembari menyunggingkan senyuman


"Iya mbak, sama-sama. Jaga kesehatan ya, aku pamit pulang soalnya belum sholat dzuhur" kata Menantu Bu Sri pamit kemudian beranjak dan melangkahkan kaki keluar ruko milik suaminya Alesa


Setelah kepergian menantu Bu Sri, Alesa pun memerintah Azzam untuk segera menunaikan sholat dzuhur dan selagi Azzam sholat Alesa pun segera beranjak lalu melangkahkan kaki ke kamar mandi ingin mengambil air wudhu.


Selesai mengambil air wudhu dan sudah kembali ke ruang TV, Alesa pun segera mengambil alat sholat untuk di pakainya lalu segera ia mengerjakan sholat dzuhur empat raka'at dengan khusyuk.


.


.


Kini Alesa duduk termenung di depan makanan yang sudah di ambilnya tadi yang hendak di makannya, ia tak menyangka tadi sempat pingsan dan selama ia pingsan ia merasa tadi seperti berada di sebuah taman yang indah.

__ADS_1


Ketika berada di sebuah taman tadi ia merasa seperti tak mau pulang saking menikmati hamparan luas rerumputan hijau, yang membuat hati dan pikirannya jadi tenang tapi saat ia mendengar suara Azzam ia merasa sedih makanya ia bisa sadar lagi.


"Bunda, kok makanannya di lihatin aja. Ayo di makan, apa mau Azzam suapin" kata Azzam menghampiri Alesa di dapur


"Memang Azzam mau nyuapin Bunda?" tanya Alesa sembari menatap Azzam


"Iya Azzam mau nyuapin Bunda, sini piringnya Bun" kata Azzam kemudian duduk di hadapan Alesa dan mulai menyuapkan makanan ke dalam mulut Alesa


Alesa tersenyum dengan perlakuan Azzam saat ini, ia sangat bahagia memiliki anak seperti Azzam yang selalu bisa membuat setiap waktu tersenyum meski yang di lakukan Azzam hal-hal kecil.


Azzam pun juga bahagia bisa menyuapi Alesa karena Azzam merasa kapan lagi Azzam bisa menyuapi Alesa, kalau Azzam sudah semakin besar dan sibuk dengan dunia tentu akan jarang bisa melakukan hal tersebut dengan Alesa.


Selesai makan Azzam juga meminta Alesa untuk beristirahat saja, karena Azzam yang akan mencuci piring kotor bekas makan Alesa barusan dan Alesa pun mau tak mau menuruti permintaan Azzam.


Alesa kembali berbaring di ruang TV sambilan menonton TV yang barusan di nyalakannya, dan tak berapa lama Azzam menghampiri Alesa serta duduk di samping Alesa menemani Alesa menonton TV.


"Yah, tadi Bunda pingsan" kata Azzam memberi tahu kepada ayahnya


"Terus, ayah harus apa. Kan udah sadar" kata Mas Ilham kemudian berlalu dan masuk ke dalam kamar


Azzam diam mematung mendengar jawaban yang keluar dari mulut ayahnya, begitu juga dengan Alesa ia tak menyangka suaminya sama sekali tak peduli dengan keadaannya namun biarlah Alesa juga tak masalah peduli dan tidak peduli suaminya sama aja.


Adzan ashar pun berkumandang setelah ayahnya keluar dari kamar mandi, giliran Azzam yang masuk ke dalam kamar mandi ingin membersihkan tubuhnya serta mengambil air wudhu.


Setelah itu Azzam yang sudah memakai baju koko segera pamit dengan Alesa sembari mencium punggung tangan Alesa dengan takzim, serta tak lupa mengucapkan salam dan tentunya di jawab oleh Alesa.

__ADS_1


.


.


"Kamu kenapa bisa pingsan, perasaan pekerjaan kamu sekarang juga udah ringan sering di bantu Azzam" kata Mas Ilham pulang dari masjid langsung to the poin dengan Alesa


"Mana aku tau, seingat aku tadi tidur sebentar" kata Alesa yang saat ini tengah melipat pakaian yang baru saja di angkatnya dari jemuran


"Minum obat kalau sakit, jangan bikin orang khawatir" ujar Mas Ilham kemudian berlalu dari hadapan Alesa


Alesa hanya diam tak menyahut lagi dan lebih memilih memfokuskan melipat pakaian yang sangat banyak itu, sembari sesekali mata Alesa menatap ke arah TV yang sedang menyala.


Sedangkan suaminya kini duduk di depan menjaga warung miliknya yang semakin sepi para pembeli, saat sedang menelusuri barang-barang di warung miliknya kelihatan rapi suaminya menangkap sebuah darah yang sudah kering ada di barang tersebut.


Suaminya pun segera beranjak dan mendekati darah yang sudah kering itu, sembari menatap darah itu pikiran suaminya bertanya-tanya darah apa itu atau kemungkinan tadi Alesa terluka makanya ada darah disitu.


Karena penasaran suaminya pun memilih ke dapur dan mencari sesuatu, dan benar saja banyak sekali darah di bekas tisu yang ada di dalam kotak sampah tersebut membuat suaminya semakin penasaran.


Kemudian suaminya duduk di samping Alesa menatap ke seluruh tubuh Alesa apakah ada yang terluka, namun suaminya tak menemukan bekas luka di seluruh tubuh Alesa terus ia berpikir darah apa tadi.


"Ada apa, Mas? Ngelihatin aku kayak gitu" tanya Alesa menoleh ke arah suaminya


"Kamu tadi luka?" tanya Mas Ilham bukannya menjawab malah bertanya balik


"Aku luka, gak kok. Kenapa memangnya?" kata Alesa menatap suaminya dengan bingung

__ADS_1


"Terus kenapa banyak bekas darah di barang yang ada di warung dengan di kotak sampah" jelas Mas Ilham yang penasaran


Alesa terdiam mengapa bisa ia teledor tadi jika darah yang menetes di barang yang ada di warung milik suaminya tadi tak sempat ia bersihkan, ia bingung harus menjawab apa dan tak mungkin juga ia mengatakan hal yang sebenarnya.


__ADS_2