Rasa Yang Mati

Rasa Yang Mati
Bab 29


__ADS_3

"Mas, masih lama ya mandinya?" tanya Alesa pada suaminya yang sedang mandi sembari mengetuk pintu kamar mandi


"Iya, kenapa sih. Ganggu aja" sahut Mas Ilham dari dalam kamar mandi


"Warung rame, aku kesusahan melayani para pembeli kalau sambil gendong bayi Azzam" kata Alesa yang tengah mengendong bayi Azzam


Meski bayi Azzam anteng di dalam gendongan jarit yang di ikatnya di tubuhnya tetap saja Alesa takut terlepas, karena tak ada jawaban dari suaminya lagi Alesa kembali ke warung dan ternyata para pembeli semakin banyak.


Alesa pun dengan hati-hati memasukan belanjaan para pembeli walaupun sedikit lambat karena hanya menggunakan satu tangan, dan tangan satunya lagi ia gunakan untuk menopang tubuh bayi Azzam yang tengah di gendongnya.


"Ayo mbak, lama banget kita juga ada urusan di rumah" kata Ibu-ibu mulai protes saat Alesa begitu lambat melayani mereka


"Sabar ya bu, kalian bisa lihat kan aku sambil gendong bayi" jawab Alesa yang tetap sabar meski ini sudah protes ke lima kali


"Ahh dari tadi sabar terus, gak jadi beli lah" jawab Ibu-ibu itu lagi lalu pergi meninggalkan belanjanya begitu saja


Alesa hanya bisa menghela napas panjang, tak bisakah suaminya mandi lebih cepat lagi padahal sudah tau kalau bayi Azzam sudah bangun dari tidurnya dan tentu tak mungkin juga Alesa membiarkan bayi Azzam sendirian di kasur bayi tanpa pengawasan.


Dan syukurnya para pembeli yang lain masih sabar serta memakluminya yang sedikit kesusahan memasukan belanjaan, sampai akhirnya semua pembeli pun kebagian untuk membayar belanjaan mereka meski harus menunggu lama.


"Mana katanya rame, ini kok sepi" kata Mas Ilham tiba-tiba muncul dari belakang membuat Alesa terlonjak kaget

__ADS_1


"Bukan sepi tapi udah pada pulang, Mas aja yang lama mandinya" jawab Alesa sedikit kesal dengan kelakuan suaminya


"Ala mana, uang di laci juga sedikit" kata Mas Ilham lagi yang tak pernah mau di salahkan


Alesa memilih diam karena percuma berdebat dengan suaminya ia pasti takkan pernah menang selalu salah, Alesa pun memutuskan pergi dari warung dan menuju ruang TV ingin menyusui bayi Azzam yang sudah bangun setengah jam yang lalu.


Selesai menyusui bayi Azzam Alesa mengajak bayi Azzam bermain kerincingan untuk stimulasi pendengaran bayi Azzam, Alesa juga sesekali mengajak bayi Azzam berbicara dan di sambut oleh bayi Azzam dengan gumaman sembari sedikit tersenyum.


Alesa begitu bahagia melihat bayi Azzam sudah bisa tersenyum meski baru sesekali, tapi ia tetap bersyukur karena perkembangan bayi Azzam begitu cepat apalagi bayi Azzam sekarang semakin lincah menggerakkan tangan dan kakinya di tambah lagi kalau di kasih mainan.


Waktu terus berjalan kini sudah tengah hari, untung bayi Azzam sudah tidur sebelum adzan dzuhur tadi jadi Alesa tak kerepotan ingin mengerjakan sholat dzuhur sekarang, soalnya meminta tolong dengan suaminya untuk menjaga bayi Azzam sepertinya percuma karena suaminya gak mau dan alasannya pasti mau jaga warung.


Alesa heran dengan sikap suaminya masak lebih mau menjaga warung ketimbang menjaga anak sendiri, padahal sebelum bayi Azzam lahir begitu di nanti-nantinya serta tak kesabaran namun setelah lahir tak pernah mau mengendong bayi Azzam dan bisa di hitung pakai jari saking jarang.


Setelah makan seperti biasa Alesa langsung membereskan bekas mereka makan serta langsung mencuci piring kotor, soalnya kalau bukan Alesa siapa lagi yang mengerjakan itu karena takkan mungkin semuanya bergerak sendiri.


Mencuci piring pun selesai Alesa segera menyusun piring yang sudah di cucinya barusan ke rak piring, lalu setelah itu ia melangkahkan kaki ke ruang TV hendak istirahat apalagi istirahat pagi tadi tak jadi karena terganggu akibat suaminya alasan mau mandi jadi ia terpaksa menjaga warung.


"Alesa jaga warung sana, aku mau tidur. Kamu kan gak ada kerjaan juga, bayi Azzam juga lagi tidur" kata Mas Ilham ketika melihat Alesa baru saja terduduk di samping bayi Azzam


"Aku juga pengen istirahat Mas" jawab Alesa lesu karena suaminya langsung nyelonong masuk kamar

__ADS_1


Alesa pun mau tak mau dengan terpaksa melangkahkan kaki ke warung melayani pembeli yang mulai berdatangan, satu persatu dengan ramah Alesa melayani para pembeli dan sesekali Alesa menyeka keringatnya yang hampir jatuh dari keningnya.


Tak henti-henti para pembeli berdatangan membuat Alesa sedikit pun tak ada kesempatan untuk sekedar duduk mengistirahatkan kedua kakinya yang sudah terasa sangat pegal, Alesa pun harus menahan rasa pegal di kedua kakinya demi melayani para pembeli.


Oweng....Oweng....Oweng


Suara bayi Azzam menangis, Alesa yang masih melayani pembeli tak bisa langsung mengambil bayi Azzam lalu Alesa menoleh ke arah dinding yang terdapat jam dinding dan ternyata waktu sudah menunjukan pukul 03.00 sore pantas bayi Azzam bangun karena sudah terlalu lama tidur dan kemungkinan sekarang bayi Azzam merasa lapar.


Oweng....Oweng....Oweng


Lagi-lagi terdengar suara bayi Azzam menangis karena tak ada yang mengambilnya, Alesa yang tak tega segera berlari mendekati bayi Azzam dan meninggalkan para pembeli begitu saja yang masih ramai di depan warung milik suaminya.


"Kamu tu bisa gak sih ngurus bayi Azzam, udah tau bayi Azzam nangis dari tadi kenapa gak di tenangkan" bentak Mas Ilham keluar dari kamar menghampiri Alesa yang tengah mengendong bayi Azzam


Mendengar bentak kan dari suaminya, bayi Azzam jadi menangis semakin kencang dan bersamaan terdengar protes di depan warung karena para pembeli sudah menunggu dari tadi tak ada satu pun dari Alesa atau suaminya mau ke warung melayani para pembeli itu.


Alesa berusaha menenangkan bayi Azzam yang terus menangis bahkan sampai sesenggukan, sedangkan suaminya Alesa pun memilih pergi meninggalkan Alesa dan melangkahkan kaki menuju ke warung miliknya ingin melayani para pembeli.


"Nak Ilham kok marah-marah dengan istrinya, padahal dari tadi istri nak Ilham melayani kami. Terus nak Ilham kemana aja dari tadi anak nangis kok di biarin aja" celetuk salah satu pembeli


"Gak usah ikut campur urusan rumah tangga orang" jawab Mas Ilham sedikit judes karena tak mau di salahkan

__ADS_1


Pembeli yang menyeletuk tadi langsung pergi tak jadi membeli karena kesal dengan suaminya Alesa, para pembeli juga memilih diam dan menyelesaikan pembayaran mereka agar bisa segera pergi dari warung suaminya Alesa.


Para pembeli baru tau sifat asli suaminya Alesa yang suka marah-marah tak jelas dengan Alesa, padahal selama ini para pembeli mengenal suaminya Alesa itu sangat ramah bahkan para pembeli juga tau suaminya Alesa itu taat agama.


__ADS_2