Rasa Yang Mati

Rasa Yang Mati
Bab 34


__ADS_3

"Ibu tidur di kamar ini aja, Ilham biar tidur di ruang TV sama Alesa dan bayi Azzam" kata Mas Ilham yang sudah merapikan kamar tersebut serta mengambil selimut dan bantal untuknya tidur di ruang TV


"Ya udah, ibu juga gak biasa kalau tidur pakai kasur lantai nanti badan ibu sakit semua" jawab Ibu mertuanya Alesa seperti biasa dengan gaya angkuhnya


Alesa hanya diam mendengar obrolan suaminya dan ibu mertuanya itu yang menurutnya tak penting, dan ia lebih memutuskan untuk segera tidur ingin menyusul bayi Azzam yang sudah tertidur dari tadi.


Baru saja Alesa tertidur ia merasakan ada sesuatu yang melingkar di perutnya, Alesa yang terganggu pun membuka kedua kelopak matanya dan ternyata tangan kekar milik suaminya yang memeluk perutnya.


Karena merasa sesak Alesa pun memindahkan tangan kekar milik suaminya, dan kembali ingin melanjutkan tidurnya namun baru saja hendak memejamkan kedua kelopak matanya suaminya tiba-tiba mencium pipinya.


"Sayang, pengen" kata Mas Ilham menatap kedua mata Alesa


"Pengen apa?" tanya Alesa pura-pura tak mengerti yang sebenarnya sangat senang mendengar suaminya meminta hak-nya yang sudah lama sekali suaminya tak menyentuhnya di tambah kemarin suaminya puasa selama 40 hari


"Itu, tu" kata Mas Ilham kemudian memulai aksinya tanpa persetujuan dari Alesa


Oweng....Oweng...Oweng


Bayi Azzam tiba-tiba menangis dan terbangun dari tidurnya, Alesa langsung menoleh ke arah bayi Azzam yang tengah menangis tapi suaminya tak menghiraukan sama sekali dan tetap melanjutkan aksinya.


"Mas, bayi Azzam nangis" kata Alesa di sela-sela penyatuan mereka


"Ahh, tanggung banget aku masih belum capai puncak" kata Mas Ilham dengan nada suara yang berat dan terus melanjutkan aksinya

__ADS_1


Oweng....Oweng....Oweng


Tangis bayi Azzam semakin kencang namun Alesa tak bisa berbuat apa-apa karena suaminya masih ingin menuntaskan aksinya dulu, sampai terdengar pintu kamar terbuka baru Alesa dan suaminya sama-sama sampai puncaknya.


Alesa segera merapikan dasternya kemudian mengambil bayi Azzam hendak di susuinya sedangkan suaminya langsung melesat ke kamar mandi, yang keluar dari kamar siapa lagi kalau bukan ibu mertuanya dalam keadaan masih setengah sadar dan mengucek kedua kelopak matanya.


"Kamu dari tadi kemana aja, sampai bayi Azzam nangis kenceng banget masak gak denger" kata Ibu mertuanya Alesa menegur Alesa yang masih menyusui bayi Azzam


"Alesa ke kamar mandi tadi bu, jadi gak bisa langsung mengambil bayi Azzam" jawab Alesa yang terpaksa berbohong kepada ibu mertuanya


"Terus Ilham kemana sekarang?" tanya Ibu mertuanya Alesa yang tak melihat anak kesayangannya itu di dekat Alesa


"Aku disini bu, kenapa?" kata Mas Ilham muncul dari arah dapur sembari membawa segelas air putih


"Gak apa-apa, ajari tu istri kamu biar jadi ibu siap siaga. Anak nangis di biarin aja" kata Ibu mertuanya Alesa kemudian kembali masuk kamar


Setelah bayi Azzam tertidur kembali Alesa segera meletakkan lagi bayi Azzam di kasur bayi, kemudian Alesa beranjak dari duduknya hendak ke kamar mandi sembari membawa gelas kosong bekas minumnya tadi.


Tapi belum sempat Alesa melangkahkan kakinya tiba-tiba suaminya memeluk Alesa dari belakang sembari mencium tengkuk leher Alesa, membuat Alesa kembali mendes*h namun tertahan karena ia langsung mengigit bibir bawahnya agar des*hannya tak keluar.


Suaminya kembali mengajak Alesa bercinta karena tadi masih belum puas apalagi tadi sempat terganggu oleh bayi Azzam sama ibu mertuanya, Alesa yang juga mulai merasakan nikmat mau tau mau menyetujui permintaan suaminya lagi.


Hingga akhirnya Alesa dan suaminya kembali lagi sampai puncak, suaminya pun langsung terkapar di samping Alesa dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya seperti itu juga Alesa yang wajahnya penuh dengan keringat.

__ADS_1


Karena tak mau menunda waktu untuk membersihkan tubuhnya jadi Alesa langsung masuk ke dalam kamar mandi ingin mandi, selesai Alesa mandi suaminya juga ingin langsung membersihkan tubuhnya agar tak ketahuan oleh ibu mertuanya jika mandi tengah malam.


"Terima kasih ya" kata Mas Ilham yang ternyata sudah selesai mandi dan memeluk Alesa yang tengah berbaring dari belakang


"Iya sama-sama, udah kewajiban aku sebagai istri" jawab Alesa yang memang belum tidur karena belum merasa ngantuk


"Udah malam, tidur yuk" kata Mas Ilham kemudian mulai memejamkan kedua kelopak matanya


Hanya berapa menit sudah terdengar dengkuran halus dari mulut suaminya, Alesa segera membalik tubuhnya dan menghadap suaminya kemudian menatap wajah suaminya yang tertidur dengan sangat pulas itu.


Alesa memainkan jari jemarinya ke pipi suaminya yang terasa halus meski suaminya seorang laki-laki tapi begitu telaten juga merawat kulit wajah, bahkan Alesa merasa kulit wajah suaminya lebih halus dari kulit wajahnya yang entah kapan terakhir ia memakai skincare saking terlalu sibuk mengurus pekerjaan rumah dan menjaga bayi Azzam.


Lambat laun menatap wajah suaminya, Alesa pun tertidur dalam dekapan suaminya yang sudah lama ia tak merasakan dekapan tersebut karena suaminya yang memiliki sifat seperti bunglon terkadang perhatian, terkadang pemarah yang membuat Alesa pun bingung menghadapi sifat suaminya itu.


Adzan subuh berkumandang di masjid yang tak jauh dari ruko milik suaminya, membuat Alesa dan suaminya terbangun dari tidur yang mereka baru saja tertidur tadi tapi sudah terdengar saja adzan subuh tapi mau bagaimana lagi Alesa dan suaminya harus tetap bangun untuk menunaikan kewajiban sebagai hamba ALLAH.


Selesai sholat subuh seperti biasa Alesa langsung mengerjakan pekerjaan rumah, agar tak kerepotan jika bayi Azzam sudah bangun meski ada ibu mertuanya yang bisa menjaga bayi Azzam tapi tetap saja Alesa tak mau merepotkan ibu mertuanya itu.


"Kamu mau masak apa?" tanya Ibu mertuanya Alesa menghampiri Alesa yang tengah menyiapkan bahan-bahan untuk masak


"Mau bikin bakwan sayur buat sarapan nanti, dengan masak lauk buat makan siang dengan malam nanti" jawab Alesa dengan cekatan mulai membersihkan sayur kol dan wortel


"Iya udah, yang enak masaknya" kata Ibu mertuanya Alesa kemudian berlalu begitu saja dan menuju ruang TV hendak menonton

__ADS_1


Alesa menoleh sekilas melihat kepergian ibu mertuanya, Alesa pikir ibu mertuanya hendak membantunya makanya menghampirinya yang ingin memasak namun ternyata salah, ibu mertuanya hanya memastikan ia harus masak makanan yang enak.


Tiba-tiba Alesa menyunggingkan senyuman, memang benar buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya gak anak dan gak ibu sama saja maunya di masakin yang enak tapi kalau di minta uang buat masak yang lebih enak begitu perhitungan.


__ADS_2