Rasa Yang Mati

Rasa Yang Mati
Bab 100


__ADS_3

Alesa yang baru pulang dari menjemput Azzam dan hendak menyeberang, tiba-tiba melihat ada sebuah mobil pick-up berhenti di depan ruko milik suaminya dan di belakang mobil pick-up itu ada sebuah kardus besar yang bergambar mesin cuci.


Bertepatan Alesa dan Azzam menyeberang suaminya keluar dari ruko sedang berbicara dengan supir mobil pick-up itu, saat melihat Alesa dan Azzam yang sudah pulang dari masjid suaminya langsung menyambutnya dengan senyuman di bibirnya.


"Itu mesin cuci siapa, Mas?" tanya Alesa mengeryitkan keningnya melihat kardus yang berisi mesin cuci itu di turunkan


"Ini hadiah untuk kamu, sayang. Cepat kamu masuk ke dalam, pandu mereka mau kamu letakkan di mana mesin cuci ini" kata Mas Ilham yang melihat dua orang yang ingin mengotong kardus berisi mesin cuci


"Hemm, letakkan saja samping wastafel" kata Alesa setelah berpikir sejenak


Suaminya pun segera meminta dua orang yang mengotong kardus berisi mesin cuci itu ke dalam rumah, mereka perlahan dan hati-hati membawa benda yang sangat berat itu sampai menuju dapur lalu di letakkan di samping wastafel seperti saran Alesa tadi.


Setelah selesai mengerjakan tugas, suaminya segera menyodorkan uang berwarna merah untuk upah jasa mengangkut tadi yang sebenarnya suaminya sudah membayar semua namun karena melihat dua orang itu tadi agak kesusahan membawa barang tadi sampai masuk ke rumah jadi suaminya berinisiatif memberi upah lagi.


Kemudian dua orang itu pamit undur diri setelah mendapat minum dingin dari Alesa, dan kini Alesa bersama suaminya serta Azzam segera membuka kardus tersebut dengan perasaan bahagia karena akhirnya impiannya yang ingin mempunyai mesin cuci seperti para tetangga akhirnya terkabulkan.


"Terima kasih ya Mas" ucap Alesa dengan tulus apalagi melihat warna dan merek mesin cuci itu yang memang sesuai dengan ke inginnya


"Iya sama-sama, sayang. Aku gak mau lihat kamu kelelahan lagi, aku juga bisa membantu kamu kalau sudah ada ini" kata Mas Ilham sembari tersenyum

__ADS_1


"Ini apa yah?" tanya Azzam yang tak tau benda apa yang ada di depannya itu


"Ohh ini namanya mesin cuci, buat mencuci pakaian. Azzam tau kan" jelas Mas Ilham


Azzam langsung menganggukkan kepala paham mengerti apa benda itu, kemudian mereka bertiga pun kini duduk santai di depan TV yang tengah menyala sembari menikmati cemilan yang di beli suaminya tadi.


Hari sudah menjelang sore Alesa pun pamit dengan dua sosok laki-laki dalam hidupnya itu hendak membersihkan tubuhnya yang sedikit berkeringat, selesai mandi dan sudah berpakaian lengkap Alesa kembali bergabung dengan dua sosok laki-laki dalam hidupnya itu.


.


.


Selain membantu mengerjakan pekerjaan rumah, suaminya juga melarang Alesa untuk masak sudah berapa hari ini dan memilih selalu membeli makanan di luar toh gajinya juga sekarang semakin naik karena kinerjanya bagus.


Bahkan suaminya diam-diam mempersiapkan lagi hadiah sangat fantastis untuk Alesa, namun saat ini belum bisa suaminya memberi tahu dan kemungkinan dua bulan lagi baru hadiah itu akan Alesa ketahui.


Suasana makan makan sederhana itu kini tak seperti dulu yang tampak sepi dan sunyi, kali ini banyak sekali celotehan yang keluar dari Azzam dan sesekali Alesa dengan suaminya tertawa menanggapi setiap celotehan yang keluar dari mulut Azzam.


"Biar aku aja" kata Mas Ilham yang langsung mengambil alih lagi membersihkan bekas makan mereka serta langsung mencuci piring kotor

__ADS_1


Alesa hanya menganggukkan kepala dan memilih ke ruang TV bersama Azzam, karena tak memiliki kegiatan lain jadi Alesa mau tak mau hanya menonton TV meski terkadang membosankan tapi ada sedikit hiburan juga jika suaminya bercanda dengan Azzam.


Setelah pekerjaan beres suaminya bergabung dengan Alesa, dan kini justru begitu manja membaringkan tubuhnya di pangkuan Alesa dan Alesa tentu senang dengan hal itu mengingatkannya lagi tentang awal pertama kali mereka menikah.


"Sayang, kamu gak mau hamil lagi gitu. Kasih adik buat Azzam biar Azzam ada teman" kata Mas Ilham menatap lekat kedua bola mata Alesa


"Maaf Mas, aku tak bisa" jawab Alesa perlahan sembari mengigit bibir bawahnya karena takut suaminya marah


"Kenapa? Apa ada masalah di rahimmu?" tanya Mas Ilham langsung beranjak takut ada sesuatu hal yang tak di ketahuinya


"Gak ada, Mas. Tapi aku tak bisa hamil lagi karena....." jawab Alesa menundukkan kepala kata-katanya tercekat ia tak mau suaminya mengetahui kondisinya yang sesungguhnya


"Karena apa?" tanya Mas Ilham sembari mengangkat dagu Alesa agar bisa mendongak menatap bola matanya


"Aku masih rutin minum pil KB, dan saat ini aku sedang datang bulan" jawab Alesa berusaha untuk tenang agar gelagatnya tak terbaca oleh suaminya


Suaminya menghela napas panjang, pikirannya sudah jauh menerawang takut-takut Alesa menyembunyikan sesuatu darinya tapi ternyata Alesa hanya masih rutin minum pil KB.


Azzam yang mendengar percakapan ayahnya dan ibunya tak mengerti apa-apa, jadi tak banyak komentar justru fokus dengan mainan yang di belikan ayahnya tadi siang bahkan TV yang tengah menyala ternyata tak ada satu pun yang menonton.

__ADS_1


Alesa berusaha menampilkan senyuman terbaik kepada suaminya, agar suaminya tak banyak bertanya lagi supaya ia tak perlu lagi mencari alasan lain untuk berbohong karena ia sebenarnya tak pandai untuk berbohong seperti di dalam film-film yang sering ditontonnya.


__ADS_2