
"Terima kasih, ya. Maaf tadi kami langsung pulang" kata Alesa kepada menantu Bu Sri sembari menerima plastik yang berisi makanan
"Iya mbak Alesa gak apa-apa, justru kita yang mau minta maaf atas apa yang di katakan ibu tadi" kata Menantu Bu Sri yang memang merasa tak enak hati kepada Alesa atas kejadian tadi
"Gak apa-apa" jawab Alesa tersenyum
"Kita pamit, mbak" kata Menantu Bu Sri setelah menyampaikan permintaan maaf
Setelah kepergian menantu Bu Sri dan anak sulung Bu Sri, Alesa segera masuk sembari menenteng plastik yang berisi makanan dan melangkahkan kaki ke arah dapur kemudian langsung memindahkan semua makanan itu ke piring.
Lalu Alesa kembali ke ruang TV sembari memperhatikan suaminya yang tengah melayani para pembeli yang berdatangan secara bersamaan, Alesa pun berjalan ke arah depan hendak membantu suaminya melayani para pembeli yang sangat ramai.
Para pembeli datang beramai-ramai karena hendak belanja sembako untuk di bawa ke tempat orang meninggal, begitu lah tradisi orang daerah sini jika ada yang meninggal mereka akan datang melayat sembari membawa bahan-bahan sembako.
Agar bahan-bahan itu bisa di gunakan oleh pihak yang sedang berduka, satu persatu para pembeli mengantri panjang di depan warung milik suaminya membuat Alesa dan suaminya bisa terkontrol jika mereka mengantri seperti itu tak harus berdesak-desakan.
"Ini bu kembaliannya, terima kasih" kata Alesa dengan ramah sembari terus menyunggingkan senyuman
Ibu-ibu itu juga menyunggingkan senyumannya saat mendapat senyuman dari Alesa, kemudian mengambil uang kembaliannya dan pergi dari situ bergantian dengan para pembeli yang masih ramai di belakangnya.
Hingga tak terasa akhirnya para pembeli pun mulai berkurang bahkan kini tinggal beberapa orang lagi, dan kembali para pembeli datang tapi tak beramai-ramai lagi namun tetap berguyur sehingga warung milik suaminya tak mutus orang hendak belanja sembako.
Alesa bersyukur warung milik suaminya selalu ramai meski hanya berguyur, namun setidaknya itu sudah menambah uang pemasukan mereka meski ia tidak tau berapa jumlah uang tabungan suaminya karena Alesa tak pernah bertanya yang jelas setiap bulan suaminya tetap rutin memberi uang nafkah padanya.
__ADS_1
Setelah itu Alesa melangkahkan kaki kembali ke ruang TV ingin melanjutkan acaranya menonton sembari berbaring di samping bayi Azzam yang masih tidur bahkan terlihat sangat pulas, Alesa yang berbaring pun lama-lama akhirnya tertidur juga.
Adzan ashar berkumandang
"Alesa....Alesa....." panggil Mas Ilham menggoyangkan pundak Alesa
Alesa yang merasa pundaknya di pegang langsung terbangun dari tidurnya, ia pun segera beranjak kemudian duduk sembari mengucek kedua kelopak matanya dan mengumpulkan seluruh nyawanya yang belum sepenuhnya terkumpul.
"Ada apa Mas?" tanya Alesa setelah nyawanya sudah terkumpul
"Aku mau sholat udah adzan dari tadi, jaga warung. Bayi Azzam juga udah bangun tu" kata Mas Ilham sembari menunjuk ke arah bayi Azzam yang sudah tengkurep
"Iya" jawab Alesa kemudian mengendong bayi Azzam dan membawa ke depan untuk menjaga warung
Sedangkan suaminya langsung melangkahkan kaki ke arah kamar mandi hendak mengambil air wudhu, tak lama kemudian suaminya keluar dari kamar mandi dan berjalan masuk kamar ingin memakai baju koko serta sarung handalannya dan tak lupa memakai peci kesayangannya untuk pergi ke masjid.
Setengah jam kemudian suaminya pulang dari masjid melangkahkan kaki masuk ruko dan lagi-lagi tak ada mengucap salam, Alesa hanya mengangkat kedua bahunya melihat suaminya kumat seperti kemarin yang tiba-tiba mendiamkannya.
Kemudian Alesa berlalu dari hadapan suaminya yang sudah berada di warung, Alesa melangkahkan kaki sembari mengendong bayi Azzam lalu meletakkan bayi Azzam sejenak di kasur dan di beri Alesa mainan yang ada di ruang TV.
Alesa ke kamar mandi hendak mengambil air wudhu namun sebelumnya ia buang air kecil dulu, tapi saat ia buang air kecil ternyata ia kedatangan tamu bulanan sehingga ia mengurungkan niatnya yang hendak mengambil air wudhu dan memilih keluar lagi dari kamar mandi setelah selesai buang air kecil.
Alesa kembali menghampiri bayi Azzam di ruang TV yang tengah bermain sendirian bahkan semua mainan bayi Azzam sudah berceceran kemana-mana karena terlempar ketika bayi Azzam merangkak, Alesa duduk sembari menggerakkan mainan kesana kemari agar di ambil oleh bayi Azzam.
__ADS_1
"Kenapa kamu gak sholat?" tanya Mas Ilham ketika melihat Alesa sedang bermain bersama bayi Azzam
"Lagi datang bulan, Mas. Barusan" jawab Alesa menoleh ke arah suaminya yang berdiri tau jauh dari tempat duduknya
"Ohh...." jawab Mas Ilham kemudian kembali ke depan melanjutkan menjaga warung
Alesa pun sama melanjutkan acara bermain dengan bayi Azzam yang begitu cepat mengerakkan tubuhnya ingin menggapai mainan yang ada di dekat Alesa, Alesa tersenyum saat bayi Azzam berhasil mengambil mainan yang ada di dekatnya.
Waktu terus berjalan tak terasa hari sudah sore Alesa memutuskan untuk mandi bareng bayi Azzam setelah selesai mandi dan memakai pakaian lengkap, Alesa mengajak bayi Azzam jalan-jalan sore di bawah pohon mangga yang ada di samping ruko milik suaminya itu.
"Haii, mbak Alesa" sapa Seseorang dari belakang
Membuat Alesa langsung menoleh ingin tau siapa yang menyapanya bahkan suaranya terdengar sangat lembut, Alesa menyunggingkan senyuman ramahnya kepada orang itu yang tak lain adalah menantu Bu Sri.
"Ada bayi Azzam juga nih, Masyaallah tampan sekali" kata Menantu Bu Sri sembari menoel pipi tembem milik bayi Azzam
"Hallo tante cantik" kata Alesa berbicara dengan ciri khas bayi sembari mengerakkan tangan mungil bayi Azzam
Menantu Bu Sri jadi tersenyum mendengar Alesa menyapanya dengan bicara ciri khas bayi seolah-olah bayi Azzam yang berbicara, menantu Bu Sri pun ikut duduk di kursi yang ada di bawa pohon itu ingin lebih akrab dengan Alesa karena hanya Alesa yang masih muda diantara para tetangga sini.
"Mbak Alesa, udah lama tinggal disini?" tanya Menantu Bu Sri kepada Alesa saat ia sudah duduk di samping Alesa
"Mungkin satu tahun lebih, kamu jadi bakal tinggal disini juga bareng Bu Sri" kata Alesa yang mulai senang ngobrol dengan menantu Bu Sri itu
__ADS_1
"Iya, mbak. Soalnya suami aku juga pindah disini ngajarnya" kata Menantu Bu Sri yang memang anak sulung Bu Sri dulu mengajar di pusat kota namun semenjak menikah memutuskan pindah mengajar disini
Alesa yang mendengar hanya mangut-mangut dan paham dengan penjelasan menantu Bu Sri itu, namun ia sempat menatap sekilas kedua bola mata menantu Bu Sri itu yang terlihat seperti keberatan tinggal disini karena selama ini biasa hidup di kota tentu sedikit sulit untuk tinggal di sebuah desa seperti ini.