Rasa Yang Mati

Rasa Yang Mati
Bab 14


__ADS_3

Selesai mandi dan memakai piyama tidur Alesa memilih duduk santai di depan TV menonton film favoritnya yang sudah hampir sebulan ia lewatkan, ia begitu menikmati film yang ada di layar TV sembari tangannya terus memasukan potongan buah yang ada di dekatnya.


"Kamu gak bantu ibu masak?" tanya Mas Ilham sehabis mandi hendak ke kamar melihat Alesa tengah menonton TV


"Gak, ibu gak nyuruh" jawab Alesa tanpa menoleh ke arah suaminya dan tetap fokus dengan layar TV


"Ohh" jawab Mas Ilham sembari menganggukkan kepala dan melangkah masuk ke dalam kamar


Selepas suaminya masuk ke dalam kamar Alesa baru menoleh memastikan suaminya sudah tidak ada lagi di dekatnya, Alesa hanya tersenyum sembari berdoa semoga saja suaminya paham kalau di rumah orang tuanya ia sangat di manja bagaikan ratu yang tak boleh menyentuh pekerjaan rumah.


Tidak seperti di rumah mertuanya ia bagaikan babu yang segala pekerjaan di kerjakannya bahkan tak di bolehkan untuk istirahat meski sebentar, jika di ruko tempat tinggal mereka mungkin Alesa tak masalah karena baginya itu sebuah kewajibannya untuk mencari ridho suaminya makanya ia mau mengerjakan pekerjaan rumah.


Alesa pun kembali fokus dengan layar TV yang tengah menyalah, ia ingin menikmati hari-harinya mumpung masih menginap di rumah orang tuanya selagi ia sebelum pulang ke ruko tempat tinggal mereka.


"Mana Ilham sa?" tanya Ayahnya Alesa kepada sang anak yang tengah menonton TV


"Di dalam kamar yah, mau Alesa panggilkan?" kata Alesa menoleh ke arah sang ayah


"Iya, Ayah mau ngajak Ilham main catur di teras depan" kata Ayahnya Alesa sembari mengambil box catur yang ada di lemari TV


Alesa segera beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar, tiba dalam kamar ia melihat suaminya yang tengah memainkan gawai sembari rebahan di atas tempat tidur lalu Alesa pun langsung memberitahu suaminya bahwa sang ayah mencarinya dan mengajak suaminya bermain catur di teras depan.

__ADS_1


Suaminya pun langsung beranjak saat mendengar dari Alesa bahwa mertuanya mencarinya, suaminya pun ikut melangkahkan kaki keluar kamar dan kemudian suaminya melangkahkan kaki ke arah teras depan di mana mertuanya saat ini berada.


"Yah.." panggil Mas Ilham sembari duduk berhadapan dengan mertuanya


"Ayo, kita main catur. Bukannya kamu juga suka main catur" kata Ayahnya Alesa sembari menyusun buah catur di atas papan catur di tempat yang sesuai


"Suka yah, tapi udah lama banget Ilham gak main catur" kata Mas Ilham sembari membantu mertuanya menyusun buah catur


Suaminya Alesa dan sang ayah pun mulai bermain catur dengan teliti sembari berpikir untuk saling mengalahkan satu sama lain, tak berapa lama sang ibu membawakan dua gelas teh hangat serta gorengan tempe dan pisang yang masih panas terlihat dari asap yang mengepul.


Alesa mengintip suaminya dan sang ayah yang tengah bermain catur di balik kaca jendela yang tertutup hordeng, ia berharap dengan kedua orang tuanya memperlakukan suaminya dengan sangat baik suaminya bisa berubah dan akan memperlakukannya dengan baik juga seperti awal-awal mereka menikah dulu.


"Ngapain disitu?" tanya Ibunya Alesa saat masuk ke dalam melihat sang anak tengah mengintip di balik kaca jendela


Sang ibu tersenyum sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang anak yang menurutnya aneh, jika mau melihat kenapa harus mengintip di balik kaca jendela segala kenapa gak sekalian menemani suaminya di luar saja jadi bisa lebih puas melihatnya.


Alesa pun mengikuti langkah kaki sang ibu seperti anak ayam yang tak mau berjauhan dengan sang induk ayam, Alesa juga memperhatikan gerak gerik sang ibu yang tengah sibuk menata semua masakan sang ibu tadi di atas karpet yang ada di lantai dapur.


"Kamu ni kenapa sih?" tanya Ibunya Alesa yang masih heran dengan tingkah sang anak


"Gak kenapa-napa bu, tumben Ibu masak banyak banget" kata Alesa yang melihat hidangan di atas karpet itu banyak jenis makanan

__ADS_1


"Kapan lagi masak banyak buat anak bungsu ibu, mumpung lagi nginep disini. Kan semua ini juga gak beli, sayur tinggal petik di belakang, ikan tinggal pancing di kolam belakang dan tempe kan ibu bikin sendiri" jawab Ibunya Alesa menjelaskan kepada sang anak


"Memangnya Ibu masih produksi tempe?" tanya Alesa kepada sang ibu


"Masih donk, semua tukang sayur disini ngambil tempe buat jual lagi dengan Ibu, yang menjual gorengan juga ngambil disini" jawab Ibunya Alesa lagi


Alesa mangut-mangut paham dengan penjelasan sang ibu, dari dulu ibunya memang memproduksi tempe sendiri selain tau kehigienisannya dan bisa di jual lagi yang pastinya bisa menghasilkan uang meski tak banyak tentu cukup untuk kebutuhan kedua orang tuanya.


Apalagi semenjak ia lulus SMA kedua orang tuanya sudah tak memiliki tanggungan karena ia sudah bisa menghasilkan uang sendiri, dan kedua kakak laki-lakinya juga sudah pada menikah serta mempunyai penghasilan sendiri juga.


Dan kedua orang tuanya juga tak perlu membeli sayur dan ikan karena mereka menanam sayur sendiri di halaman belakang yang memang sangat luas dan memelihara ikan sendiri karena ada kolam di halaman belakang juga, makanya sang ayah tak bekerja lagi semenjak tak memiliki tanggungan dan fokus mengurus ikan-ikan peliharaannya.


Meski kedua orang tuanya tak sekaya mertuanya namun setidaknya kedua orang tuanya tetap bisa hidup serba kecukupan tanpa kekurangan sedikit pun, Alesa bersyukur kedua orang tuanya masih di beri kesehatan sehingga ia sebagai anak tak begitu khawatir jauh dari kedua orang tuanya.


Matahari sudah mulai terbenam kini telah berganti malam, adzan magrib berkumandang sang ayah mengajak suaminya untuk pergi ke masjid yang tak terlalu jauh dari rumah orang tua Alesa ingin menunaikan sholat magrib berjamaah.


Sedangkan Alesa sholat di rumah berjamaah dengan sang ibu, setelah sholat Alesa dan sang ibu sudah berada di dapur menyiapkan alat makan serta air minum di letakkan di samping makanan yang sudah terhidang di atas karpet menunggu kepulangan sang ayah dan suaminya dari masjid.


"Assalamualaikum" ucap Mas Ilham dan Ayahnya Alesa secara bersamaan


"Walaikumsalam" jawab Alesa dan ibunya dari arah dapur

__ADS_1


Setelah berganti pakaian suaminya Alesa dan sang ayah segera menyusul Alesa dan sang ibu yang berada di dapur, kini mereka berempat makan malam dengan begitu nikmati apalagi menu makanannya sangat banyak bahkan suaminya Alesa yang awalnya malu-malu kini sudah tak malu lagi buat menambah setelah kedua mertuanya memintanya untuk menambah.


__ADS_2