
Setelah memakai pakaian lengkap suaminya melangkahkan kaki ke depan untuk menjaga warung lagi, sedangkan Alesa kini kembali menjaga bayi Azzam sekalian ingin menyusui bayi Azzam yang kelihatannya sudah lapar dan mulai mengantuk.
Satu jam telah berlalu bayi Azzam akhirnya tertidur dan Alesa segera meletakkan bayi Azzam ke kasur bayi lagi, karena kebetulan tak ada kerjaan Alesa memilih untuk tetap duduk di samping bayi Azzam sembari menonton TV yang tengah menyala.
Waktu terus berjalan tak terasa kini matahari sudah berada di tengah-tengah, setelah suaminya dan ibu mertuanya selesai makan kini bergantian dengan Alesa yang memang kebetulan selalu memilih terakhir untuk makan karena ia ingin menikmati makannya apalagi sekarang menjaga bayi Azzam dan ada yang menjaga warung.
Bukan Alesa memanfaatkan keadaan hanya saja ia berpikir kapan lagi ia memiliki waktu menikmati makan, mumpung ibu mertuanya masih disini dan senang menjaga bayi Azzam lagian sepertinya kekejaman ibu mertuanya telah hilang semenjak ia melahirkan cucu laki-laki untuk beliau.
Tapi sekarang yang muncul kecerewetan meski Alesa tau ibu mertuanya cerewet karena gak mau bayi Azzam kenapa-napa yang artinya ibu mertuanya sayang donk dengan bayi Azzam, terlalu lama melamun Alesa tak sadar kalau makanan yang ada di piringnya telah habis.
"Alesa, kamu itu di dapur makan apa tidur. Lama banget, gak denger apa bayi Azzam nangis dari tadi" kata Ibu mertuanya Alesa menghampiri Alesa di dapur sembari mengendong bayi Azzam yang sedang menangis
"Alesa udah selesai kok bu, makan. Sini bayi Azzam-nya" kata Alesa langsung beranjak dan mencuci tangan di wastafel
Alesa segera mengambil bayi Azzam yang sedang menangis dari ibu mertuanya, kemudian Alesa membawa bayi Azzam ke ruang TV lalu mulai menyusui bayi Azzam lagi dan di sambut bayi Azzam dengan antusias sepertinya bayi Azzam menangis karena kelaparan.
Bayi Azzam pun sudah tenang dan tak menangis lagi bahkan menyusu dengan Alesa sangat kuat, Alesa merasa bersalah tadi ia lupa menyusui bayi Azzam makanya bayi Azzam sangat kelaparan padahal biasanya Alesa ingat bahwa menyusui bayi Azzam itu dua jam sekali.
"Ilham, istri kamu itu di tegur kek kalau gak bisa ngurus bayi Azzam jangan di biarin gitu aja. Lihat sendiri kan tadi istri kamu makan lama banget dan ngebiarin aja bayi Azzam nangis, jadi ibu kok gak siap siaga" kata Ibu mertuanya Alesa mengompori suaminya yang kini sedang duduk santai di warung
__ADS_1
"Iya bu" jawab Mas Ilham singkat karena malas memperpanjang masalah
"Ahh kamu itu, iya-iya aja. Kamu itu suaminya harus tegas jadi kepala keluarga, kalau banyak diam istri jadi keras kepala dan ngelunjak" cerocos Ibu mertuanya Alesa lagi
Sepertinya ibu mertuanya sengaja berbicara sangat besar agar Alesa yang di ruang TV mendengar semua omongannya, Alesa hanya geleng-geleng kepala mendengar ibu mertuanya yang sengaja mengompori suaminya apalagi memang akhir-akhir ini suaminya sudah jarang marah-marah dengannya.
Alesa bersyukur dengan suaminya lebih banyak diam ketimbang marah-marah tak jelas kayak sebelum-sebelumnya, namun Alesa tak bisa menjamin perubahan sifat suaminya itu selamanya akan seperti itu apalagi menurut Alesa suaminya itu memiliki sifat seperti bunglon.
Karena malas mendengar ocehan ibu mertuanya, Alesa dengan sengaja mengajak bayi Azzam bermain kerincingan dengan suara yang sedikit di keraskan Alesa bahkan Alesa membuat wajah lucu di depan bayi Azzam dan di sambut dengan bayi Azzam tertawa sedikit keras juga meski tak terlalu kedengaran sampai ke depan.
.
.
Alesa pun ikut menikmati sore hari bersama bayi Azzam duduk di teras depan dengan suaminya juga yang tumben-tumben mau menemani Alesa, sedangkan ibu mertuanya entah sudah ngilang kemana sehabis sholat ashar sudah tak nampak batang hidungnya di ruko milik suaminya.
"Ilham...ham..." panggil Ibu mertuanya Alesa yang tiba-tiba muncul entah dari mana
Baru saja Alesa berpikir pergi kemana ibu mertuanya itu, tapi tau-taunya udah muncul saja di hadapan Alesa dan suaminya serta bayi Azzam merusak suasana hati Alesa yang tengah menikmati kebersamaan dengan keluarga kecilnya yang jarang sekali terjadi.
__ADS_1
"Ibu dari mana? Selesai sholat pas keluar dari masjid tadi kok gak langsung pulang" kata Mas Ilham yang ke heranan dengan sang ibu di tambah sang ibu masih memegang mukena yang terbalut dengan sajadah
"Ahh, gak perlu tau ibu dari mana. Ibu minta duit, ham. Buat beli bakso bareng Bu Sri di warung sana yang baru buka, katanya enak loh baksonya" kata Ibu mertuanya Alesa sembari menadahkan tangannya mau minta uang dengan suaminya
Alesa yang melihat ibu mertuanya minta uang tanpa malu di hadapan Alesa hanya mengerutkan keningnya, bukankah ibu mertuanya bilang banyak uang tapi kenapa sekarang minta dengan suaminya bahkan hanya untuk membeli bakso terus uang yang di beri menantu kesayangannya kemarin kemana masak sudah habis.
"Entar Ilham ambilkan, tapi ibu taruh dulu mukena itu ke dalam masak ibu mau ke warung bakso bawa-bawa mukena segala" kata Mas Ilham yang langsung beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki masuk ke dalam
"Ahh iya hampir saja ibu lupa" kata Ibu mertuanya Alesa sembari ikut melangkahkan kaki masuk ke dalam
Hanya berapa menit suaminya sudah kembali duduk di samping Alesa, kemudian ibu mertuanya juga keluar dari ruko namun ada yang berbeda dari ibu mertuanya setelah dari dalam barusan membuat Alesa semakin mengerutkan keningnya dan rasanya Alesa ingin tertawa saat ini juga.
"Ibu, kok pakai dandan segala. Ibu kan mau ke warung bakso bukan mau pergi arisan" tegur Mas Ilham kepada sang ibu yang terlihat menor apalagi dengan lipstik di bibirnya yang merah menyala seperti kobaran api
"Gak apa-apalah ham, Bu Sri aja dandan terus kok. Masak ibu gak boleh, mana duitnya" kata Ibu mertuanya Alesa kembali menadahkan tangannya
"Ini duitnya, sekalian bungkusin buat Ilham dengan Alesa" kata Mas Ilham menyerahkan uang berwarna merah satu lembar
"Ya allah ham pelit banget masak kamu kasih ibu cuma 100.000 tambah lagi donk nanti kurang" kata Ibu mertuanya Alesa terkejut melihat uang yang di serahkan suaminya barusan
__ADS_1
"Cukuplah bu, memangnya ibu makan bakso di restoran sampai 100.000 kurang" kata Mas Ilham kekeh memberikan uang berwarna merah hanya satu lembar