
Sekian lama berada di pemakaman Alesa dan suaminya, kini semua anggota keluarga baik pihak Alesa maupun pihak suaminya pun segera beranjak dari situ meninggalkan pemakaman tersebut dan hendak kembali ke kediaman Sisil.
Hanya berapa menit mereka semua telah tiba di kediaman Sisil, saat ini mereka berdiam diri di sofa ada yang di ruang tamu ada di ruang keluarga dan tak berapa lama nasi kotak pesanan Rangga datang untuk di berikan kepada semua yang ada disitu.
Karena Rangga yakin semuanya belum pada makan siang, apalagi sekarang waktu sudah menunjukan pukul 01.30 bahkan sholat dzuhur mereka pun sempat tertunda dan Rangga yang teringat akhirnya mengingatkan mereka semua.
Setelah makan mereka semua memilih sholat berjamaah di ruang sholat yang ada di kediaman Sisil dan syukurnya lumayan besar buat menampung semuanya, selesai sholat mereka kirim doa buat Alesa dan suaminya yang kini sudah tenang di alam mereka.
Dan kini mereka kembali ke tempat semula pihak anggota keluarga Alesa memilih duduk di sofa ruang tamu, sedangkan pihak anggota keluarga suaminya duduk di sofa ruang keluarga sembari masih berusaha menenangkan ibu mertuanya Alesa yang masih belum ikhlas atas kepergian anak kesayangannya itu.
Drrtt.....
Gawai milik kakak kedua Alesa berbunyi, segera ia mengambil gawainya yang ada di dalam saku celananya dan di lihatnya layar gawainya yang menyala serta menampilkan nama sang istri kemudian di terimanya sambungan telepon tersebut.
"Hallo, Assalamualaikum bang" kata Istri kakak kedua Alesa saat sambungan tersambung
"Iya hallo, walaikumsalam ada apa yank?" tanya Kakak kedua Alesa yang bisa mempekirakan bahwa sang istri menelepon pastu ada sesuatu yang penting
"Bang, Azzam udah sadar. Saat ini dia nyari ayah dan bundanya, kami bingung bagaimana mau jelasinnya apalagi Azzam ingat kejadian kecelakaan itu" kata Istri kakak kedua Alesa yang terdengar bingung di sembarang telepon
"Bilang aja untuk istirahat dulu, nanti abang dengan yang lain kesana sekarang" kata Kakak kedua Alesa yang jadi prihatin dengan keponakannya itu
__ADS_1
"Baiklah bang, agak cepatan ya kesininya. Soalnya Azzam udah mulai merengek" kata Istri kakak kedua Alesa lagi
"Oke, ya sudah aku tutup teleponnya" jawab Kakak kedua Alesa sembari mematikan sambungan telepon
Setelah sambungan telepon berakhir kakak pertama Alesa langsung bertanya ada kabar apa, meski sebenarnya tadi ia sempat mencuri dengar pembicaraan sang adik dengan orang di seberang telepon.
Kakak kedua Alesa pun menjelaskan dan saat ini hendak ke rumah sakit ingin melihat keadaan Azzam, dan ternyata semua pihak anggota keluarga Alesa memutuskan ingin ke rumah sakit semua.
Mereka pun segera pamit dengan Sisil dan keluarga yang lain, Sisil saat ini belum bisa melihat keadaan Azzam apalagi melihat kondisi ibu kandungnya yang masih sangat terpukul jadi tak tega untuk di tinggalkan.
Belum lagi Sisil ingin mempersiapkan acara tahlilan malam ini, dan syukurnya tadi Sisil sudah memesan nasi kotak buat acara tahlilan malam ini dan akan di antara sore menjelang magrib.
Setelah pamit semua pihak anggota keluarga Alesa segera memesan satu taksi online, kemudian saat mobil taksi sudah tiba mereka segera masuk ke dalam mobil taksi tersebut dan minta antar ke rumah sakit pusat kota.
Mereka semua segera melangkahkan kaki masuk ke rumah sakit, berjalan beriringan di koridor rumah sakit yang tampak sangat ramai karena banyak pasien hendak berobat atau hanya kontrol.
"Azzam...." panggil Ibunya Alesa saat sudah tiba di depan ruang rawat Azzam langsung masuk ke dalam ruang rawat tersebut
"Nenek, mengapa bunda dan ayah ninggalin Azzam sendirian" kata Azzam saat melihat sang nenek langsung menghamburkan pelukan
"Bunda dan ayah hanya pergi sebentar kok, Azzam jangan sedih ya" kata Ibunya Alesa berusaha menenangkan sang cucu agar tak larut dalam kesedihan
__ADS_1
"Gak mungkin nek, tadi bunda dan ayah kesini jingguk Azzam. Terus mereka pamit dengan Azzam, bilangin Azzam jangan nakal harus nurut apa kata nenek" kata Azzam panjang lebar menceritakan bahwa sempat bertemu dengan kedua orang tuanya
Deg
Semua orang yang ada di dalam ruangan terdiam seribu bahasa, mereka semua tak menyangka ternyata roh Alesa dan roh suaminya sempat mengunjungi Azzam bahkan pamitan dengan Azzam.
Mereka semua hanya bisa saling lirik tak bisa lagi mengelak dan membohongi Azzam, jika Azzam sudah tau kalau kedua orang tuanya takkan pernah kembali lagi dan takkan bisa lagi bersama Azzam.
Sang nenek pun mempererat pelukannya kepada Azzam, benar-benar tak tau lagi harus bagaimana mereka saja masih tak percaya jika ternyata Alesa dan suaminya sudah pergi meninggalkan mereka semua selama-lamanya.
Azzam pun kembali menangis dan kini mengerti dengan diamnya semua orang bahwa memang kenyataan kalau kedua orang tuanya telah meninggalkannya sendirian, Azzam mulai memberontak dalam pelukan sang nenek mengapa kedua orang tuanya tak sekalian mengajaknya jika ingin pergi untuk selamanya.
"Azzam bukannya tadi bunda bilang jangan nakal dan harus nurut apa kata nenek, Azzam tau gak kenapa Azzam gak di ajak oleh bunda dan ayah pergi?" kata Istri kedua kakak Alesa berusaha memberi penjelasan sedikit dengan Azzam agar Azzam mengerti
Azzam hanya menggelengkan kepala yang artinya tak tau mengapa ia tak di ajak oleh kedua orang tuanya pergi juga, namun karena Azzam tipe anak kecil yang ingin tau akhirnya bertanya mengapa ia tak di ajak.
"Karena bunda dan ayah ingin Azzam jadi anak soleh, agar bisa mendoakan bunda dan ayah di surga. Bunda dan ayah Azzam udah bahagia di surga, jadi tugas Azzam disini jadi anak soleh. OKE" kata Istri kakak kedua Alesa sembari mengelus pucuk kepala Azzam
Azzam diam sesaat kemudian ia mengingat kembali masa-masa saat masih bersama bundanya, yang selalu mengingatkan untuk menjadi anak soleh agar bisa bermanfaat untuk kedua orang tua dan orang-orang di sekitarnya.
Lalu Azzam pun menganggukkan kepala mengerti maksud perkataan tantenya, Azzam tak mau terlihat sedih lagi sehingga ia segera menyeka air matanya dan menyunggingkan senyuman berusaha kuat.
__ADS_1
Semua yang ada disitu pun akhirnya bisa bernapas lega, mereka semua ikut tersenyum melihat Azzam sudah bisa menerima kenyataan tersebut dan mereka tak menyangka Azzam sekecil itu sudah bisa mengerti.
Ini semua berkat didikan Alesa yang begitu baik dan telaten sehingga Azzam tumbuh menjadi sosok anak yang pengertian dan pintar, mereka semua berharap ke depannya masa depan Azzam jauh lebih baik.