
Waktu berjalan begitu cepat hari ini Azzam sudah di perboleh pulang oleh Dokter, karena keadaan Azzam juga sudah membaik meski Azzam terkadang masih sering bermimpi bertemu kedua orang tuanya.
Sehingga membuat psikis Azzam sedikit terganggu, tapi Azzam tetap berusaha menampakkan wajah ceria di depan semua orang namun keadaan sesungguhnya hanya di pendamnya sendirian.
Setelah itu Azzam segera turun dari ranjang pasiennya dan melangkahkan kaki sembari mengandeng tangan sang nenek, semua pihak anggota keluarga Alesa mau pun pihak anggota keluarga suaminya saat ini berkumpul di rumah sakit menyambut kepulangan Azzam.
Beberapa orang antusias ingin merawat dan mengasuh Azzam, namun Azzam tak mau karena pesan bunda dalam mimpinya ia harus ikut bersama sang nenek dan sang kakek sebelah pihak bundanya.
Soalnya yang tampak sangat sayang Azzam memang kebanyakan pihak anggota keluarga sebelah bundanya, meski ada juga sebagian pihak anggota keluarga sebelah ayahnya sayang dengannya namun Azzam tak mau.
Hingga akhirnya pihak anggota keluarga suaminya Alesa mengalah jika memang Azzam mau ikut kedua orang tua Alesa, tak bisa juga memaksa karena semua kehendak Azzam sendiri.
Setelah administrasi di bayari oleh Sisil, Azzam pun pamit dengan semua pihak anggota ayahnya satu persatu jika ia hari ini juga akan ikut ke kediaman sang nenek dan sang kakek sebelah bundanya.
"Jangan nakal ya, di rumah nenek dengan kakek. Harus jadi anak penurut dan soleh" kata Sisil pada Azzam sembari berjongkok di hadapan Azzam
"Iya, tante" jawab Azzam sembari menyunggingkan senyuman
Sisil pun segera memeluk Azzam, Sisil masih merasa kasihan dan prihatin dengan nasib Azzam yang harus menjadi anak yatim piatu di usia yang masih kecil Sisil pun hanya bisa memberi masukan dan kasih sayang yang tak sebesar Alesa.
Setelah pamit dengan tante Sisil, Azzam beralih ke yang lain dan sama Azzam mendapat sebuah pelukan meski Azzam menerimanya hanya diam mematung tanpa membalas karena Azzam tak mau terlihat lemah di depan semua orang.
__ADS_1
Dan kini mereka semua berpisah di depan rumah sakit, Sisil dan keluarganya kembali ke kediaman Sisil sedangkan kedua kakak laki-laki Alesa dan keluarganya segera ingin kembali ke tempat tinggal mereka.
Lalu Azzam bersama sang kakek dan sang nenek mengendarai sepeda motor menuju ke kediaman sang kakek dan sang nenek yang kebetulan hanya dua jam dari pusat kota, sepanjang perjalanan Azzam hanya diam dan tak bersuara sama sekali.
Tanpa terasa akhirnya Azzam dan sang kakek serta sang nenek telah tiba di kediaman mereka, kemudian Azzam segera turun setelah sang kakek menghentikan sepeda motor tepat di halaman rumah.
Sang nenek segera mendekat ke arah pintu dan membukanya, kemudian mengandeng Azzam untuk masuk ke dalam rumah yang sudah hampir seminggu di tinggalkan mereka karena kemarin sibuk di pusat kota.
Setelah di dalam rumah Azzam langsung menuju kamar tidur tempat bundanya dulu masa gadis, kamar tidur itu terlihat rapi dari terakhir bundanya dan ayahnya serta ia yang menginap satu tahun yang lalu waktu idul fitri.
Azzam mendekati meja rias milik bundanya itu, kemudian melihat sebuah figur foto bundanya sewaktu masih sekolah dengan seragam putih abu-abu terlihat cantik dan imut namun tiba-tiba Azzam menitikkan air mata.
Satu kata yang ada di dalam hati Azzam, Azzam benar-benar merindukan sosok bundanya yang selalu menjaga dan merawatnya dari bayi sampai sekarang bahkan Azzam sangat merindukan setiap ocehan bundanya yang mengajarinya ini itu.
"Bahagia selalu ya Bun disana sama Ayah" kata Azzam mengelus figur foto itu kemudian di ciumnya
Semenjak Azzam tiba-tiba langsung masuk ke dalam kamar tidur bundanya, sang nenek memperhatikan Azzam dari tadi di ambang pintu yang kebetulan tak di tutup rapat oleh Azzam masih sedikit ada celah.
Sehingga sang nenek bisa melihat apa saja yang di lakukan Azzam, bahkan sang nenek juga ikut menitikkan air mata tak kuat rasanya melihat anak sekecil Azzam sudah harus menerima takdir ini.
Namun sang nenek yakin pasti tuhan sudah memiliki rencana yang sangat baik untuk Azzam, sehingga Azzam di beri ujian sebesar ini dan sang nenek sangat yakin Azzam bisa melewati ini semua.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Ayahnya Alesa saat masuk ke dalam rumah melihat sang istri berada di ambang pintu kamar Alesa masa gadis dulu
"Gak ada apa-apa, aku hanya masih prihatin dan kasihan dengan Azzam. Masih kecil sudah menjadi anak yatim piatu, padahal saat ini ia lagi butuh-butuhnya perhatian dan kasih sayang" kata Ibunya Alesa menampakkan raut wajah sedih lagi
"Yakin bu, tuhan pasti punya rencana di balik ini semua" kata Ayahnya Alesa sembari mengelus pundak sang istri
Ibunya Alesa pun menganggukkan kepala, kemudian segera pergi dari situ dan memilih menuju dapur ingin memasak lauk pauk untuk makan malam mereka nanti ia berencana membuatkan makanan favorit Azzam.
Agar sang cucu tak sedih lagi, dan disinilah ibunya Alesa berada di dapur mulai mengeluarkan bahan-bahan yang ada di kulkas lalu menyiapkan apa saja yang hendak di masak kemudian di bersihkannya semua bahan-bahan itu.
Hanya setengah jam semua masakan yang di masak oleh ibunya Alesa telah matang, bahkan ibunya Alesa sudah menyimpan semua lauk pauk itu ke dalam lemari tempat penyimpanan khusus untuk lauk pauk.
Setelah itu ibunya Alesa langsung membersihkan semua alat masak yang di pakainya barusan, dengan cekatan dan tangan yang lincah semuanya sudah terlihat bersih serta rapi.
Karena sebentar lagi adzan ashar, ibunya Alesa memutuskan untuk membersihkan tubunya yang penuh dengan peluh dan yang terasa sangat lengket karena kebetulan sekali cuaca hari ini sangat panas.
"Yah, sholat ashar nanti ajak Azzam juga ya. Sekalian daftarin Azzam buat belajar mengaji dengan ustad" kata Ibunya Alesa setelah membersihkan tubuhnya dan berada di dalam kamar bersama sang suami
"Iya bu, semoga Azzam betah disini dan banyak teman agar ia sedikit lupa dengan kesedihannya" kata Ayahnya Alesa yang saat ini sedang duduk bersandaran di sandaran tempat tidur
"Aaamiiiin" jawab Ibunya Alesa berharap
__ADS_1