
Setelah Alesa membeli semua perlengkapan bayi yang di perlukan, Alesa dan suaminya pun kembali melangkahkan kaki mereka secara beriringan hendak pulang ke ruko tempat tinggal mereka namun saat melewati beberapa toko pakaian Alesa melepaskan tangannya yang dari tadi mengandeng tangan suaminya.
Alesa berhenti di salah satu toko pakaian, berdiri mematung memperhatikan sebuah gamis yang begitu bagus yang melekat di sebuah patung lalu Alesa merogoh saku gamisnya namun ia baru sadar bahwa tadi pagi terlalu buru-buru jadi tak memasukan uang simpanan sepersen pun di dalam saku gamisnya.
"Kenapa berhenti disini, nanti sampai ruko ke buru sore" kata Mas Ilham mendekati Alesa saat menyadari Alesa sudah melepaskan tangan dari tangannya
Alesa hanya diam sembari matanya terus berbinar melihat gamis yang melekat di sebuah patung, suaminya langsung mengikuti arah pandangan Alesa yang ternyata tengah memperhatikan gamis yang melekat di sebuah patung itu.
"Cari apa mbak? Ayo mampir" ucap Karyawan toko pakaian itu dengan ramah
"Kita lihat-lihat dulu" jawab Mas Ilham sembari menyunggingkan senyuman
Suaminya Alesa masuk ke dalam toko pakaian itu lalu melihat bandrol harga gamis yang melekat di sebuah patung itu, ternyata harga gamis itu 300.000 dan suaminya Alesa pun langsung mengurungkan niatnya yang tadinya ingin membelikan Alesa gamis itu.
"Harganya mahal banget, mending beli gamis yang lain" kata Mas Ilham sembari menggandeng tangan Alesa untuk pergi dari toko pakaian itu
"Tapi aku pengen gamis itu, Mas. Aku pinjam uang Mas dulu, entar di ruko aku ganti" kata Alesa saat langkah kaki mereka sudah menjauh dari toko pakaian tadi
"Gak akh, mending kamu beli gamis lain yang harga 50.000 atau 100.000 bisa dapat berapa lembar" kata Mas Ilham teguh dengan pendiriannya
Alesa pun terdiam dan tak berselera lagi untuk membeli gamis lain karena gamis yang ia pengen tak di perbolehkan suaminya untuk membeli, Alesa pun memutuskan untuk mengajak suaminya pulang saja.
__ADS_1
Tentu suaminya setuju dengan keputusan Alesa yang mengajaknya pulang, Alesa dan suaminya segera melangkahkan kaki mereka ke arah sepeda motor mereka yang terparkir di parkiran pasar tradisional itu.
Setelah tiba di parkiran suaminya segera mengeluarkan sepeda motornya dari parkiran dengan di bantu oleh tukang parkir, lalu suaminya naik bersamaan Alesa juga naik ke jok belakang dan sepeda motor pun mulai di lajukan oleh suaminya setelah membayar uang parkir.
Sepanjang perjalanan Alesa terdiam masih membayangkan gamis yang ia pengen tadi, Alesa juga berandai-andai dalam pikirannya coba saja tadi pagi ia tidak terburu-buru pasti uang simpanannya di bawanya setiap kali ia hendak pergi bersama suaminya namun tadi ia benar-benar lupa.
Setelah melakukan perjalanan lumayan jauh Alesa dan suaminya pun tiba di ruko tempat tinggal mereka, suaminya segera memasukan sepeda motornya ke teras ruko miliknya lalu turun dari sepeda motor setelah Alesa turun terlebih dahulu.
Alesa masuk lebih dulu dari suaminya setelah membuka rolling door ruko milik suaminya itu, Alesa langsung menuju ke kamar mereka sembari membawa satu plastik berukuran besar yang berisi perlengkapan bayi yang di belinya tadi.
Alesa segera membongkar dan melihat-lihat lagi perlengkapan bayi yang di belinya tadi, satu persatu baju-baju bayi itu di jejer oleh Alesa sembari ia terus tersenyum memegang baju-baju bayi itu karena ia tak sabar menanti kelahiran anak mereka yang tinggal satu bulan lagi.
"Jangan di simpan, langsung di cuci semua perlengkapan bayi itu. Biar bersih dan anak kita pas memakainya tidak gatal-gatal" kata Mas Ilham sembari meletakkan kasur bayi yang satu set dengan kelambu yang di pilih Alesa tadi
Alesa segera beranjak hendak mengambil keranjang yang biasa jadi tempat baju kotor, kemudian di masukannya semua perlengkapan bayi itu ke dalam keranjang baju kotor itu dan besok pagi akan langsung di cucinya.
Setelah itu Alesa mencuci wajahnya yang habis dari berpergian dan tak lupa ia juga mengganti gamis yang melekat di tubuhnya dengan daster panjang handalannya jika berada di dalam ruko, lalu Alesa kembali ke kamar dan mendekati tempat tidur hendak istirahat sebentar.
Waktu terus berjalan matahari kini sudah terbenam di ufuk barat dan berganti dengan gelapnya malam, Alesa sibuk menata makanan yang di beli mereka pas berpergian tadi dan di tatanya atas karpet bersamaan dengan piring sendok gelas serta air minum satu teko.
"Mas makan malam udah siap, ayo makan" kata Alesa setelah semuanya tertata rapi di atas karpet
__ADS_1
Suaminya Alesa yang baru pulang dari masjid sehabis sholat magrib mengganti baju kokohnya dan sarungnya dahulu dengan kaos oblong dan celana pendek berbahan jeans, kemudian baru suaminya mendekati Alesa yang sudah duduk lesehan di atas karpet.
Alesa dan suaminya mulai makan malam tanpa mengeluarkan suara apapun hanya terdengar dentingan sendok yang menyentuh permukaan piring, baru berapa suap Alesa memasukan nasi ke dalam mulutnya sudah terdengar ada pembeli di warung milik suaminya hingga mau tak mau Alesa melayani pembeli dahulu.
Selesai melayani pembeli Alesa kembali ke dapur dan melanjutkan makannya, namun lagi-lagi ada orang di warung milik suaminya hendak membeli dan tentu Alesa kembali menghentikan makannya dan melayani pembeli lagi.
Kebiasaan ini sering terjadi semenjak mereka menikah, suaminya tak mau melayani pembeli malahan menyuruh Alesa dan Alesa sebenarnya tak masalah apalagi menurutnya selagi apa yang di suruh suaminya itu hal baik tentu ia akan menurut.
Setelah selesai makan suaminya langsung meninggalkan bekas makannya begitu saja dan berjalan menuju warungnya, Alesa yang kebetulan masih belum selesai makan tentu masih melanjutkan makannya dan setelah selesai baru ia membereskan sisa makan mereka.
"Alesa... Alesa sini cepat" teriak Mas Ilham di depan
Alesa yang sedang mencuci piring kotor di wastafel langsung menghentikan pekerjaannya, kemudian mencuci tangannya dahulu lalu buru-buru ke depan menghampiri suaminya yang berteriak memanggil namanya.
"Ada apa Mas?" tanya Alesa saat sudah berada di dekat suaminya
"Hitung ulang belanjaan Ibu ini, Ibu ini bilang kamu salah hitung" kata Mas Ilham yang kelihatannya sedang marah
Alesa pun langsung mengerjakan apa yang di perintah suaminya, dengan hati-hati dan telaten Alesa menghitung ulang belanjaan ibu yang di layaninya pas waktu mereka makan tadi.
"Gimana berapa semua belanjaan ibu ini?" tanya Mas Ilham mulai menaikkan nada bicaranya
__ADS_1
"73.000 Mas" jawab Alesa memasukan kembali belanjaan ibu itu ke dalam kantong plastik dengan tangan gemetar karena ia sadar ia telah membuat kesalahan.