
Alesa bersyukur tiga hari semenjak kepulangan adik iparnya sekarang, ia sudah tak merasa begitu lelah mengerjakan pekerjaan rumah milik mertuanya karena adik iparnya banyak membantunya meski sering kali ibu mertuanya melarang tapi adik iparnya yang memang keras kepala tak mau mendengarkan ucapan sang ibu.
Bahkan ketika siang hari Alesa bisa tertidur dengan pulas di kamar adik iparnya yang selalu memintanya istirahat di kamarnya agar anggota keluarga di rumah ini tidak tau bahwa ia sedang beristirahat, dan akhir-akhir ini juga hubungannya dengan suaminya semakin tak jelas karena ia yang lelah menghadapi sifat suaminya memilih untuk mengabaikan dan mendiamkan suaminya.
Hanya saja kewajibannya sebagai seorang istri tetap di lakukannya seperti melayani suaminya jika suaminya hendak makan atau minta buatkan kopi, selesai memasak untuk makan siang dan menata semua makanan di atas meja makan Alesa dan adik iparnya mengambil makanan terlebih dahulu lalu membawa makanan tersebut ke dalam kamar adik iparnya dan akan memakannya disana.
"Mas, makanan udah siap" kata Alesa memberi tahu suaminya yang saat ini tengah berbaring di dalam kamar
"Iya" jawab Mas Ilham jutek
Alesa kadang heran dengan kelakuan suaminya sekarang, seharusnya ia lah yang marah jutek serta jengkel terhadap suaminya bukan malah suaminya yang kini marah dan jutek terhadapnya memang suaminya yang aneh menurut Alesa.
Setelah semua anggota keluarga berkumpul di meja makan dan duduk di kursi mereka masing-masing, Alesa dengan telaten mengambilkan makanan untuk suaminya lalu kemudian menuangkan air minum ke gelas masing-masing anggota keluarga ini.
Selesai dengan tugasnya Alesa segera menyusul adik iparnya yang sudah menunggunya di dalam kamar, Alesa dan adik iparnya segera makan makanan yang telah mereka ambil terlebih dahulu tadi sebelum anggota keluarga di rumah ini berkumpul di meja makan.
"Mbak yang sabar ya menghadapi keluargaku" kata Adik iparnya Alesa di tengah mereka menikmati makanan
__ADS_1
"Mbak sih biasa aja, apalagi gak sampai satu bulan disini. Bahkan menghadapi Mas-mu aja Mbak bisa, kuncinya hanya satu terserah suami kita mau apa yang terpenting kita sebagai istri tetap menjalankan kewajiban kita serta selalu sabar. Karena semua itu akan ada balasan dari yang di atas" kata Alesa yang tetap berusaha tak menjelekkan keluarga suaminya apalagi dengan adik kandung suaminya sendiri
"Mas Ilham seharusnya bersyukur dapat istri sebaik Mbak, tapi Sisil berdoa ke depannya semoga Mas Ilham bisa berubah setelah keponakanku lahir nanti" kata Adik iparnya Alesa sembari mengelus perut Alesa yang sudah membuncit
"Terima kasih ya, Sil" ucap Alesa yang juga berharap suaminya berubah
Alesa menyunggingkan senyumannya dengan tulus kepada adik iparnya yang sangat menyayanginya seperti saudara kandungnya dan sahabat yang suka berbagi suka duka, apalagi jarak usia Alesa dengan adik iparnya hanya berbeda dua tahun jadi mereka memang kelihatan sangat cocok.
Selesai makan Alesa dan adik iparnya membereskan meja makan yang masih berantakan setelah semua anggota keluarga di rumah ini meninggalkan meja makan begitu saja setelah makan, Alesa dan adik iparnya juga langsung mencuci semua piring yang kotor yang di pakai buat makan tadi.
"Alhamdulilah udah beres semua, kita jalan ke pantai yuk Mbak. Mumpung mereka semua pada tidur siang dan mumpung cuaca tidak terlalu panas siang ini, Mbak selama disini pasti belum sempat di ajak Mas Ilham jalan-jalan ke pantai" kata Adik iparnya Alesa sembari menyeka keringatnya yang di kening
Adik iparnya pun menganggukkan kepalanya lalu mengandeng tangan Alesa sembari melangkahkan kaki secara bersamaan keluar rumah, beruntung dari kediaman mertuanya ke pantai sangat dekat jadi mereka tak memerlukan kendaraan untuk pergi ke pantai cukup dengan berjalan kaki.
Tiba di pantai Alesa sangat senang akhirnya ia bisa menikmati angin pantai dan bisa melihat pemandangan yang sangat indah terbentang di lautan yang sangat luas, Alesa dan adik iparnya berjalan kesana kemari sembari menari-nari menikmati perjalanan mereka di pantai.
Alesa dan adik iparnya tengah melepas penat yang bersarang di dalam pikiran mereka, Alesa melepaskan penatnya yang sudah sepuluh hari di kediaman mertuanya yang membuatnya stres sedangan adik iparnya melepaskan penatnya dari tugas-tugas kuliah yang sangat banyak apalagi sebentar lagi ia akan menghadapi skripsi.
__ADS_1
"ALESA.... SISIL...." teriak Mas Ilham kepada Alesa dan adiknya yang sedang menikmati angin pantai
Alesa dan adik iparnya tak mendengar teriakkan dari suaminya karena angin bukan ke arah mereka namun justru ke arah suaminya yang ada di belakang mereka, bahkan mereka masih diam mematung menikmati angin yang terus menerpa wajah mereka yang membuat bulu-bulu halus di wajah mereka ikut berdiri.
Setelah berada di belakang Alesa, tanpa aba-aba suaminya langsung menarik pergelangan tangan Alesa dengan paksa dan kuat membuat Alesa hampir terjengkang jika tak cepat-cepat di tahan oleh adik iparnya dan bahkan sekarang kedua saudara kandung itu saling tarik menarik pergelangan tangan Alesa membuat Alesa terpontang-panting.
"CUKUP MAS...." teriak Adik iparnya Alesa hingga membuat suaminya Alesa menghentikan aksinya yang menarik tangan Alesa
Alesa pun langsung melepaskan tangannya dari adik iparnya dan dari suaminya, lalu Alesa terduduk di pasir lantai sembari mengatur napasnya yang tersengal dan mengelus pergelangan tangan Alesa yang telah memerah akibat di tarik paksa barusan.
"Mas tega, lihat Mbak Alesa sedang kesakitan. Apa salahnya sih kita cuma main ke pantai sebentar" kata Adik iparnya marah terhadap sang kakak sembari membantu Alesa untuk berdiri kembali
"Pulang sekarang, kalian berdua. Aku tunggu di rumah" kata Mas Ilham membentak Alesa dan adiknya kemudian berlalu begitu saja
Alesa dan adik iparnya pun terpaksa kembali ke rumah karena sudah tak berselera lagi untuk melanjutkan acara jalan-jalan mereka di pantai, di tambah dengan insiden barusan membuat adik iparnya Alesa merasa bersalah karena ia yang telah mengajak Alesa ke pantai sehingga membuat sang kakak murka.
Tiba di kediaman mertuanya Alesa dan adik iparnya duduk di kursi di hadapan para anggota di rumah ini yang menatap mereka tajam seperti hendak menelan Alesa dan adik iparnya hidup-hidup, Alesa hanya bisa menundukkan kepalanya pasrah entah apa salah hanya ke pantai saja harus di interogasi segala.
__ADS_1
"Ini semua bukan salah Mbak Alesa, Sisil yang ngajak Mbak Alesa ke pantai tadi. Terus apa salahnya sih hanya ke pantai, Mbak Alesa juga pasti pengen jalan-jalan ke pantai mumpung masih disini apalagi dari awal Mbak Alesa datang ke rumah ini belum pernahkan Mas Ilham mengajak Mbak Alesa ke pantai" kata Adik iparnya Alesa berdiri menjelaskan semuanya dengan tegas