Rasa Yang Mati

Rasa Yang Mati
Bab 51


__ADS_3

Alesa yang sudah selesai mengerjakan semua pekerjaannya, hendak keluar dari ruko sembari mengendong bayi Azzam ingin jalan-jalan menikmati udara pagi yang terasa sangat sejuk apalagi semalam habis hujan jadi tanah terlihat masih basah bahkan ada sebagian yang tergenang air.


Namun saat tiba di teras depan ia kembali harus menyaksikan canda dan tawa suaminya dengan menantu Bu Sri, membuat Alesa kembali cemberut dan kesal serta berpikir apa menantu Bu Sri itu tak punya pekerjaan di rumah mertuanya sehingga pagi-pagi sudah menyapa suaminya yang tengah membersihkan teras depan.


"Haii, mbak Alesa" sapa Menantu Bu Sri dengan ramah sembari melambaikan tangan


"Haii" jawab Alesa ketus dan menampakan raut wajah yang tidak suka


Menantu Bu Sri yang melihat jelas raut wajah Alesa seperti tak suka hanya bisa nyengir, menantu Bu Sri jadi merasa tidak enak karena telah berada di bawah pohon mangga pagi-pagi bahkan tengah mengobrol dengan suami orang mentang-mentang suaminya sudah berangkat ngajar di SMP sini.


Menantu Bu Sri pun pamit dengan alasan kelupaan mematikan kompor, Alesa tau bahwa itu hanya alasan menantu Bu Sri saja apalagi tak mungkin Bu Sri tak tau menau soal dapur dan Alesa juga tak masalah menantu Bu Sri pergi justru menurutnya itu lebih baik dari pada merusak mood Alesa pagi-pagi begini.


Alesa pun memilih duduk di teras depan bersama bayi Azzam yang terlihat bahagia ketika melihat kendaraan berlalu lalang, Alesa juga masih memperhatikan suaminya yang sibuk memotong dedaunan tanaman bunga milik suaminya yang sudah sedikit memanjang.


"Mas...." panggil Alesa sembari mendekatkan kursi plastik yang di dudukinya ke arah suaminya


"Hemm" jawab Mas Ilham tanpa menoleh ke arah Alesa dan tetap fokus dengan tanaman bunga miliknya


"Mas, kayaknya akrab banget dengan menantu Bu Sri. Mas kan laki-laki dan dia kan wanita gak baik lah terlalu akrab" kata Alesa mengeluarkan unek-unek yang di pendamnya dari semalam

__ADS_1


"Apaan sih, orang cuma ngobrol biasa aja" kata Mas Ilham ketus sembari menatap Alesa dengan tatapan tajam tak suka dengan perkataan Alesa


"Mas, aku ini istri kamu. Tatapan Mas ke menantu Bu Sri itu sangat berbeda, seperti mempunyai ketertarikan" kata Alesa yang mulai terpancing emosi karena suaminya tak terima dengan perkataannya


Suaminya justru semakin marah ketika Alesa berkata seperti itu, dan segera menarik paksa tangan Alesa dengan begitu keras untuk masuk ke dalam ruko karena tak mau terlihat para tetangga jika mereka sedang bersitegang.


Tiba di ruang TV suaminya melepaskan tangan Alesa dan beralih mencengkeram bahu Alesa dengan begitu keras, membuat Alesa meringis karena kesakitan akibat cengkeraman yang sangat keras itu.


"Kalau aku suka dengan dia kenapa, masalah buat kamu" kata Mas Ilham tak mau melepaskan cengkeraman di bahu Alesa


"Iya masalah banget buat aku, Mas. Aku ini istrimu kenapa kamu justru tertarik dengan wanita lain" kata Alesa meninggikan nada bicaranya di hadapan suaminya


Seketika tangis bayi Azzam pecah seperti tau bahwa Ayahnya dan Bundanya sedang berantem, Alesa berusaha menenangkan bayi Azzam yang menangis dengan itu namun tak ada gunanya karena bayi Azzam justru menangis semakin kencang.


"Coba kamu ngaca sekarang, lihat apa kamu masih pantas di cintai sedangkan wajah dan tubuhmu sudah tak menarik lagi" kata Mas Ilham memegang kepala Alesa menghadapkan ke arah cermin rias


"Apa hanya karena aku tak secantik dulu, jadi Mas tak mencintaiku lagi" kata Alesa membalikkan tubuhnya menghadap suaminya


"Iya, bukankah istri itu harus selalu cantik di depan suami untuk menyenangkan hati suami. Sedangkan kamu apa, benar kata ibu seperti pantat kuali" kata Mas Ilham kemudian keluar dari kamar dan memilih ke depan untuk menjaga warung miliknya

__ADS_1


Alesa lagi-lagi hanya bisa diam dan memeluk bayi Azzam yang masih belum mau diam, air mata Alesa juga kembali membanjiri kedua pipinya dan ia sadar sekarang ia tak secantik dulu namun bukankah semua ini terjadi karena suaminya sedikit pun tak memberi ia kesempatan untuk merawat diri.


Seharusnya jika suaminya ingin ia tetap selalu cantik, suaminya harus beri ia waktu merawat diri dan membantunya menjaga bayi Azzam paling tidak setengah jam tapi selama ini kemana bahkan makan pun ia masih harus sambilan menjaga bayi Azzam.


Kecewa dan sakit hati kini menjadi satu di lubuk hati Alesa, ia tak tau harus bagaimana lagi. Ia juga ingin seperti wanita-wanita di luaran sana yang bisa selalu menyenangkan hati suami yaitu selalu tampil cantik.


Setelah puas menumpahkan kesedihannya dan bayi Azzam juga sudah diam bahkan tertidur sehabis nangis, Alesa segera melangkahkan kaki keluar kamar dan menuju ruang TV ingin meletakkan bayi Azzam di kasur lalu kembali ke kamar.


Alesa melihat beberapa skincare miliknya yang sudah lama tak di pakainya, lalu ia hendak memakai salah satu skincare-nya tapi tak jadi saat melihat tanggal kadaluarsa di skincare itu sudah lewat dua bulan yang lalu.


Alesa keluar dari kamar sembari membawa semua skincare miliknya itu, kemudian ia membuang semua skincare miliknya itu ke dalam kotak sampah dari pada ia memakainya bukannya menjadi bagus wajahnya tapi jadi semakin rusak nantinya.


Alesa pun memilih duduk di ruang TV samping bayi Azzam sembari mengambil gawai miliknya, hendak memesan skincare untuk ia perawatan namun lagi-lagi tak jadi karena ia ingat bahwa uang nafkah pemberian suaminya di simpannya untuk ia yang berkeinginan pergi UMROH.


Alesa menghela napas lebih baik rupanya tak cantik dari pada hatinya, bukan kah para istri nabi tak ada yang mempercantik diri dan justru para istri nabi selalu berusaha memperbaiki akhlak mereka karena mereka mengejar surga bukan dunia.


Sedangkan ia hanya wanita akhir zaman yang penuh dengan dosa, apalagi sering meninggikan nada bicaranya ke suaminya yang seharusnya tak boleh ia lakukan meski pun suaminya berbuat salah seperti istri dari Fir'aun yang di jamin masuk surga meski Fir'aun seorang kafir.


Dan bukankah sudah di jelaskan sejahat apapun seorang suami jika istrinya tetap memenuhi hak suami dan selalu taat dalam agama jaminan tetap surga dan dosa suami tetap di tanggung suaminya sendiri, berbeda jika seorang istri jahat dan tak taat, suaminya yang ikut menanggung dosa istrinya.

__ADS_1


__ADS_2