
Oweng....Oweng....Oweng
Alesa yang sedang membersihkan rumah mertuanya, langsung berhenti saat mendengar suara tangis Azzam yang ada di ruang keluarga karena tadi Azzam bermain dengan anak bungsu kakak iparnya disana.
Buru-buru Alesa menghampiri Azzam yang menangis, segera ia peluk Azzam yang masih menangis tapi yang membuat Alesa heran mengapa ibu mertuanya atau pun kakak iparnya diam saja melihat Azzam menangis.
Padahal mereka sedang menonton TV apa mereka pura-pura tak mendengar, sehingga Azzam menangis tak di hiraukan mereka sama sekali sayang suaminya tak ada di rumah saat ini karena sedang pergi bersama bapak mertuanya.
Jadi tak ada yang menjaga Azzam jika ia sedang mengerjakan pekerjaan di rumah mertuanya ini, setelah cukup lama Azzam pun akhirnya sudah lebih tenang dan Alesa segera membawa Azzam ke dapur dan di berinya minum putih.
"Adik Azzam di cubit Mama te, makanya nangis" aduh Anak bungsu kakak iparnya itu yang memang dari tadi diam dan tiba-tiba menghampiri Alesa
Deg
Dicubit
Alesa langsung membuka semua pakaian yang melekat di tubuh Azzam dan terlihat di paha Azzam yang membiru akibat di cubit terlalu keras, dengan buru-buru Alesa kembali memakaikan pakaian Azzam.
"Salsa, temani adik Azzam main disini ya" kata Alesa kepada anak bungsu kakak iparnya itu kemudian meninggalkan Azzam dan anak bungsu kakak iparnya di dapur
Alesa bergegas ke ruang keluarga menghampiri kakak iparnya yang sedang asyik menonton TV, Alesa langsung menurunkan kaki kakak iparnya yang tengah selonjoran di atas meja sembari menatap kakak iparnya itu dengan tatapan tajam.
"Apa-apaan sih kamu ni" kata Kakak iparnya Alesa yang marah dengan tindakkan Alesa barusan
Ibu mertuanya pun terkejut dengan apa yang di lakukan Alesa barusan, karena baru kali ini ia melihat Alesa seberani itu menghadapi anaknya padahal Alesa yang di kenalnya pendiam dan tak berani dengan siapapun.
__ADS_1
"Mbak Siti itu yang apa-apaan, apa salah Azzam sampai di cubit hingga membiru" kata Alesa mulai naik tikam karena tak terima Azzam di perlakukan kasar
"Siapa yang bilang, HAH. Jangan sembarangan menuduh orang" kata Kakak iparnya Alesa tak mau mengaku
"Anak bungsu mbak sendiri yang memberi tahu aku" jawab Alesa semakin emosi
Kakak iparnya terdiam mendengar jawaban Alesa yang tau dari anak bungsunya sendiri, kakak iparnya pun hendak pergi mencari keberadaan anak bungsunya itu namun terhenti saat Alesa menahan lengannya bahkan mencengkeram lengannya dengan sangat keras.
"Mau kemana gak usah menghindar, mbak" kata Alesa semakin keras mencengkeram lengan kakak iparnya
"Aww, lepasin. Sakit tau" kata Kakak iparnya Alesa meringis kesakitan
"Alesa....." bentak Ibu mertuanya Alesa tak terima anaknya di perlakukan Alesa seperti itu
Kakak iparnya masih meringis juga ingin berusaha lepas dari Alesa sangatlah sulit karena Alesa mengunci tubuhnya, minta bantuan dengan ibu kandungnya juga sepertinya takut dengan Alesa yang seperti sedang kerasukan.
Setelah puas memberi pelajaran dengan kakak iparnya, Alesa segera mendorong tubuh kakak iparnya ke sofa yang tadi di duduki kakak iparnya membuat kakak iparnya tersungkur dan Alesa langsung pergi dari sana.
"Awas saja nanti" kata Kakak iparnya Alesa yang tentu tak terima di perlakukan Alesa begitu saja
Bahkan lengan kakak iparnya jadi memerah akibat cengkeraman dari Alesa yang sangat keras, ia berniat dalam hati akan membalas perbuatan Alesa barusan karena ia tak terima Alesa berani-beraninya telah menyakitinya meski memang awalnya ia yang salah.
Karena tadi ia telah mencubit Azzam gara-gara Azzam tidak mau memberikan remote TV padanya, meski ia sudah memaksa namun tiba-tiba Azzam mengigit tangannya dan karena ia yang kesakitan jadi dengan sengaja ia mencubit paha Azzam sampai membiru.
Tiba di dapur Alesa menghampiri Azzam yang masih bermain dengan anak bungsu kakak iparnya itu, Alesa tak lagi melanjutkan membersihkan rumah mertuanya dan memilih duduk di samping Azzam karena ia tak mau sampai kecolongan lagi Azzam di sakiti orang lain.
__ADS_1
Siapapun yang menyakiti Azzam meskipun itu suaminya sendiri, ia sebagai ibu takkan terima sampai kapan pun dan akan membalas perbuatan siapa saja yang berani menyakiti Azzam apalagi baginya Azzam adalah nyawanya yang memberi ia kekuatan untuk bertahan selama ini.
"Bun, nen" kata Azzam beranjak dan berjalan mendekati Alesa
"Adik Azzam nyusu dulu ya" kata Alesa kepada anak bungsu kakak iparnya itu sembari mengendong Azzam dan mulai menyusui Azzam
Anak bungsu kakak iparnya hanya mengangguk dengan setia menunggui Azzam yang sedang menyusu, Alesa kembali menaikan celana Azzam melihat bekas cubitan yang membiru di paha" Azzam ia yang melihat merasa nyeri karena ia yakin pasti itu sangat sakit.
Setelah Azzam selesai menyusu, Alesa kembali meletakkan Azzam di dekat anak bungsu kakak iparnya itu dan mereka berdua mulai bermain lagi sedangkan Alesa yang duduk memperhatikan saja tak mau menganggu kesenangan anak-anak.
Baru saja ingin tenang ibu mertuanya tiba-tiba muncul dan memarahi Alesa karena tak melanjutkan mengerjakan pekerjaan rumah yang masih banyak, apalagi piring kotor yang bertumpukan di dalam baskom yang ada di halaman belakang belum di cuci.
"Anggota di rumah ini bukan Alesa saja, bu. Kenapa ibu tidak menyuruh anak sulung ibu itu, dari pada anak sulung ibu itu bersantai ria" kata Alesa yang tak mau mengerjakan pekerjaan lagi apalagi ia sudah membersihkan rumah dan pasti sore nanti ia lagi yang harus masak buat makan malam serta buat berbuka puasa
"Kamu membantah perintah ibu, kamu itu cuma numpang disini jadi harus menuruti semua perintah tuan rumah" kata Ibu mertuanya Alesa takt suka dengan bantahan Alesa
"Iya, Alesa memang cuma numpang bu. Ibu ingat sendiri Alesa sudah membersihkan rumah ibu sampai kinclong dan sore nanti Alesa juga pasti yang ibu suruh masak, jadi bagian cuci piring suruh saja anak sulung ibu. Alesa gak mau" kata Alesa tetap teguh dengan keputusannya tak mau mencuci piring
"Kau....." kata Ibu mertuanya Alesa melayangkan tangan hendak menampar pipi Alesa
Bahkan Alesa sudah menutup mata saat ibu mertuanya ingin menamparnya dan bertepatan terdengar tangisan Azzam yang memeluk Alesa, seperti sedang melindungi Ibunya yang hendak di sakiti neneknya dan ibu mertuanya pun tak jadi menampar Alesa.
Ibu mertuanya memilih berlalu dari sana, ia tak pernah berbuat kasar kepada anak-anaknya jadi ia juga tak mau sampai cucunya melihat kekerasan karena akan mengakibatkan trauma yang mendalam sampai mereka dewasa nanti.
Alesa membuka kedua kelopak matanya dan membalas pelukan Azzam yang sudah melindunginya, ia tak menyangka Azzam yang masih anak-anak sudah mengerti cara melindunginya berbeda dengan suaminya yang justru sedikitpun tak pernah melindunginya.
__ADS_1