
Kedua kakak laki-laki Alesa langsung beranjak dan menarik tubuh suaminya Alesa dari kaki sang ibu, membuat suaminya Alesa hampir terjengkang jika tak di pegangi sang ibu yang sembari menggelengkan kepalanya kepada kedua anaknya itu.
Sang ibu tau kedua kakak laki-laki Alesa itu pasti hendak memberi pelajaran kepada suaminya Alesa, namun percuma karena takkan merubah keadaan apapun apalagi semuanya telah terjadi dan sang ibu tak mau membuat masalah baru.
"Kalau kamu gak bisa menjadi suami yang baik buat Alesa, mending kamu kembalikan Alesa dengan kami secara baik-baik" kata Ayahnya Alesa yang mulai angkat bicara
Suasana kembali hening saat mendengar orang paling berhak atas hidup Alesa angkat bicara, bahkan suaminya Alesa terdiam dan seakan tenggorokannya tercekat oleh sesuatu sehingga ia tak bisa mengeluarkan satu kata pun.
"Ini, ada apa?" tanya Alesa yang baru keluar dari kamar setelah istirahat berapa jam
"Alesa, duduk" ujar Ayahnya Alesa kepada sang anak
Alesa pun menurut dan segera duduk di salah satu kursi yang masih kosong sembari menatap satu persatu wajah semua orang yang berada disitu dengan tatapan bingung, dan yang jadi pertanyaan sepertinya suaminya habis menangis terlihat dari matanya yang memerah.
"Alesa, apa kamu bahagia menikah dengan Ilham?" tanya Ayahnya Alesa dengan wajah yang tenang
"Mengapa Ayah bertanya seperti itu, apa Alesa terlihat tidak bahagia?" tanya Alesa balik
"Kami tidak bisa melihatnya, apalagi kamu sangat pandai menyembunyikan kesedihanmu dari dulu" kata Ayahnya Alesa menatap kedua bola mata sang anak
Alesa tak menjawab namun tetap tersenyum, ia masih berpikir pasti ada sesuatu yang terjadi selama ia istirahat tadi karena tak mungkin sang ayah menanyakan hal tersebut jika tak ada penyebabnya.
Kedua istri kakak Alesa yang kebetulan berada di antara kanan kiri Alesa, tiba-tiba menggenggam jari jemari milik Alesa memberi kekuatan untuk Alesa apapun yang akan di katakan Alesa untuk menjawab pertanyaan sang ayah.
__ADS_1
Alesa menatap wajah semua orang yang ada disitu satu persatu sembari mengembangkan senyuman, kemudian Alesa menarik napasnya dan di hembuskannya secara perlahan untuk mengatur gejolak di hatinya.
"Alesa tidak apa-apa, Alesa bahagia kok menikah dengan Mas Ilham. Buktinya cinta kami menghasilkan buah hati yang sangat tampan, Azzam" kata Alesa dengan tenang tak mau sampai semua orang disitu tau ia sedang berbohong
"Kamu, yakin?" tanya Kakak pertama Alesa
"YAKIN, memangnya ini ada apa?" kata Alesa dengan tegas karena ia tak mau wibawa suaminya hilang di depan keluarganya
Meski rasa di hati Alesa sudah mati untuk suaminya, tapi ia sebagai istri tetap harus bisa menjaga aib yang ada di dalam rumah tangga mereka meski sejahat dan sekasar apapun suaminya memperlakukannya.
"Tidak ada apa-apa" jawab Kakak pertama Alesa
Mereka semua yang ada disitu kembali terdiam beberapa detik, namun tiba-tiba ada suara benda jatuh lalu di susul dengan tangisan Azzam dan seketika suasana kembali ricuh semua yang ada disitu langsung beranjak kemudian berlari ke sumber suara.
Bahkan kening Azzam sedikit benjol akibat tersandung dengan meja tadi, sang ibu buru-buru ke dapur mengambil es batu dan di bawa sang ibu ke tempat Azzam dan mengompres kening Azzam yang benjol agar rasa nyerinya hilang.
Semua yang ada disitu jadi kasian melihat Azzam yang terus menangis dan kesakitan, Alesa pun hanya bisa mengigit bibir bawahnya tak kuat untuk mendekati Azzam karena ia takut ikutan menangis.
Jadi Alesa memilih duduk diam di samping suaminya yang tengah berusaha menenangkan Azzam, sembari menatap Azzam yang memberontak saat di kasih sang ibu es batu di kening Azzam.
Setelah Azzam lebih tenang dan tak menangis lagi, Alesa baru mengambil Azzam dari pangkuan suaminya lalu Alesa pamit dengan semua yang ada disitu hendak masuk kamar ingin menyusui Azzam bersama suaminya juga mengikuti Alesa ke kamar.
Permasalahan yang terjadi tadi dianggap telah selesai, meski sebenarnya kedua kakak laki-laki Alesa masih belum puas jika tak memberi pelajaran kepada suaminya Alesa yang benalu itu yang lempeng tak bisa tegas menjadi seorang laki-laki.
__ADS_1
Mengapa di juluki kedua kakak laki-laki Alesa seperti itu karena suaminya Alesa tak berani melawan ibu mertuanya Alesa yang telah semena-mena dengan Alesa, meski anak laki-laki memang surganya masih di telapak kaki ibu tapi tetap saja jika ibu mertuanya Alesa salah tetap harus di salahkan.
Jika suaminya Alesa terus diam saja dan tak membela Alesa sama sekali jatuhnya dzolim terhadap istri, sang ayah juga tak habis pikir jika ternyata selama Alesa menginap di rumah besannya di jadikan babu.
Padahal semasa remaja sebelum Alesa menikah, Alesa bagaikan ratu di rumah ini tak ada yang boleh memerintah Alesa untuk mengerjakan apapun hanya saja sifat Alesa yang keras kepala jadi tetap ingin membantu sang ibu mengerjakan pekerjaan rumah.
"Bu, ibu tau dari mana soal Alesa?" tanya Ayahnya Alesa kepada istrinya itu
"Feeling seorang ibu sangat kuat, yah. Tadi ibu mendengar Alesa mengobrol dengan kedua menantu kita, dari situ ibu bisa menebak apalagi raut wajah Alesa terlihat sedih" jelas Ibunya Alesa yang masih teringat bagaiman raut wajah Alesa
"Tapi mengapa Alesa terlihat baik-baik saja" kata Ayahnya Alesa lagi yang masih khawatir dengan sang anak
"Ibu juga tidak tau, yah. Tapi kita juga tak bisa ikut campur, yah. Karena Alesa sudah dewasa dan bisa mengatasi masalahnya sendiri" kata Ibunya Alesa yang tak mau ikut campur urusan rumah tangga sang anak karena takut berakibat fatal
Sang ayah menganggukkan kepala pahan maksud istrinya dan sang ayah juga berpikir selagi bukan KDRT tak masalah, namun jika suaminya Alesa sudah KDRT terhadap Alesa ia sebagai ayah yang pertama kali menjemput Alesa sekalian menghajar suaminya Alesa.
Sedangkan di dalam kamar Alesa, suaminya duduk di tepi ranjang terus memperhatikan Alesa yang sedang menyusui Azzam sembari berbaring dan sesekali tatapan mereka bertemu membuat Alesa mengerutkan keningnya karena tak biasanya suaminya itu diam saja.
Suaminya yang diam sembari memperhatikan Alesa ingin memberi tahu apa saja yang terjadi tadi ketika Alesa sedang istirahat, namun suaminya mengurungkan niatnya karena buat apa juga suaminya menjelaskan hal yang sebenarnya tak penting.
Hanya saja suaminya penasaran ibunya Alesa tau dari mana soal Alesa yang di jadikan babu di rumah orang tuanya, suaminya pun tetap bungkam dan memilih berbaring di samping Alesa kemudian memeluk Alesa dari belakang membuat Alesa semakin mengerutkan keningnya atas tindakkan suaminya barusan.
"Aneh"
__ADS_1
Itulah yang ada di dalam pikiran Alesa sekarang