
Memasuki kehamilannya yang ke tujuh bulan, Alesa di ajak suaminya untuk mudik ke kampung halaman suaminya dimana kedua mertuanya dan sanak saudara suaminya tinggal dan tentunya sangat jauh dari tempat tinggal mereka saat ini dan bahkan nanti mereka harus naik kapal fery untuk menyebrangi lautan.
"Gimana udah di kunci semua, jendela dan pintu belakang?" tanya Mas Ilham memastikan lagi bahwa rukonya aman dari maling nanti kalo semua jendela dan pintu terkunci sempurna
"Udah Mas" jawab Alesa kemudian melangkahkan kaki ke luar ruko
Pagi ini juga Alesa dan suaminya akan berangkat karena tiket bus sudah di pesan oleh suaminya tiga hari yang lalu, setelah memeriksa kembali barang-barang yang akan mereka bawa kini Alesa dan suaminya sudah masuk ke dalam mobil travel dan menuju terminal bus.
Ini pertama kali Alesa akan melakukan perjalanan jauh selama seumur hidupnya apalagi selama ini ia tak pernah pergi kemana-mana dan menurutnya mungkin tempat yang paling jauh Alesa injak yaitu tempat tinggalnya bersama suaminya sekarang soalnya lumayan jauh dari tempat tinggal kedua orang tuanya meski masih satu kabupaten.
"Kalau ngantuk tidur aja, nanti aku bangunin kalo udah sampai di terminal bus" kata Mas Ilham kepada Alesa yang terlihat sangat mengantuk
"Iya Mas, soalnya kita bangun pagi tadi kepagian" jawab Alesa yang terus menguap sampai kedua matanya mengeluarkan air mata karena menahan kantuk
Alesa pun segera memejamkan kedua kelopak matanya sembari bersandar di sandaran kursi mobil, tanpa menunggu lama Alesa sudah terlelap dan tak tau menahu perjalanan yang di tempuh mereka karena ia tak menikmati perjalanan tersebut.
Satu jam kemudian mobil travel yang membawa beberapa tumpang bersamaan Alesa dan suaminya berhenti di terminal bus yang akan membawa Alesa dan suaminya ke perjalanan selanjutnya, suaminya Alesa segera membangunkan Alesa setelah penumpang turun dan hanya tinggal mereka berdua.
"Ohh disini terminalnya Mas?" tanya Alesa yang melihat sekeliling terminal bus yang ternyata sering di lewati Alesa waktu bekerja di pusat kota dulu
"Iya, kenapa kamu sering lewat sini?" kata Mas Ilham dan menanyakan pertanyaan juga
__ADS_1
Alesa hanya menjawab dengan anggukkan kepala, kemudian Alesa dan suaminya segera duduk di salah satu kursi tunggu yang ada di terminal bus beristirahat sejenak sebelum bus yang akan membawa mereka ke perjalanan selanjutnya berjalan.
Karena kebetulan baru sekitar pukul tujuh pagi, Alesa dan suaminya yang mulai merasa lapar jadi memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu di sebuah kedai sarapan pagi yang ada di dekat terminal bus itu.
Tiba di kedai sarapan pagi itu Alesa dan suaminya memesan nasi uduk porsi besar agar selama perjalanan mereka tidak merasa kelaparan, apalagi bus yang akan membawa mereka hanya berhenti dua kali ketika waktu makan siang dan ketika makan malam nanti.
Dan pastinya sangat lama walaupun di dalam bus nanti mereka bisa memakan apapun sepuas mereka tapi tetap saja rasanya berbeda makan makanan padat dengan makan makanan ringan, selesai makan dan bertepatan itu juga bus yang akan membawa mereka mulai meminta para penumpang segera naik dan duduk di kursi sesuai nomor tiket mereka.
"Kamu masuk aja duluan, duduk di kursi nomor yang sesuai dengan tiket kita. Aku mau kasihkan koper kita ke kernek dulu" jelas Mas Ilham kepada Alesa sembari membawa satu koper besar itu ke arah belakang
Alesa pun menganggukkan kepalanya paham atas perintah suaminya barusan, dengan hati-hati Alesa naik mobil bus itu sembari berpegangan kemudian masuk ke dalam bus dan mulai berjalan perlahan mencari nomor kursi yang sesuai dengan tiket mereka.
Setelah mendapatkan kursinya Alesa segera duduk di kursi sembari bersandar di sandaran kursi untuk menunggu suaminya, tak berapa lama kemudian suaminya pun menyusulnya dan ikut duduk di sampingnya.
Bus yang membawa Alesa dan suaminya serta penumpang lain sudah melaju dengan perlahan, Alesa masih belum menikmati perjalanan mereka karena masih ada di pusat kota yang sudah biasa ia lihat sewaktu masih bekerja dulu.
Di luar jendela terlihat lalu lintas yang sangat padat bahkan debu polusi bertebaran dimana-mana jika saja jendela bus ini jendela sliding mungkin debu-debu itu sudah masuk ke dalam bus, beruntungnya bus yang mereka naiki sekarang bus ber-AC jadi kedap udara bahkan tak ada jendela yang bisa terbuka.
Bus tersebut memang biasa di gunakan untuk pariwisata, Alesa memejamkan kembali kedua kelopak matanya yang kembali terserang kantuk karena makan tadi terlalu kenyang dan bahkan suaminya juga sudah terlelap dari tadi.
.
__ADS_1
.
"Mau kemana mbak?" tanya Ibu-ibu yang duduk di kursi seberang samping Alesa
"Ohh mau ke kepulauan riau bu, mau mudik" jawab Alesa dengan ramah
"Daerah mananya kepulauan riau?" tanya ibu-ibu itu lagi
"Kurang tau bu, soalnya ini pertama kali mudik ikut suami" jawab Alesa sembari menyunggingkan senyuman
Ibu-ibu itu menganggukkan kepalanya paham, Alesa kemudian beralih menatap luar jendela kaca itu melihat pemandangan yang kini bus sudah melaju semakin jauh dan melewati hutan-hutan kiri kanan yang masih belantara.
Alesa justru lebih suka pemandangan seperti ini meski hanya hutan kiri dan kanan tapi baginya lebih enak memandangi pepohonan hijau yang masih asri, apalagi Alesa memang suka tanaman yang berwarna hijau.
Alesa menyunggingkan senyumannya setiap kali melihat burung-burung kecil yang berterbangan dan hinggap di pepohonan, memang dari dulu Alesa sangat suka burung dan pepohonan hijau atau tanaman yang berwarna hijau.
Karena baginya melihat tanaman yang berwarna hijau itu seperti melihat kehidupannya yang penuh warna, orang-orang yang di dalam bus menikmati tidur mereka justru Alesa lebih menikmati perjalanannya dengan memandangi luar jendela yang terlihat bermacam-macam pepohonan hijau.
"Kamu suka perjalanan kita?" tanya Mas Ilham yang ternyata sudah bangun dan memperhatikan Alesa yang terus menyunggingkan senyuman
"Iya Mas, apalagi kiri kanan banyak sekali jenis pepohonan hijau. Belum lagi burung-burung kecil yang suka terbang mengepakkan sayap-sayap mereka" kata Alesa yang kini beralih menatap suaminya
__ADS_1
"Nikmatilah, karena sebentar lagi bakal naik kapal jadi gak ada lagi pepohonan yang ada air laut yang membentang luas" kata Mas Ilham senang melihat Alesa menikmati perjalanan mereka
Alesa lagi-lagi menjawab dengan anggukkan kepala dan matanya kembali menatap luar jendela, perjalanan mereka memang sangat jauh butuh siang ke malam terus ke siang lagi mereka baru akan tiba di tempat tinggal kedua mertuanya kata suaminya yang pernah menjelaskan kepadanya.