Rasa Yang Mati

Rasa Yang Mati
Bab 61


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan dua hari satu malam, akhirnya Alesa dan suaminya serta Azzam tiba di kediaman mertuanya yang tampak sudah sangat ramai menanti ke pulangan anak kesayangan mereka siapa lagi kalau bukan suaminya Alesa.


Suaminya Alesa sangat senang di sambut seperti itu dengan buru-buru ia menghampiri kedua orang tuanya kemudian mencium punggung tangan kedua orang tuanya dengan takzim secara bergantian, Alesa juga melakukan hal yang sama yaitu mencium punggung tangan kedua mertuanya itu.


"Azzam sayang, cium tangan Oma dan Opa" ujar Alesa kepada Azzam yang tadi di gendongannya dan sekarang di turunkan Alesa saat tiba di kediaman mertuanya itu


"Gak au, atut" kata Azzam sembari bersembunyi di belakang kaki Alesa


"Sini Azzam dengan Oma, Oma loh yang ngurus Azzam pas masih kecil dulu" kata Ibu mertuanya Alesa begitu memaksa Azzam bahkan berusaha menarik lengan Azzam


Azzam justru memberontak tetap tak mau ikut ibu mertuanya.


"Maaf bu, Azzam belum terbiasa saja. Jadi jangan di paksa" kata Alesa sembari mengendong Azzam dan Azzam langsung memeluk Alesa ketakutan


"Ck... pasti sebelum nyampe kesini udah kamu racuni pikiran Azzam" kata Ibu mertuanya Alesa berdecak kesal tak terima cucunya yang tak mau ikut dengannya


Alesa hanya diam tak menyahut lagi, kemudian mereka semua masuk ke dalam rumah yang sudah ramai para kerabat suaminya datang dan entah mengapa setiap kali mereka mudik ke kediaman mertuanya pasti para kerabat suaminya datang beramai-ramai.


Padahal Alesa tau niat mereka semua ingin menjadikan Alesa babu lagi, Alesa masih diam dan duduk di salah satu sofa single sembari memangku Azzam yang masih memeluknya dengan sangat erat seperti tak mau melihat wajah-wajah para kerabat suaminya yang memang terlihat sangat seram.


Suaminya Alesa mulai ikut terlibat obrolan dengan kedua orang tuanya serta para kerabatnya, bahkan sesekali terdengar ada yang tertawa padahal selama Alesa yang diam mendengar tak ada yang lucu dalam obrolan itu tetapi mengapa para kerabat suaminya tiba-tiba tertawa.

__ADS_1


"Mas, aku ke kamar dulu mau menyusui Azzam" kata Alesa beranjak dari situ dan hendak melangkahkan kaki ke kamar suaminya namun terhenti saat kakak iparnya menghadang jalannya


"Ehh Alesa, ambilkan aku minum donk" kata Kakak iparnya sembari menyodorkan gelas kosong ke arah Alesa


"Bukankah mbak ada tangan dan kaki mbak juga masih bisa jalan kan, kenapa gak ambil sendiri" kata Alesa kemudian menendang perlahan kaki kakak iparnya itu dan segera mempercepat langkah kakinya masuk ke kamar suaminya kemudian di kuncinya dari dalam


"Aw, sakit. Awas aja ya nanti" kata Kakak iparnya Alesa sembari mengelus kakinya yang di tendang Alesa barusan


Semua orang yang ada disitu tentu terdiam melihat Alesa yang sangat berani, padahal selama ini mereka tau Alesa itu sangatlah lemah dan mudah sekali di tindas tapi setelah melihat kejadian barusan mereka jadi berpikir ulang ingin mengerjai Alesa selama disini.


Namun tidak dengan kakak iparnya justru semakin kesal dan semakin ingin melihat Alesa nangis memohon nantinya jika sudah di tindas, dan suaminya yang melihat kejadian barusan justru diam saja tak mau ikut campur karena baginya tak penting sama sekali.


Tak terasa adzan dzuhur berkumandang, Alesa keluar dari kamar suaminya itu sembari mengandeng jari jemari mungil milik Azzam dan melihat ke arah ruang keluarga yang ternyata semua kerabat suaminya sudah pada pulang namun hanya tersisa kakak iparnya yang tertidur di atas sofa.


"Azzam duduk disini ya, main ini aja ya. Bunda mau masak sebentar buat Azzam" kata Alesa kepada Azzam sembari memberikan mangkok plastik dan gelas plastik


Azzam dengan patuh hanya menganggukkan kepala lalu mulai memainkan mangkok dan gelas yang di berikan Alesa barusan, sedangkan Alesa pun membuka kulkas melihat satu persatu bahan di dalam kulkas yang sangat lengkap dengan cekatan Alesa mengeluarkan beberapa bahan yang cepat untuk di masak.


Agar Azzam tak perlu menunggu lama, jadi Alesa memutuskan untuk memasak sup ayam sedikit saja karena hanya untuk Azzam makan siang ini juga dan setelah membersihkan semua bahan yang di siapkannya barusan Alesa pun mulai memotong wortel dan kentang dengan ukuran kecil-kecil.


"Tante, masak apa?" tanya Anak bungsu kakak iparnya menghampiri Alesa di dapur

__ADS_1


"Masak sup ayam, kenapa?" kata Alesa menoleh ke arah anak bungsu kakak iparnya itu


"Aku mau juga tante, aku lapar belum makan dari tadi pagi hanya makan roti pas beli di warung" kata Anak bungsu kakak iparnya itu dengan polos


Hah, Alesa tentu tercengang mendengar perkataan anak bungsu kakak iparnya itu, apa kakak iparnya itu tidak berpikir sedikit pun untuk memberi anaknya makan sampai-sampai anaknya kelaparan dan bahkan belum makan dari pagi tadi.


"Oke, tapi kamu duduk disitu ya sekalian main sama adik Azzam" kata Alesa mengelus pucuk kepada anak bungsu kakak iparnya itu yang kini berusia 7 tahun


"Oke tante" jawab Anak bungsu kakak iparnya sembari menghampiri Azzam yang sibuk bermain sendirian


Alesa segera mempercepat gerakan tangannya agar Azzam dan anak bungsu kakak iparnya itu tak menunggu lama, dan syukurnya hanya 10 menit sup ayam masakan Alesa sudah mateng bahkan harum sup ayam menyeruak sampai ke ruang keluarga dimana kakak iparnya sedang tertidur pulas.


"Kak Sandra kemana, dia puasa gak?" tanya Alesa kepada anak bungsu kakak iparnya itu menanyai anak sulung kakak iparnya


"Kak Sandra mungkin main di luar dengan teman-temannya, kak Sandra puasa. Kalau aku gak tahan mau puasa makanya gak pernah puasa" kata Anak bungsu kakak iparnya itu


Alesa menganggukkan kepalanya kemudian menyerahkan nasi dan semangkuk sup ayam kepada anak bungsu kakak iparnya agar bisa segera makan, Alesa juga mulai menyuapi Azzam yang masih sibuk bermain dengan mangkuk serta gelas yang di berikan Alesa tadi.


Kakak iparnya terbangun dari tidurnya saat mencium aroma sup ayam, membuat perutnya yang sedang lapar meronta minta di isi lalu kakak iparnya segera melangkahkan kaki ke dapur dan melihat anak bungsunya sedang makan bersama Alesa yang tengah menyuapi Azzam.


Kakak iparnya bersyukur anak bungsunya sedang makan, jadi kakak iparnya tak perlu repot untuk membelikan nasi bungsu di warung makan buat anak bungsunya itu seperti yang di lakukannya selama mereka puasa karena kakak iparnya itu malas masak.

__ADS_1


Kakak iparnya melewati Alesa begitu saja dan masuk ke kamar mandi hendak mengambil air wudhu untuk sholat dzuhur, kedua mertuanya dan suaminya kini sudah pulang dari masjid yang lumayan sangat jauh dari ke kediaman mertuanya ini sehingga mereka ke masjid mengunakan sepeda motor.


__ADS_2