
Dua minggu kemudian
Alesa kaget mengetahui kabar dari suaminya bahwasan ibu mertuanya akan menginap di ruko milik suaminya selama dua minggu, tak bisa Alesa bayangkan bagaimana jadinya ia yang harus kembali berinteraksi dengan ibu mertuanya yang kejam dan tak berperasaan itu.
Menghadapi suaminya pun ia banyak mengelus dada di tambah menghadapi ibu mertuanya nanti, ahh Alesa harus mulai memperbanyak stok sabar agar kuat menghadapi kelakuan ibu mertuanya yang kejam serta suaminya yang pasti akan diam saja jika ia di tindas oleh ibu mertuanya.
"Memangnya kapan ibu kesini, Mas?" tanya Alesa setelah lama terdiam
"Udah di jalan mungkin besok nyampe sini, bisa juga sore ini. Soalnya tergantung bus yang ibu tumpangi" jawab Mas Ilham tetap fokus dengan sarapannya
Glek
"Sore ini" kata Alesa dalam hati sembari menelan ludahnya
Mengapa suaminya baru bilang pagi ini jika ibu mertuanya sudah di perjalanan kenapa tidak dari kemarin, Alesa sedikit khawatir di tambah stok bahan di kulkas udah pada habis dan ia belum sempat belanja bisa-bisa ibu mertuanya makin murka jika ia tak menyiapkan makanan lezat untuk menyambut beliau.
"Kenapa?" tanya Mas Ilham yang sepertinya bisa membaca raut wajah Alesa khawatir
"Mas, kok gak ngomong dari kemarin. Bahan-bahan di kulkas kan udah pada habis, mana aku belum sempat belanja. Masak kedatangan ibu kita gak menyiapkan makanan lezat" kata Alesa menjelaskan kekhawatirannya
"Iya mana aku tau, itu kan urusan kamu soal dapur jadi jangan salahkan aku" jawab Mas Ilham lalu beranjak setelah sarapannya habis
Beginilah suaminya tak pernah mau di salahkan meski jelas suaminya itu salah, makanya Alesa hanya bisa diam dan menghela napas panjang sembari mengelus dada jika sudah mendengar perkataan yang keluar dari mulut suaminya.
__ADS_1
Jika bukan ia yang menjadi istri suaminya itu mungkin sudah lama suaminya itu menyandang status duda karena lelah menghadapi sikap suaminya yang tak pernah mau salah dan suka marah-marah itu, beruntungnya ia di beri kesabaran yang luar biasa jadi masih bisa mempertahankan biduk rumah tangga mereka.
Selesai membereskan bekas makan dan mencuci piring kotor, Alesa mendekati bayi Azzam yang sudah terbangun dari tidurnya dan Alesa pun segera melepaskan pakaian yang melekat di tubuh bayi Azzam hendak memandikan bayi Azzam mumpung masih pagi.
Hanya berapa belas menit bayi Azzam telah selesai mandi, kini Alesa memakaikan bayi Azzam jumpsuit lengan pendek yang ada tulisan jagoan Bunda membuat Alesa tersenyum membaca tulisan itu sembari terus mendaratkan ciuman di pipi bayi Azzam yang terlihat sangat mengemaskan itu.
"Jagoan Bunda udah tampan, sekarang kita jalan-jalan sebentar di teras depan" kata Alesa kemudian mengendong bayi Azzam yang kini sudah bisa menopang kepalanya sendiri
Alesa segera melangkahkan kaki menuju teras depan sembari mengendong bayi Azzam, Alesa mengajak bayi Azzam jalan-jalan di bawah pohon mangga yang sangat rindang di samping ruko milik suaminya itu sekalian menikmati terik matahari pagi yang terasa sejuk karena semalam habis hujan.
Setelah lama menikmati terik matahari sepertinya bayi Azzam sekarang juga kelihatan mulai lapar karena dari tadi menyedot jari jemari mungilnya, Alesa pun kembali masuk ke dalam ruko milik suaminya ingin menyusui bayi Azzam dan sekalian mengajak bayi Azzam bermain.
Semenjak usia bayi Azzam makin bertambah, Alesa sekarang sudah sulit untuk tidur siang karena ia selalu menyempatkan diri untuk bermain dengan bayi Azzam dan syukurnya semua pekerjaannya sudah selesai dari pagi sehingga jam segini ia sudah tak ada kerjaan lagi selain menjaga bayi Azzam.
.
.
Suaminya sudah berlalu dari warung menuju kamar mandi hendak mengambil air wudhu, sedangkan Alesa mulai duduk di kursi yang tersedia di warung dan tak berapa lama ada ibu-ibu datang hendak belanja dengan ramah Alesa menyapa ibu-ibu itu.
"Ini semuanya jadi berapa, mbak?" tanya Ibu-ibu sembari memberikan semua belanjaannya kepada Alesa untuk di hitung
Dengan cekatan Alesa memasukan belanjaan ibu-ibu itu satu persatu ke dalam plastik hitam sembari di hitungnya, karena belanjaan ibu-ibu itu banyak Alesa pun menghitung mengunakan kalkulator soalnya takut salah dan bisa-bisa ia kena semprot suaminya lagi jika salah hitung.
__ADS_1
"Semuanya jadi 168.000 bu" jawab Alesa dengan ramah sembari memberikan plastik hitam yang berisi belanjaan ibu-ibu itu
"ini mbak uangnya" kata Ibu-ibu itu sembari menyodorkan uang berwarna merah dua lembar
Alesa menerima uang dari ibu-ibu itu lalu memasukan dalam laci, kemudian mengambil uang pecahan untuk mengembalikan sisa uang ibu-ibu itu dan dengan ramah Alesa memberikan kembalian itu kepada ibu-ibu tersebut sembari mengucapkan terima kasih.
Selang berapa menit ibu-ibu tadi pergi, suaminya ternyata sudah siap dengan baju koko serta sarung handalan suaminya tentu tak lupa dengan paci yang menjadi pelengkap ketika suaminya pergi ke masjid lalu suaminya pamit dengan Alesa dan segera melangkahkan kaki keluar ruko.
Jika melihat suaminya memakai baju koko dan sarung serta paci seperti itu membuat Alesa selalu kagum, karena suaminya terlihat sangat tampan dan gagah namun sayang di balik itu semua suaminya memiliki sifat temperamen.
"Ehh mbak Alesa melamun aja, nanti kesambet gimana?" kata Bu Sri datang-datang mengagetkan Alesa yang masih menatap kepergian suaminya
"Ahh Bu Sri, iya gak lah Bu. Aku tu cuma ngelihatin Mas Ilham yang mau ke masjid" kata Alesa sembari menunjuk suaminya yang berjalan semakin jauh
Bu Sri pun reflek menoleh ke belakang dan memang benar ada suaminya Alesa yang tengah berjalan, Bu Sri pun mangut-mangut setelah tau ternyata Alesa sedang tidak melamun melainkan memperhatikan suaminya yang berjalan menuju masjid.
"Nak Ilham itu suami idaman ya mbak, rajin banget sholat berjamaah di masjid" kata Bu Sri yang selama ini selalu memperhatikan suaminya Alesa setiap kali pergi ke masjid
"Ahh Bu Sri bisa aja, Bu Sri mau beli apa?" kata Alesa sembari tersenyum mendengar perkataan Bu Sri yang memuji suaminya lalu mengalihkan pembicaraan
"Ahh aku jadi lupa, kalau kesini tadi mau beli mie" kata Bu Sri sembari menepuk jidatnya lalu berjalan menuju ke arah rak mie
Alesa yang melihat tingkah Bu Sri jadi tersenyum sembari geleng-geleng kepala, ia selalu terhibur setiap kali Bu Sri datang kesini hendak belanja namun sebelum belanja pasti ada aja yang di bahas oleh Bu Sri sampai kelupaan kalau tujuannya kesini mau belanja.
__ADS_1