
"Mas, ayo sarapan" kata Alesa yang sudah menata masakannya di atas karpet dengan rapi bahkan sudah tersedia secangkir kopi untuk suaminya dan secangkir teh hangat untuknya
Suaminya tak menyahut namun tetap berjalan menghampiri Alesa yang sudah duduk di atas karpet, Alesa dengan telaten mengambilkan nasi goreng untuk suaminya lalu setelah itu menyerahkan piring yang telah berisi nasi goreng itu di hadapan suaminya.
Kemudian Alesa juga mewadahi nasi goreng untuknya, lalu ia mulai memakan nasi goreng tersebut dengan lahap dan nikmat serta sesekali memperhatikan suaminya yang juga sedang makan.
Suaminya makan dalam diam tak mengeluarkan suara apa pun sunyi dan bahkan hanya terdengar dentingan sendok yang mengenai permukaan piring, Alesa bingung harus bagaimana menghadapi sikap suaminya yang dari semalam mendiaminya tanpa sebab itu.
"Gimana Mas nasi gorengnya, enak gak?" tanya Alesa memecahkan keheningan yang ada di antara ia dan suaminya
"Enak" jawab Suaminya singkat jelas dan padat tanpa menoleh ke arah Alesa serta segera menghabiskan nasi goreng yang ada di piring
Selesai sarapan suaminya memilih langsung ke depan untuk menjaga warung miliknya sembari membawa secangkir kopi yang di buat oleh Alesa tadi, ingin di minumnya sambil melayani para pembeli yang selalu ramai ketika pagi hari.
Alesa tak menghalangi suaminya sama sekali yang meninggalkannya begitu saja di dapur, ia memilih menghabiskan nasi goreng yang ada di piringnya itu kemudian menghabiskan teh hangat yang di buat untuknya sendiri yang sudah lama sekali ia tak minum teh hangat semenjak terlalu sibuk.
Kebetulan semua pekerjaan Alesa telah selesai pagi-pagi sekali tadi dan bayi Azzam belum bangun, Alesa memutuskan untuk segera mandi agar tubuhnya terasa lebih segar dan hanya berapa menit ia telah selesai mandi bahkan kini sudah memakai daster handalan bersama jilbab instan.
Alesa melangkahkan kaki mendekati bayi Azzam yang kebetulan baru bangun dari tidurnya, Alesa segera duduk di samping bayi Azzam menyapa dan mencium bayi Azzam dengan penuh kasih sayang.
Tak lama kemudian Alesa seperti biasa rutinitas yang tak akan bisa ia lewatkan jika bayi Azzam bangun tentu harus di mandikan, setelah itu memakaikan bayi Azzam baju kemudian menyusui bayi Azzam.
__ADS_1
"Mas, kalau mandi silahkan. Biar aku jaga warung" kata Alesa menghampiri suaminya di warung sembari mengendong bayi Azzam yang sudah terlihat segar
"Hemm" jawab Mas Ilham sembari beranjak dari duduknya dan berjalan melewati Alesa
Alesa hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya yang masih saja mendiamkannya, padahal ia pun tak tau salahnya apa dan sudah bertanya justru ia di suruh pikir sendiri memang ia dukun yang bisa menebak isi pikiran orang.
Tak ingin kepalanya pusing lagi seperti semalam, Alesa memilih diam dan duduk di lantai sembari bermain dengan bayi Azzam yang sekarang terlihat semakin lincah dan aktif bahkan sesekali bayi Azzam berusaha ingin tengkurep meski sedikit kesusahan karena tubuh bayi Azzam memang sangat berisi.
"Ayo jagoan Bunda pasti bisa" kata Alesa menyemangati bayi Azzam yang terus berusaha ingin tengkurep
Berapa detik kemudian akhirnya bayi Azzam pun bisa tengkurep sendiri, meski awalnya tadi sedikit kesusahan saat ini juga bayi Azzam belum bisa membalikkan badannya jadi Alesa harus membantu bayi Azzam agar nanti lama kelamaan bisa juga.
"Yee....yee... jagoan Bunda akhirnya bisa juga" kata Alesa bersorak bahagia menyaksikan bayi Azzam bisa tengkurep.
"Hemm"
Alesa segera beranjak dari duduknya sembari mengambil bayi Azzam yang terletak di kasur bayi, kemudian Alesa mengendong bayi Azzam ke ruang TV namun karena bosan di ruko terus Alesa pun memilih untuk duduk santai di teras depan.
Para pembeli berdatangan ke warung milik suaminya untuk belanja sembako, saat melihat Alesa mereka semua dengan senyum mengembang menyapa Alesa dan kadang ada menghampiri Alesa sembari menoel wajah tembem milik bayi Azzam.
Cukup lama Alesa berada di teras depan dan terik matahari juga mulai terasa sangat panas, Alesa pun memutuskan untuk masuk ke dalam ruko lagi sembari mengendong bayi Azzam ia melangkahkan kakinya menuju ke ruang TV.
__ADS_1
"Mas, titip bayi Azzam bentar. Aku udah gak tahan lagi mau ke kamar mandi" kata Alesa kepada suaminya yang tengah duduk santai sembari memainkan gawainya
"Iya" jawab Mas Ilham singkat sembari beranjak mendekati bayi Azzam yang sedang guling di kasur bayi
Suaminya memandangi bayi Azzam yang tengah bermain dengan jari jemari mungilnya itu, dan sesekali bergumam seperti mengajak suaminya itu berbicara lalu tertawa membuat suaminya menyunggingkan senyuman melihat tingkah bayi Azzam yang menurutnya lucu.
"Kamu ternyata udah besar ya, nak" kata Mas Ilham sembari mengelus pipi tembem milik bayi Azzam
"Ayah tak pernah memperhatikan pertumbuhan dan perkembanganmu selama ini, karena terlalu fokus dengan warung. Itu juga Ayah lakukan demi masa depan kamu" kata Mas Ilham yang terus memandangi bayi Azzam dengan begitu dalam
Alesa yang sebenarnya telah lama selesai dari kamar mandi berhenti di dapur saat mendengar perkataan demi perkataan yang keluar dari mulut suaminya, ia bahkan terharu suaminya yang ternyata begitu fokus menjaga warung semua di lakukannya demi masa depan bayi Azzam.
Alesa sadar penghasilan mereka hanya dari warung milik suaminya dan tak ada lagi, jika sewaktu-waktu warung milik suaminya sepi atau bangkrut mereka takkan ada penghasilan lagi dan jika pun suaminya melamar pekerjaan tentu susah untuk mendapatkan gaji besar di zaman modern sekarang.
Kini Alesa akan memaklumi suaminya jika memang suaminya tak bisa membantunya menjaga bayi Azzam, namun yang ia harap kan sekarang adalah perhatian dan keharmonisan seperti dulu dari suaminya yang sudah lama sekali hal itu hilang.
Entah kapan sampai Alesa pun lupa saking sudah lama tak dapat perhatian dan keharmonisan dari suaminya, Alesa segera melangkahkan kakinya menghampiri suaminya yang kini menyempatkan diri bermain dengan bayi Azzam meski hanya dua puluh menit.
"Udah Mas, terima kasih" kata Alesa kemudian duduk di samping bayi Azzam yang masih bermain dengan jari jemari mungilnya
Tak ada jawaban apapun tapi suaminya tetap beranjak dan melangkahkan kaki ke arah depan untuk kembali menjaga warung miliknya, lagi-lagi Alesa harus menelan pil pahit karena sampai detik ini suaminya masih mendiamkannya meski ia sudah berusaha mengajak suaminya komunikasi.
__ADS_1
Ahh rumah tangga mereka jadi semakin terasa asing jika mereka tak pernah mengobrol satu sama lain, Alesa jadi bingung harus melakukan apa agar suami mau ngobrol lagi atau kalau bisa marah-marah lagi dengannya dan jangan sampai diam seperti saat ini.