Rasa Yang Mati

Rasa Yang Mati
Bab 85


__ADS_3

Matahari mulai muncul dari ufuk timur perlahan-lahan seperti malu-malu kucing, seluruh makhluk di muka bumi juga sudah mulai melakukan aktifitas mereka masing-masing ada yang pergi ke sekolah, ada yang pergi kerja, ada juga yang pergi ke kebun.


Namun berbeda dengan sepasang suami istri yang sudah usia lanjut ini, mereka yang tak memiliki aktifitas di pagi hari memilih untuk bersantai di halaman belakang sembari menikmati kopi hitam yang hangat dan pisang goreng baru di angkat dari minyak panas menimbulkan kepulan asap.


"Yah, semalam ibu mimpiin Alesa. Perasaan ibu sampe sekarang jadi gak enak, kepikiran dengan Alesa terus" kata Ibunya Alesa sembari duduk di dekat suaminya dan sembari menikmati pisang goreng


"Mungkin perasaan ibu aja" kata Ayahnya Alesa yang sebenarnya memang dari kemarin kepikiran dengan Alesa juga


"Semoga aja Alesa baik-baik ya yah, Ilham juga sudah janji kan bakal bahagiain Alesa" kata Ibunya Alesa dengan pikiran yang terus berkelana


"Aaamiiin, semoga aja" jawab Ayahnya Alesa kemudian menyeruput kopi hitam buatan istrinya itu


Sang ibu dan sang ayah setiap pagi memang lebih suka sarapan di halaman belakang jadi bisa sambilan menikmati suasana pagi hari yang masih terasa sangat sejuk, belum lagi melihat tanaman sang ibu yang tumbuh dengan subur membuat mata jadi segar.


Namun ketika sang ibu bilang semalam mimpiin Alesa, suasana yang tadi begitu damai dan tentram seketika berubah jadi berantakkan karena pikiran sang ibu dan pikiran sang ayah saat ini begitu was-was terpikir dengan anak bungsu mereka itu.


"Yah, kita telepon aja ya Alesa-nya. Tanya kabar" saran Ibunya Alesa pada akhirnya mengambil keputusan


"Ya udah" jawab Ayahnya Alesa setuju dengan saran istrinya


Sang ibu melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah hendak mengambil gawainya ingin menghubungi anak bungsu mereka, setelah mendapatkan gawainya yang terletak di lemari TV segera sang ibu ambil dan membawa ke halaman belakang.


Kini sang ibu sudah berada di halaman belakang dan sudah duduk kembali di samping sang ayah, kemudian sang ibu mulai mengotak-atik gawainya mencari kontak nama Alesa setelah bertemu langsung sang ibu menekan tombol hijau.


Tut......


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan"

__ADS_1


Sekali lagi sang ibu mencoba namun masih juga operator yang menjawab, sang ibu pun menghela napas panjang benar-benar khawatir dengan keadaan anak bungsu mereka itu yang saat ini nomornya juga tak aktif.


"Kenapa, bu?" tanya Ayahnya Alesa ketika melihat wajah istrinya cemberut dan bibir mancun


"Nomor Alesa gak aktif, yah" kata Ibunya Alesa begitu sedih


"Coba telepon nomor Ilham" saran Ayahnya Alesa dan di angguki istrinya lalu kembali mengotak-atik gawainya mencari kontak nama menantunya


Tut.....


Tut.....


Tut.....


"Gak di angkat yah" kata Ibunya Alesa kembali memasang wajah sedih


Sang ibu kembali menghubungi nomor menantunya itu, dengan sabar menanti telepon di seberang di angkat agar sang ibu bisa berbicara dengan Alesa dan menanyai kabar Alesa jika sudah mendengar suara Alesa tentunya sang ibu akan menjadi tenang.


.


.


"Alesa......" teriak Mas Ilham yang sedang di warung miliknya


"Iya, Mas. Ada apa?" kata Alesa pelan sembari menghampiri suaminya setelah selesai memakaikan Azzam baju dan celana


"Ini, ibumu nelpon dari tadi. Kamu angkat tapi awas kalau kamu ngadu segala" kata Mas Ilham sembari menyodorkan gawai milik Alesa yang kini di pakai oleh suaminya

__ADS_1


Alesa diam tapi tetap mengambil gawai itu dan menerima telepon dari sang ibu, sang ibu begitu senang ketika mendengar suara anak bungsunya dan sang ibu mulai mengoceh panjang lebar menanyai kabar Alesa serta menanyai mengapa nomor telepon Alesa tak aktif.


Dengan perlahan Alesa menjawab satu persatu pertanyaan sang ibu dan menjelaskan bahwa gawai miliknya rusak tak sengaja jatuh pas bermain dengan Azzam, Alesa terpaksa berbohong karena ia tak mau sang ibu tau bahwa gawai miliknya hadiah ulang tahun Alesa pemberian kedua orang tuanya kini menjadi milik suaminya.


Setelah cukup lama berbicara dengan sang ibu, sambungan telepon pun di akhiri Alesa dengan alasan hendak memandikan Azzam yang sebenarnya Alesa tak mau terlalu lama berbicara dengan sang ibu takut ia kebawa suasana dan jadi menangis tentu ia tak mau sampai kedua orang tuanya tau masalahnya disini.


"Ini, Mas. Udah" kata Alesa pelan sembari memberikan kembali gawai miliknya dengan suaminya itu


"Ya sudah, sana. Malas aku lihat wajah kamu itu" kata Mas Ilham setelah mengambil gawai itu dari tangan Alesa langsung mengusir Alesa


Alesa hanya diam tak menjawab dan segera beranjak pergi dari warung milik suaminya itu, Alesa memilih duduk di ruang TV sembari menemani Azzam yang tengah bermain sendirian bahkan kali ini Azzam tak lagi merengek seperti kemarin ingin bermain dengan ayahnya.


Kemungkinan Azzam masih takut dengan ayahnya akibat kemarin siang di bentak, Alesa menatap layar TV yang tengah menyala menampilkan film-film yang bagus namun pikiran Alesa berkelana entah kemana dan sepertinya hanya raga Alesa yang ada di depan TV itu namun nyawanya seperti sudah mati.


Alesa kembali melamun seperti semalam dan lagi-lagi kepikiran tentang kehidupannya, bahkan Alesa belum tidur dari semalam hingga detik ini saking terlalu banyak pikiran dan kedua kantung mata Alesa pun kini menghitam akibat tak tidur semalaman belum lagi bibirnya yang tampak pucat.


Makanya suaminya sangat malas melihat wajah Alesa saat ini seperti mayat hidup, dan Alesa juga sudah tak peduli lagi dengan wajahnya mau pun tubuhnya sekarang toh suaminya tak peduli dan tetap masih meminta hak-nya jika ingin menuntaskan hasratnya.


Jadi buat apa lagi Alesa berdandan cantik jika masih tak di hargai sebagai istri, Alesa tiba-tiba tertawa pelan menertawakan diri sendiri yang begitu bodoh masih mau bertahan dengan laki-laki yang tak pantas di sebut sebagai suami mau pun ayah.


"Kamu ni udah gila ya, tertawa sendiri" kata Mas Ilham pada Alesa yang ternyata mendengar tawa Alesa meski tadi Alesa sudah pelan


"Iya, aku memang sudah gila. Gila karna kamu, Mas" kata Alesa tanpa menoleh ke arah suaminya namun masih menatap layar TV yang tengah menyala


"Gila karna aku, Hahaha. Wajar saja, lihat penampilan kamu saat ini berantakkan sekali sama persis dengan orang gila di rumah sakit jiwa" kata Mas Ilham tertawa kemudian menatap penampilan Alesa dari atas ke bawa


"Iya memang, aku cantik juga kamu tak menghargai jadi lebih baik aku seperti ini" kata Alesa yang mulai terusut emosi

__ADS_1


"Dasar gila" kata Mas Ilham kemudian berlalu dari hadapan Alesa kembali melangkahkan kakinya yang hendak ke dapur ingin mengambil air minum


__ADS_2