
"Alesa....." teriak Mas Ilham membuat Alesa telonjak kaget
"Ada apa sih, Mas? Gak perlu teriak-teriak juga manggil aku, aku pasti denger" kata Alesa yang langsung menoleh ke arah suaminya dan membuat semua lamunan tadi seketika terbuyar
"Apa kata kamu, gak perlu teriak-teriak. Kamu itu dari tadi di panggil tapi gak nyahut-nyahut, jaga warung sana aku mau mandi" kata Mas Ilham yang melangkahkan kaki ke arah kamar mandi sembari mengalungkan handuk di lehernya
Alesa pun mau tak mau segera beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki ke arah depan untuk menjaga warung, beginilah kehidupannya bagaimana mau tampil cantik baru saja bayi Azzam tidur dan ia hendak istirahat tapi suaminya sudah memerintahnya untuk menjaga warung.
Alesa duduk di kursi yang ada di warung sembari kedua bola matanya menatap jalanan yang pagi ini nampak ramai kendaraan berlalu lalang, ia kembali melamun memikirkan nasibnya ke depan jika suatu saat suaminya menalaknya ia harus bagaimana.
Ia begitu takut menjadi aib dalam rumah tangga kedua orang tuanya jika ia jadi seorang janda, terus bagaimana nasib bayi Azzam yang pasti semakin kekurangan kasih sayang dari sosok seorang ayah yang tentu sangat di butuhkan bayi Azzam nanti.
Apalagi bayi Azzam adalah laki-laki tentu sangat perlu figur seorang ayah agar bayi Azzam bisa jadi laki-laki sejati, namun suaminya itu jangankan menjadi sosok ayah yang baik menjadi laki-laki bertanggung jawab saja tidak bisa sama sekali.
Saat tengah melamun Alesa mendengar notifikasi dari gawainya yang menandakan ada sebuah pesan masuk di aplikasi berwarna hijau yang berlogo gagang telepon, segera Alesa melihat layar gawainya dan ternyata adik iparnya yang mengiriminya pesan.
^^^[Assalamualaikum, mbakku yang cantik. Apa kabar?]^^^
^^^[Walaikumsalam, mbak baik. Kamu sendiri]^^^
^^^[Baik juga mbak. Ohh ya mbak, aku lagi dapat give away dari teman kampusku yang mengadakan give away besar-besaran karena skincare yang di buatnya laris manis jadi karena banyak aku kirim satu paket skincare ke alamat ruko Mas Ilham untuk mbakku yang cantik ini]^^^
^^^[Masyaallah, merepotkan saja. Terima kasih sebelumnya]^^^
__ADS_1
^^^[Iya sama-sama, udah dulu mbak. Aku masih ada kerjaan, Assalamualaikum]^^^
^^^[Iya,Walaikumsalam]^^^
Alesa begitu senang ternyata ALLAH ada cara lain untuk membuatnya senang, ia tak menyangka adik iparnya begitu peduli dengannya padahal banyak yang bilang ipar itu jahat tapi tidak dengan adik iparnya ini bahkan menganggap ia seperti saudara kandung atau pun seorang sahabat.
Sudah setengah jam lebih suaminya di dalam kamar mandi namun belum juga keluar, dan selama itu juga Alesa hanya duduk melamun menatap jalanan yang ramai tapi justru warung milik suaminya sepi belum ada yang belanja entah mengapa biasanya pagi begini banyak sekali ibu-ibu datang hendak belanja.
Alesa yang mulai bosan kembali memainkan gawainya, ia melihat-lihat sosial media yang jarang sekali sekarang di bukanya bahkan mungkin sudah lama juga Alesa tak meng-update status atau apa lah yang berhubungan dengan sosial media saking terlalu sibuk dengan urusan dunia nyata.
"Hemm"
Suara deheman membuat Alesa langsung mengalihkan pandangan matanya dari layar gawainya dan menoleh ke sumber suara yang ternyata dari suara suaminya, Alesa pun segera beranjak dari duduknya dan memilih kembali ke ruang TV dimana bayi Azzam berada.
.
.
"Alesa, jaga warung. Aku mau tidur siang" kata Mas Ilham langsung masuk ke dalam kamar
Lagi-lagi Alesa harus menjaga warung padahal ia baru saja selesai mengerjakan urusan dapur, inilah yang kadang membuat Alesa lelah menghadapi suaminya yang sedikit pun tak mengerti dengan keadaannya.
Padahal suaminya melihat jelas ia yang mengerjakan pekerjaan rumah menyempatkan diri untuk tetap sambilan menjaga bayi Azzam, sedangkan suaminya kemana hanya menjaga warung duduk santai jika tak ada yang belanja namun tak ada niat suaminya menjaga bayi Azzam.
__ADS_1
Seharusnya yang butuh istirahat itu Alesa bukan suaminya, ahh miris sekali hidup Alesa. Capek hati, capek badan, capek semuanya ingin mengeluh dan menumpahkan rasa lelahnya ke seseorang namun siapa yang bisa mengerti posisinya mungkin kedua orang tuanya.
Tapi Alesa tak mungkin menceritakan aib dalam rumah tangganya kepada kedua orang tuanya, apalagi ia selalu dapat pesan dari sang ibu untuk selalu menjadi pakaian untuk suaminya yang artinya selalu menutupi segala kekurangan suaminya atau menutupi segala keburukan suaminya.
Setelah menyusun kembali peralatan yang habis di mainkan bayi Azzam, Alesa segera melangkahkan kaki ke depan untuk menjaga warung milik suaminya lagi sembari mengendong bayi Azzam dan di letakkannya bayi Azzam di karpet yang biasa Alesa bentangkan di lantai warung.
"Assalamualaikum" ucap Seseorang yang suara sangat di kenal Alesa
"Walaikumsalam" jawab Alesa sembari beranjak dan menatap orang yang ada di hadapan dengan tatapan seperti sedang ingin menginterogasi
"Hehh, mbak Alesa ternyata yang jaga warung. Kemana Mas Ilhamnya?" kata Menantu Bu Sri sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal
"Lagi tidur siang, kenapa mau ngobrol dengan suami aku. Jadi datang kesini mau ngobrol bukan mau belanja" kata Alesa dengan nada bicara yang ketus
"Gak lah mbak, mau belanja dan sekalian ngasih ini. Kata Mas Ilham ini makanan favorit mbak makanya aku bawain buat mbak" kata Menantu Bu Sri menyodorkan sebuah plastik transparan yang terlihat berisi sebuah lauk
"Terima kasih, mau belanja apa?" kata Alesa menerima plastik transparan itu meski terpaksa karena ia di ajarkan oleh sang ibu untuk selalu menerima apa pun yang di beri orang karena kita tak boleh menolak rezeki
Menantu Bu Sri pun mengambil beberapa sembako yang di butuhkannya, kemudian di serahkannya kepada Alesa dan Alesa mulai memasukan semua belanjaan menantu Bu Sri ke plastik hitam sembari di hitungnya satu persatu.
Setelah memberikan belanjaan menantu Bu Sri sekalian menyebutkan total belanjaannya, kemudian menantu Bu Sri menyodorkan uang pas yang kebetulan memang sudah di perkirakannya dari rumah sebelum ke warung milik suaminya Alesa.
Dan mengapa bisa kebetulan karena menantu Bu Sri habis berkirim pesan dengan suaminya Alesa melalui sosial media yang berlogo F jadi bertanya harga-harga barang yang hendak di belinya, Alesa sebenarnya curiga namun saat ini belum waktunya ia memergoki suaminya dan menantu Bu Sri yang di takuti Alesa berselingkuh.
__ADS_1
Jika itu benar terjadi tak habis pikir Alesa, mengapa bisa menantu Bu Sri mau saja jadi selingkuhan suaminya padahal jelas menantu Bu Sri itu sangat beruntung mendapatkan seorang suami seperti anak sulung Bu Sri yang Alesa kenal sangat bertanggung jawab dan baik bahkan terlihat tak temperamental tak seperti suaminya.