
"Kamu kenapa sih, Mas?" tanya Alesa masih keheranan dengan suaminya yang terus memeluknya kemudian melepas tangan suaminya yang melingkar di perutnya dan segera beranjak duduk
"Maafin aku ya, selama ini gak bisa jadi suami yang baik untuk kamu. Bahkan selalu kasar dengan kamu" kata Mas Ilham ikut beranjak duduk kemudian menggenggam jari jemari milik Alesa
"Ini sudah yang ke berapa kali Mas minta maaf, tapi Mas pasti mengulangi lagi. Aku lelah Mas, bahkan kata maaf dari Mas sudah tak penting lagi karena tak bisa mengembalikan rasa di hati ini yang sudah mati" kata Alesa melepas paksa jari jemarinya dari genggaman suaminya kemudian menunjuk dadanya
"Aku tau kamu tak mencintaiku lagi, tapi aku masih mencintaimu dan sangat membutuhkanmu" kata Mas Ilham memegang kedua pundak Alesa sembari menatap kedua bola mata Alesa
"Omong kosong, Mas. Kamu sudah tak mencintaiku tapi kamu memang masih membutuhkanku untuk menuntaskan nafsumu serta untuk kamu jadikan babu di rumah tangga yang sudah tak sehat lagi dan harus kamu ingat, Mas. Aku bertahan karena Azzam, bukan karena hal lain" kata Alesa kemudian meraih tubuh Azzam dan mengendong Azzam keluar dari kamarnya malas berdebat panjang dengan suaminya itu.
Suaminya Alesa menghela napas secara kasar, suaminya Alesa sangat takut bercerai dengan Alesa karena ia memang masih membutuhkan sosok Alesa jika pun ia bercerai tentu sulit untuk mencari wanita yang sabar seperti Alesa.
Namun suaminya Alesa juga telah berusaha untuk berubah tapi sepertinya sudah terlambat, karena hati Alesa sudah sangat terluka akibat terlalu sabar menghadapi sikap suaminya yang sering kasar dengan bahkan jarang peduli dengan Alesa.
Tiba-tiba suaminya Alesa tersenyum mengingat perkataan Alesa yang bilang bahwa ia akan tetap bertahan karena semua demi Azzam, dan suaminya Alesa pun berpikir jika mereka bercerai tentu Azzam akan kehilangan sosok ayah sepertinya apalagi jarak antara kesini dan tempat tinggal mereka sangat jauh.
Dan belum tentu ia di terima baik jika datang kesini, makanya Alesa sangat memikirkan nasib Azzam dan suaminya Alesa pun bersyukur jika memang rumah tangga mereka masih bisa di pertahankan meski sudah tak sehat lagi.
Di ruang TV Alesa mengembangkan senyumannya kepada kedua istri kakaknya dan keponakan-keponakannya yang sedang menonton TV, ia selalu menyembunyikan luka yang tergores di hati, karena ia tan mau siapa pun tau masalah dalam rumah tangganya.
Apalagi harus melibatkan kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya hal paling di hindarinya selama ini, Alesa segera duduk sembari meletakkan Azzam di dekat keponakan-keponakannya yang sangat keasyikan menonton TV.
Alesa tersenyum bahagia melihat Azzam yang melompat-lompat kegirangan karena banyak teman bermain, apalagi rumah orang tuanya saat ini memang ramai karena mereka berkumpul semua disini dan kemungkinan sampai beberapa ke depan.
__ADS_1
.
.
Adzan ashar berkumandang
Sang ayah dan kedua kakak laki-laki Alesa pamit berangkat ke masjid lebih dulu untuk sholat berjamaah, sedangkan suaminya memilih agak akhiran karena masih malu kepada ayahnya Alesa dan kedua kakak Alesa setelah kejadian tadi.
Di rumah seperti biasa Alesa sholat berjamaah dengan kedua istri kakaknya dan sang ibu, Alesa bersyukur jika di rumah orang tuanya ia bisa sholat berjamaah dan yang pastinya tepat waktu karena Azzam bermain dengan keponakan-keponakannya.
Selesai sholat di ruang khusus tempat sholat, Alesa segera ke kamar tidurnya hendak membaca al-quran dan setelah itu ia kembali ke ruang TV dimana Azzam dan keponakan-keponakannya sedang bermain sembari menonton TV.
"Assalamualaikum" ucap Kedua kakak laki-laki Alesa dan Ayahnya Alesa secara bersamaan di ambang pintu kemudian melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah
Alesa mengerutkan keningnya karena tak melihat suaminya pulang bersama sang ayah dan kedua kakak laki-lakinya, namun ia tak peduli terserah suaminya mau pulangnya dengan siapa dan kapan karena baginya tak penting.
Setelah mengganti pakaian mereka, sang ayah dan kedua kakak laki-laki Alesa mengajak Azzam dan anak-anak mereka bermain di halaman belakang sedangkan para wanita memilih ke dapur ingin masak buat makan malam nanti.
Para wanita mulai sibuk dengan sayur-sayuran dan bahan-bahan yang hendak di masak, kali ini sang ibu menyarankan untuk memasak pepes ikan nila dan tumis cah kangkung yang tak boleh di lupakan sebagai pelengkap masakan mereka adalah sambal terasi.
Setelah para wanita berkutik selama satu jam setengah akhirnya semua masakan yang di masak para wanita pun telah matang, kini waktu sudah menunjukan pukul 05.00 sore Alesa pun pamit dengan sang ibu dan kedua istri kakaknya itu hendak memandikan Azzam apalagi sudah sore.
"Azzam, mainnya udah ya sayang. Mandi dulu, nanti lanjut lagi main dengan kakak-kakaknya" kata Alesa menghampiri Azzam yang sedang bermain bola bersama sang ayah dan kedua kakak laki-lakinya serta keponakan-keponakannya
__ADS_1
"Iya, mainnya udah dulu. Nanti kita lanjut lagi, ayo kita siap-siap mandi" kata Kakak kedua Alesa mengajak yang lain
Karena Azzam yang masih kecil jadi Alesa memandikan Azzam di air kran yang ada di halaman belakang, apalagi kamar mandi dalam di pakai oleh keponakan Alesa yang perempuan dan hanya berapa belas menit Azzam telah selesai mandi.
Alesa membawa Azzam masuk ke dalam kamarnya, tiba di dalam kamar Alesa terkejut melihat suaminya yang ternyata ada di dalam kamarnya mengurung diri dan tumben tak mau bergabung dengan sang ayah dan kedua kakak laki-lakinya yang tadi bermain bola di halaman belakang.
"Udah lama pulang dari masjidnya, Mas?" tanya Alesa sembari membalurkan minyak telon dan bedak di tubuh Azzam
"Baru berapa menit yang lalu" jawab Mas Ilham duduk di tepi ranjang
"Kenapa baru pulang, dan gak bareng ayah dan abang" kata Alesa dengan tangan yang cekatan memakaikan Azzam piyama tidur
"Gak apa-apa, tadi ada yang ngajak ngobrol makanya agak lama di masjid dan baru pulang" kata Mas Ilham berasalan yang sebenarnya memang memilih menyendiri di masjid
Alesa menganggukkan kepalanya kemudian keluar kamar lagi bersama Azzam, dan menghampiri keponakan-keponakannya yang ternyata sudah pada mandi juga bahkan terlihat sudah pada tampan dan pada cantik.
Alesa duduk sembari meletakkan Azzam, kemudian Azzam mulai bermain lagi dengan keponakan-keponakannya membuat suasana di ruang TV begitu ramai akibat suara tawa dan teriakan anak-anak itu.
Alesa dan kedua kakak laki-lakinya pun ikut tertawa saat ada salah satu keponakan Alesa yang jatuh, Azzam yang paling kecil hanya bisa ikut lari kesana lari kesini sembari tertawa karena sangat bahagia bahkan mungkin ini pertama kali Alesa melihat Azzam yang tertawa lepas.
Suaminya Alesa yang ada di dalam kamar ingin sekali melihat apa yang membuat semua orang tertawa, namun karena masih memiliki rasa malu jadi tak berani untuk keluar kamar dan ia pun berpikir merasa seperti keadaan Alesa pas di rumah orang tuanya.
Hanya bisa mengurung diri di dalam kamar, namun bedanya Alesa tetap bisa keluar apalagi jika di suruh ini itu oleh ibu kandungnya sedangkan ia tak ada alasan untuk keluar hanya saja rasa malunya sangat tinggi.
__ADS_1