
Setelah berapa lama menginap di kediaman mertuanya akhirnya Alesa sekeluarga pulang dari sana, dan setelah melakukan perjalanan dua hari satu malam kini Alesa sekeluarga pun tiba di kediaman orang tuanya yang sangat di rindukannya karena sudah lama ia tak menginap di kediaman orang tuanya.
Bahkan saat ini kedua kakak laki-lakinya dan kakak ipar serta keponakannya pada menginap di kediaman orang tuanya, kedatangan Alesa sekeluarga membuat suasana rumah jadi semakin ramai dan tentu Alesa jadi bisa bermanja-manja kepada kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya.
"Udah punya anak, masih juga manja" kata Ibunya Alesa namun masih membiarkan Alesa bergelayut di lengannya
"Namanya si bungsu bu, gak akan bisa jadi dewasa sampai kapan pun" celetuk Kakak pertama Alesa dengan di iringi tawa yang lain
Suaminya pun melihat Alesa begitu manja hanya bisa tersenyum, baru berapa jam mereka tiba tapi Alesa masih juga bermanja-manja dengan sang ibu berbeda sekali jika berada di kediaman mertuanya yang justru Alesa langsung di suruh ini itu.
"Tapi kok kamu kurusan, dek" kata Kakak kedua Alesa yang memang memperhatikan sang adik dari tadi
"Ahh namanya juga ibu menyusui, bang. Belum lagi kalau Azzam lagi rewel, harus ekstra tenaga malam-malam begadang" kata Alesa yang mencari alasan masuk akal dan tak mungkin ia memberitahu keluarganya bahwa ia tak di beri makan oleh keluarga suaminya
"Iya, ibu dulu pertama punya anak juga begitu. Malahan lebih kurus dari Alesa sekarang" kata Ibunya Alesa membenarkan perkataan Alesa
Suaminya dari tadi diam tapi tetap mendengar semua obrolan keluarga Alesa, dan suaminya juga jadi terharu saat Alesa tak menjelaskan yang sebenarnya terjadi bahkan suaminya jadi tak enak hati dengan Alesa yang begitu menderita selama menikah dengannya.
Cukup lama mereka mengobrol akhirnya waktu sudah menunjukan pukul 11.40 siang yang artinya waktunya makan siang, kedua istri kakaknya segera beranjak ke dapur membantu sang ibu menyiapkan makanan.
Alesa yang hendak membantu tak di izinkan oleh sang ibu karena Alesa baru tiba, tentunya masih sangat lelah apalagi perjalanan dari kediaman mertuanya ke kediaman orang tuanya memakan waktu dua hari satu malam.
Belum lagi selama perjalanan Alesa pasti sibuk mengurus Azzam yang sedang aktif-aktifnya, meski sering bergantian dengan suaminya tetap saja yang namanya di perjalanan apalagi mengunakan bus bukan mobil pribadi jadi tak bisa istirahat dengan nyaman selama di dalam bus.
__ADS_1
"Kalian makan aja dulu bareng bapak, ibu nanti saja. Ibu mau nyuapin Azzam dulu" kata Ibunya Alesa mengendong Azzam menghampiri semuanya yang sedang siap-siap hendak makan
Alesa dan lainnya mulai duduk rapi di lantai yang terpasang karpet, mereka semua mengambil makanan sendiri-sendiri kecuali Alesa yang harus mengambilkan suaminya dahulu karena suaminya memang selalu minta di layani bak seorang raja.
Setelah itu mereka semua mulai menyantap hidangan makanan yang ada di hadapan mereka dengan sangat lahap, suasana seperti inilah yang Alesa rindukan setelah berapa tahun tak merasakan hingga akhirnya bisa makan bersama lagi dengan keluarga besarnya.
Selesai makan Alesa membantu kedua istri kakaknya membereskan bekas makan mereka sekalian mencuci piring-piring kotor, sedangkan para laki-laki bersiap-siap hendak pergi ke masjid untuk sholat dzuhur berjamaah karena adzan baru selesai berkumandang.
"Mbak udah berapa lama disini?" tanya Alesa kepada kedua istri kakaknya itu di sela-sela mereka sedang membereskan dapur dan yang satunya mencuci piring
"Pas sehari sebelum lebaran" jawab Kedua istri kakaknya Alesa
"Ibu jahat gak dengan kalian, memerintah kalian ini itu gak?" tanya Alesa karena ia ingin tau apa semua ibu mertua itu jahat
Alesa menganggukkan kepala ia sangat paham karakter sang ibu yang selalu menolak jika mau di bantu kecuali kita yang bersikeras dan sang ibu tak bisa melarang lagi, artinya hanya ia yang mendapatkan ibu mertua yang kejam dan tak berperasaan di tambah kakak iparnya yang julid.
Pembicaraan Alesa dengan kedua istri kakaknya ternyata di dengar sang ibu yang sedang duduk di halaman belakang bersama cucu-cucunya, sang ibu bisa menebak mengapa Alesa bertanya seperti itu tadi dan sang ibu pun jadi sedih karena artinya Alesa menderita selama menginap di kediaman mertuanya.
Andai sang ibu bisa membantu pasti ia akan membantu Alesa, dan sayangnya sang ibu juga tak pernah bertemu lagi dengan mertuanya Alesa bertemu pun hanya sekali waktu acara pernikahan anak mereka jika sang ibu punya kesempatan pasti sang ibu menegur mertuanya Alesa.
Setelah semua pekerjaan mereka beres, Alesa dan kedua istri kakaknya ke kamar mandi secara bergantian hendak mengambil air wudhu untuk sholat dzuhur berjamaah di rumah khusus para wanita dan keponakan Alesa yang wanita.
Seperti biasa yang menjadi imam Alesa, setelah selesai sholat mereka pun ke kamar masing-masing ada yang hendak tidur siang ada juga hanya meletakkan mukena dan sajadah yang baru saja mereka pakai untuk sholat tadi.
__ADS_1
Alesa membawa Azzam masuk ke kamar tidurnya semasa gadisnya dulu, ia ingin mengajak Azzam tidur siang apalagi mereka baru tiba pagi tadi jadi butuh istirahat siang dan pekerjaan di rumah juga tak ada lagi semua sudah beres tadi.
Alesa yang berbaring sembari menyusui Azzam pun akhirnya tertidur, saat Alesa tidur suaminya masuk ke dalam kamar ingin melihat Alesa dan setelah tau Alesa tidur suaminya kembali keluar kamar ingin berbincang-bincang hangat di luar bersama kedua kakak Alesa dan orang tua Alesa.
"Ilham, ibu mau tanya boleh?" kata Ibunya Alesa saat mereka sedang duduk santai di ruang depan
"Tanya apa, bu" kata Mas Ilham sedikit takut ibu mertuanya itu tau sesuatu
"Apa yang nak Ilham rasakan setiap kali menginap disini?" tanya Ibunya Alesa membuat semua yang disitu mengerutkan kening
"Ilham senang karena begitu di ayomi setiap kali menginap disini" jawab Mas Ilham dengan tenangnya
"Kalau nak Ilham merasa selalu di ayomi, terus mengapa Alesa menginap di rumah orang tua nak Ilham di jadikan BABU" kata Ibunya Alesa membuat semua yang disitu terkejut
Deg
Suaminya Alesa terdiam dengan perkataan ibu mertuanya barusan, bahkan jantungnya seketika berdetak sangat cepat seperti habis berlari maron 50 keliling karena tak tau harus mencari alasan apa soalnya ia sudah terpojok dengan jawabannya sendiri.
Dan semua yang berada disitu pun ikut deg-deg menanti alasan yang keluar dari mulut suaminya Alesa, bahkan seketika ruang depan menjadi sepi hanya terdengar dentingan jam dinding yang terus berganti detik ke menit.
Suaminya Alesa berdiri dari duduknya, kemudian melangkahkan kaki ke arah ibu mertuanya dan langsung bersimpuh di kaki ibu mertuanya yang membuat suasana menjadi semakin tegang apalagi kedua kakak laki-laki Alesa mulai terusut emosi.
"Maafin Ilham, bu. Gak bisa menjadi suami yang baik buat Alesa, tak bisa membela Alesa ketika berada di rumah orang tuaku" kata Mas Ilham terus memohon kepada ibu mertuanya itu
__ADS_1