
Kebetulan semua pekerjaannya telah selesai dan bayi Azzam juga bersama ibu mertuanya, Alesa memutuskan untuk membersihkan halaman depan ruko milik suaminya yang sudah lama tak di bersihkannya apalagi dedaunan pohon mangga yang kering sudah banyak sekali bertumpukan.
"Tumben rajin mbak Alesa" kata Bu Sri yang hendak belanja ke warung milik suaminya Alesa menghampiri Alesa yang tengah menyapu halaman depan
"Memangnya selama ini Bu Sri lihat aku gak rajin gitu?" tanya Alesa bingung karena Bu Sri datang-datang membicarakan ia yang tumben rajin
"Iya-iyalah, bukannya semenjak ada ibu mertuamu. Kamu itu malas banget ngerjain pekerjaan rumah, bayi Azzam aja ibu mertuamu yang ngurus" kata Bu Sri lagi yang membuat Alesa melongo
"Bu Sri paling pintar nilai orang, apa harus aku laporan dengan Bu Sri soal pekerjaan rumah tanggaku" kata Alesa sembari tersenyum ia tak terima di fitnah seperti itu
Bu Sri langsung terdiam mendengar perkataan Alesa barusan, ia yang malas berdebat dengan Alesa yang selalu mempunyai banyak jawaban itu segera kembali melangkahkan kakinya menuju warung milik suaminya Alesa hendak segera membeli apa yang tadi ingin di belinya.
Selepas kepergian Bu Sri Alesa pun memilih melanjutkan pekerjaannya karena malas juga mendengar omongan Bu Sri, Alesa sangat yakin pasti ibu mertuanya sudah menjelek-jelekkannya di hadapan Bu Sri atau jangan-jangan bukan dengan Bu Sri saja melainkan semua para tetangga mereka.
Ternyata kebaikan ibu mertuanya yang mau mengurus bayi Azzam selama disini ada udang di balik batu, dasarnya kalau memang memiliki sifat jelek dari dulu memang susah untuk di ubah membuat Alesa jadi kesal dengan ibu mertuanya yang telah menyebarkan fitnah tentangnya.
Padahal semenjak bayi Azzam lahir ia sengaja mengerjakan semua pekerjaannya sehabis sholat subuh, karena agar ketika bayi Azzam bangun ia tak ada kerjaan lagi dan fokus mengurus bayi Azzam saja serta menyiapkan makan untuk suaminya.
Ahh lihat saja nanti ibu mertuanya yang telah memfitnahnya akan ia kerjain biar ibu mertuanya tau rasa telah beraninya memfitnah seorang Alesa yang sudah berusaha menjadi menantu yang baik dan istri yang baik untuk anaknya tapi tetap saja jelek di mata ibu mertuanya.
Selesai membersihkan halaman depan ruko milik suaminya dan langsung di bakarnya tumpukan dedaunan yang telah di kumpulkan barusan, lalu Alesa melangkahkan kaki masuk ke dalam ruko ingin langsung mandi karena tubuhnya penuh dengan keringat dan tak mungkin juga ia mengurus bayi Azzam dalam keadaan kotor seperti sekarang.
__ADS_1
"Alesa mandi dulu bu, titip lagi ya bayi Azzam-nya" kata Alesa saat melewati ibu mertuanya yang sedang bermain dengan bayi Azzam
Di dalam kamar mandi Alesa sengaja memperlambat mandinya, selain agar lebih bersih ia juga ingin mengerjai ibu mertuanya agar tau rasa bagaimana sibuknya ia selama ini mengurus bayi Azzam apalagi kalau bayi Azzam sudah menangis sangat sulit untuk menenangkannya.
Jadi biar ibu mertuanya berpikir jangan ini hanya bisanya memfitnah sesuatu yang tak ada, andai suaminya mau membelanya pasti udah ia ceritakan pada suaminya bahwasan ibu mertuanya telah menyebar fitnah kepada para tetangga mereka disini namun sayang suaminya takkan percaya pastinya.
Dan akan tetap membela ibu kandungnya itu yang jelas-jelas telah salah, sudah hampir berapa belas menit Alesa di dalam kamar mandi dan samar-samar Alesa mulai mendengar suara tangis bayi Azzam meski sedikit tertelan dengan bunyi mesin air di kamar mandi yang sedang di nyalakan Alesa.
Alesa segera menyelesaikan acara mandinya, ia tak akan tega membiarkan bayi Azzam menangis terlalu lama apalagi sampai membuat bayi Azzam sesenggukan kemudian Alesa keluar dari kamar mandi dan langsung menghampiri bayi Azzam yang menangis sendirian di ruang TV guling di kasur bayi.
Buru-buru Alesa memakai daster lalu mengendong bayi Azzam, Alesa segera menenangkan bayi Azzam sembari pikirannya bertanya-tanya kemana ibu mertuanya dan mengapa tega meninggalkan bayi Azzam sendirian terus suaminya juga gak ada di warung.
"Dari depan beli ini tadi" kata Mas Ilham memperlihatkan plastik yang di tentengnya
"Terus ibu kemana?" tanya Alesa lagi pada suaminya
"Ibu, gak tau aku ibu kemana. Di kamar mungkin" jawab Mas Ilham kemudian mengambil mangkok buat kuah cuka dan membawanya ke dekat Alesa
"Bayi Azzam nangis tadi, gak ada yang nemenin dia. Aku tadi sedang mandi" kata Alesa menjelaskan kejadian barusan
"Perasaan tadi aku lihat bayi Azzam tidur, mungkin ke bangun makanya nangis" kata Mas Ilham seperti biasa membela ibu kandungnya
__ADS_1
Alesa terdiam sembari berpikir masak iya bayi Azzam tidur secepat itu, padahal ia hanya berapa belas menit di kamar mandi dan sebelum mandi tadi ia lihat bayi Azzam masih bermain dengan ibu mertuanya, dan bukannya bayi Azzam takkan pernah bisa tidur kalau tidak menyusu dulu.
"Buka mulutnya, biar aku suapin. Bayi Azzam pasti lama menyusunya" kata Mas Ilham membuyarkan lamunan Alesa
Alesa pun langsung menurut membuka mulutnya dan dapat suapan dari suaminya, sudah lama sekali Alesa tak memakan pempek Palembang yang tak ada sama sekali jualannya di daerah ini dan kadang ada tukang ojek yang berjualan pempek tersebut masuk daerah sini itu paling bisa di hitung saking jarang.
Tak lama bayi Azzam akhirnya tertidur, Alesa segera meletakkan bayi Azzam di kasur bayi lagi kemudian Alesa melanjutkan makan pempek Palembang yang ternyata lumayan banyak suaminya beli tadi mungkin saja karena jarang makan pempek Palembang makanya suaminya sengaja beli banyak.
"Ibu dari mana?" tanya Mas Ilham saat melihat sang ibu baru muncul
"Dari rumah Bu Sri, kenapa?" kata Ibu mertuanya Alesa dan langsung mencomot pempek yang ada di hadapan Alesa tanpa dosa
"Kok bayi Azzam di tinggal sendirian tadi, bu" kata Alesa yang tak habis pikir dengan ibu mertuanya meninggalkan bayi Azzam sendirian
"Kamu sih lama mandinya, jadi aku tinggal aja. Kan bayi Azzam juga belum bisa kemana-mana, paling masih di kasurnya kan" jawab Ibu mertuanya Alesa terus memakan pempek Palembang tersebut
"Tega banget ibu ninggalin bayi Azzam gitu aja, setidaknya kalau mau pergi kemana-mana tunggu Alesa" kata Alesa yang kesal dengan ibu mertuanya
"Udah-udah, malu denger tetangga kalau ribut" kata Mas Ilham menengahi Alesa dan ibu mertuanya yang hampir saja bersitegang
Suaminya langsung beranjak dari duduknya dan kembali ke depan untuk menjaga warung miliknya, sedangkan ibu mertuanya juga setelah makan berlalu begitu saja dan masuk kamar hingga mau tak mau Alesa lagi yang harus membereskan bekas makan mereka barusan.
__ADS_1