Rasa Yang Mati

Rasa Yang Mati
Bab 17


__ADS_3

Satu minggu kemudian


Alesa dan suaminya kini sudah pulang ke ruko tempat tinggal mereka, bahkan sudah berapa hari ini suaminya sudah membuka kembali warung sembakonya yang hampir satu bulan di tutupnya karena lantaran mereka mudik.


Alesa seperti biasa pagi-pagi setelah sarapan sudah di suguhkan dengan pakaian kotor yang sudah terendam di dalam baskom, belum lagi piring-piring kotor bekas mereka makan tadi dan semalam.


Alesa pun mulai mengerjakan pekerjaan rumah satu persatu dari mulai menyapu, mengepel lantai dan di lanjut lagi dengan mencuci piring-piring kotor yang menumpuk di wastafel setelah itu baru ia mencuci pakaian yang sudah di rendamnya dalam baskom.


Selesai semua pekerjaannya kini waktunya Alesa memasak lauk pauk untuk makan siang mereka nanti, untung tadi pagi tukang sayur lewat lebih pagi dari biasanya jadi tak membuat ia kerepotan untuk menunggu lagi.


"Mau masak apa?" tanya Mas Ilham kepada Alesa yang tengah memotong kentang dan wortel


"Sop ayam dengan sambal ijo" jawab Alesa tanpa menoleh ke arah suaminya dan tetap fokus dengan kentang dan wortel yang di potong-potongnya


"Bisa gak besok masak yang lebih enak lagi, kayak rendang daging sapi" kata Mas Ilham yang tumben-tumben banyak permintaan


"Aku gak salah denger kan, Mas" kata Alesa menghentikan gerakan tangannya dan menoleh ke arah suaminya


Suaminya Alesa hanya menggelengkan kepalanya yang artinya pendengaran Alesa tidak salah, Alesa pun langsung tertawa terbahak-bahak atas permintaan suaminya yang menurutnya aneh.


"Kenapa malah ketawa?" tanya Mas Ilham kepada Alesa dengan raut wajah kesal karena di tertawakan Alesa


"Gimana mau masak rendang daging sapi, kalau jatah uang belanjaku saja hanya 25.000. Sedangkan daging sapi 1kg 120.000 belum lagi bumbu rendang basahnya, seperempat kilo saja gak dapat. Mas" kata Alesa menjelaskan kepada suaminya sembari tersenyum dan geleng-geleng kepala

__ADS_1


Suaminya Alesa pun terdiam selama ini ia memang tak tau menau soal uang belanja istrinya cukup atau tidak yang terpenting ia sudah memberi jatah 25.000, bahkan dulu ketika ia masih sendiri ia lebih sering beli makanan di luar ketimbang masak karena ia tak mau repot.


Kemudian suaminya Alesa berlalu begitu saja meninggalkan Alesa yang sudah kembali fokus dengan pekerjaannya yang sempat tertunda, suaminya Alesa memilih duduk di warungnya sembari memikirkan perkataan Alesa tadi.


"Ehh nak Ilham, kok melamun pagi-pagi. Entar kesambet gimana" kata Ibu-ibu yang hendak belanja menegur Ilham yang tengah melamun


"Ahh bu Sri, mau beli apa?" tanya Mas Ilham dengan ramah bukan menjawab tapi justru mengalihkan pembicaraan


Bu Sri pun mengambil gula 1kg, kopi berukuran sedang, tepung 1kg dan satu renteng masako ayam yang tersusun di atas rak kemudian di serahkannya kepada suaminya Alesa karena ia hendak membayar belanjaannya.


"Semuanya 38.000 bu" kata Mas Ilham sembari memasukan belanjaan bu Sri ke dalam kantong plastik berwarna hitam


Bu Sri pun langsung menyodorkan uang berwarna biru satu lembar kepada suaminya Alesa, lalu suaminya Alesa memberikan kembalian kepada bu Sri sembari tak lupa mengucapkan terima kasih dan bu Sri pun pamit setelah mendapat kembaliannya.


Tak berapa lama datang lagi pembeli tentunya dengan ramah suaminya Alesa menyambut kedatangan para pembeli yang kini semakin ramai dan Alesa yang hendak ke depan mengambil sesuatu di warung suaminya mengurungkan niatnya, saat melihat warung suaminya sangat ramai.


Kini terik matahari sudah ada di atas kepala menunjukan bahwa sekarang sudah tengah hari, dan tak lama kemudian terdengar suara adzan dzuhur berkumandang dengan merdu memanggil seluruh umat islam untuk segera mengerjakan sholat berjamaah di masjid bagi kaum laki-laki.


"Aku berangkat, jaga warung sebentar. Assalamualaikum" kata Mas Ilham kepada Alesa kemudian melangkahkan kaki keluar rumah


"Walaikumsalam" jawab Alesa yang sudah duduk di warung sembako milik suaminya itu


Karena warung tidak ada pembeli Alesa memutuskan untuk memainkan gawainya sebentar hendak mengirim pesan kepada adik iparnya yang sudah dua minggu ini selalu mengiriminya pesan, menanyakan keadaannya dan kabarnya sekarang.

__ADS_1


Hanya setengah jam suaminya sudah kembali ke ruko mereka dan kini telah mengganti baju kokohnya dengan kaos oblong, Alesa segera beranjak dari duduknya setelah ada suaminya yang mau menjaga warung dan Alesa juga ingin sholat dzuhur dahulu baru menyiapkan makan siang untuk mereka.


"Mas, ayo makan" kata Alesa setelah selesai sholat langsung menyiapkan makanan di atas karpet


Suaminya yang mendengar panggilan dari Alesa segera melangkahkan kaki ke arah dapur, kemudian duduk lesehan berhadapan dengan Alesa yang tengah mengambilnya nasi serta lauk pauk.


"Kok hambar, gak ada rasa sama sekali" kata Mas Ilham saat menghirup kuah sop ayam tersebut


"Masak sih" kata Alesa kemudian menghirup kuah sop ayam miliknya


Alesa langsung menepuk jidatnya, ia baru teringat bahwa persediaan masako di dapur sudah habis dan bahkan tadi ia hendak mengambil masako namun lupa lantaran menolong suaminya melayani pembeli yang sangat ramai.


"Kenapa? kamu tu kebiasaan kalau masak. Kalo gak keasinan pasti hambar" kata Mas Ilham yang mulai kesal lantaran sudah sangat lapar tapi mau makan lauknya hambar


"Maaf Mas, aku lupa kasih masako di sop ayamnya. Makanya hambar, tadi mau ngambil masako tapi kelupaan" kata Alesa sembari beranjak dari duduknya dan berjalan menuju warung milik suaminya


"Selalu begitu, gak tau apa orang udah kelaparan" kata Mas Ilham yang mulai emosi dengan pekerjaan Alesa yang sering salah


Alesa tak mendengar lagi ocehan suaminya karena sudah berada di depan, kemudian Alesa bergegas kembali ke dapur dan memperbaiki masakannya yang hambar tadi dengan di tambahkannya satu sendok makan kaldu masako.


Setelah itu Alesa menyicipi masakannya, setelah di pastikannya masakannya lezat dan pas di lidah ia pun segera mewadahi lagi sop ayam itu ke dalam mangkuk dan di serahkannya kepada suaminya.


Suaminya pun langsung memakan masakan yang sudah di hidangkan Alesa itu dengan lahap dan nikmat, Alesa juga ikut makan bersama suaminya meski kadang sesekali harus beranjak karena melayani pembeli.

__ADS_1


"Makanya sebelum masak itu, lihat dulu persediaan bahan-bahan dapur sudah lengkap apa belum. Jangan sampai ini terulang lagi" kata Mas Ilham kemudian beranjak setelah selesai makan dan meninggalkan Alesa begitu saja


Alesa hanya diam dan memilih membereskan sisa makan mereka serta ingin langsung mencuci piring-piring kotor bekas mereka makan barusan, agar tak bertumpukan di wastafel seperti pagi tadi.


__ADS_2