Rasa Yang Mati

Rasa Yang Mati
Bab 59


__ADS_3

Kini bus yang membawa para penumpang yang ingin mudik ke kepulauan riau pun sudah tiba di pelabuhan, bahkan bus tersebut sekarang hendak mulai menaiki kapal fery yang sudah di penuhi bus lain yang berjejer rapi.


Tiba di kapal fery para penumpang pun di minta kernek untuk segera turun meski sekarang malam hari, Alesa dan suaminya beriringan segera turun dari bus sembari mengendong Azzam yang terlihat tertidur pulas.


Setelah berada di lantai kapal fery Alesa dan suaminya melangkahkan kaki mereka menuju tempat tidur yang ada di kapal fery, setelah dapat tempat tidur tersebut segera Alesa meletakkan Azzam yang masih anteng dalam gendongannya.


Kemudian Alesa dan suaminya membuka nasi bungkus milik mereka masing-masing, nasi bungkus yang di beli pas waktu bus yang membawa mereka menyempatkan untuk berhenti sejenak karena para penumpang yang puasa hendak berbuka.


Dengan sangat lahap Alesa dan suaminya menghabiskan nasi bungkus milik mereka masing-masing, setelah makan Alesa dan suaminya bergantian hendak sholat isya' di jamak akhir dengan sholat magrib yang sudah lewat dari tadi.


Yang memilih sholat duluan yaitu suaminya, sedangkan Alesa memilih membereskan bekas makan mereka setelah itu Alesa kembali menghampiri Azzam yang masih tertidur kemudian Alesa duduk di samping Azzam sembari memainkan gawainya.


Alesa sangat menyayangkan tiba di kapal fery malam hari jadi ia dan para penumpang lain tak bisa menikmati suasana di tengah laut biru yang biasanya terlihat indah jika sore hari, jika malam seperti ini hanya terlihat gelap gulita dan lampu-lampu dari kapal fery yang lain.


"Udah sholatnya, Mas" tanya Alesa saat melihat suaminya sudah kembali mendekatinya dengan Azzam


"Udah, kamu sholatlah kalau mau sholat" kata Mas Ilham kemudian duduk di samping Azzam


"Ya sudah, aku tinggal sebentar" kata Alesa segera beranjak dari duduknya dan memasukan gawainya ke dalam tas kecilnya


"Ohh ya, aku mau langsung tidur. Gak apa-apakan" kata Mas Ilham sebelum Alesa melangkahkan kaki

__ADS_1


"Iya gak apa-apa" jawab Alesa kemudian melangkahkan kaki meninggalkan suaminya


Setelah mengambil air wudhu di tempat wudhu khusus wanita di mushollah itu, Alesa segera masuk ke dalam mushollah dan mengambil mukenah yang ada di dalam lemari yang biasa di pakai oleh para penumpang lainnya.


Alesa segera memakai mukenah tersebut, dengan khusyuk ia mengerjakan sholat magrib dahulu tiga raka'at setelah itu lanjut dengan sholat isya' dua raka'at karena sudah di niatkannya dalam hati sholatnya di jamak akhir dan di qashar yang artinya di perpendek.


Selesai sholat Alesa memilih menyempatkan diri untuk membaca al-quran kecil miliknya yang selalu di bawanya jika melakukan perjalanan jauh seperti ini, yang di letakkan Alesa di dalam tas kecil bersamaan dengan gawainya.


Setelah itu Alesa kembali menghampiri suaminya dan Azzam, tiba disitu ternyata suaminya sudah tertidur di samping Azzam dan Alesa yang belum merasa mengantuk memilih untuk jalan-jalan keluar kapal fery ingin menikmati suasana malam.


Namun sebelum itu Alesa memakai jaket tebal miliknya yang memang selalu ia siapkan jika hendak melakukan perjalanan jauh, Alesa melangkahkan kakinya perlahan keluar dari kapal fery dan melihat langit gelap yang terlihat indah karena di penuhi dengan bintang.


"Haii...." sapa Seseorang mendekati Alesa yang sedang berdiri di bagian depan kapan fery


"Anda sendirian aja, apa boleh saya bergabung?" kata Laki-laki yang dari tadi berusaha mendekati Alesa


"Disini mungkin saya terlihat sendirian, tapi saya bersama suami dan anak saya hanya saja mereka sudah tidur" jawab Alesa tanpa menoleh ke arah laki-laki itu


"Ohh begitu, maaf jika sudah menganggu. Beruntung laki-laki yang menjadi suami anda karena anda tetap menjaga hatinya dimana pun berada" kata Laki-laki itu kemudian pergi dari hadapan Alesa


Alesa hanya tersenyum mendengar perkataan laki-laki tadi yang mengatakan bahwa siapa yang menjadi suaminya sangat beruntung, namun sepertinya tidak dengan suaminya sekarang karena selama ini Alesa selalu salah di mata suaminya.

__ADS_1


Meski memang kadang hubungan mereka ada kalanya terlihat baik-baik saja, kadang juga terlihat sangat tak baik bahkan hati Alesa rasanya sudah lelah menghadapi sikap suaminya hanya saja ia bertahan sampai saat ini demi Azzam karena ia selalu memikirkan masa depan Azzam.


Memori di pikiran Alesa mulai berputar mengingatkan ia bagaimana selama dua tahun ini sangat bersabar dengan sikap suaminya, teringat kembali Alesa waktu usia Azzam memasuki satu tahun dan waktu itu Azzam baru bisa berjalan.


Azzam yang bisa mengambil apapun tiba-tiba memberantakkan semua isi warung milik suaminya, sehingga tepung serta gula yang sudah di bungkus suaminya dengan plastik isinya jadi berceceran kemana-mana karena di robek oleh Azzam.


Sehingga suaminya marah besar sampai membentak Alesa di depan para pembeli dan kebetulan waktu itu para pembeli sangat ramai, bahkan bukan hanya Alesa yang kena marah suaminya tapi Azzam yang masih kecil juga jadi korban.


Alesa bisa terima suaminya mau memarahinya di depan para pembeli, tapi jika menyangkut Azzam sebagai ibu tentu tak terima anaknya di marahi meski itu adalah ayah kandung Azzam sendiri hingga semenjak kejadian itu rasanya hati Alesa sudah mati untuk suaminya.


Hingga pada akhirnya suaminya berusaha mencari perhatian dengannya atau berusaha jadi Ayah yang baik untuk Azzam, namun tetap tak bisa menyembuhkan luka yang sudah membekas di hati Alesa apalagi luka itu bukannya sembuh justru semakin parah.


"Alesa...." panggil Mas Ilham sembari memegang pundak Alesa dari belakang


Alesa yang sedang melamun pun terlonjak kaget saat merasakan ada yang memegang pundaknya, segera Alesa menoleh ke belakang ingin melihat siapa yang memegang pundaknya dan ternyata suaminya yang berada di belakangnya saat ini.


"Aku nyariin kamu dari tadi, ternyata kamu disini. Ini udah malam, udara malam juga sangat dingin tidak baik untuk tubuh kita. Ayo kita istirahat" kata Mas Ilham sembari memegang jari jemari milik Alesa hendak mengandeng tangan Alesa dan mengajaknya masuk ke dalam kapal fery


"Ayo...." jawab Alesa sembari melepaskan jari jemarinya yang berada di genggaman suaminya lalu segera melangkahkan kakinya mendahului suaminya yang terdiam mematung


Entah mengapa rasanya Alesa sudah tak butuh lagi semua perhatian yang di berikan suaminya sekarang, setelah apa yang terjadi selama ini dan apa yang telah di lakukan suaminya terhadapnya karena sepertinya rasa cintanya ke suaminya juga sudah semakin tipis seperti selembar tisu.

__ADS_1


Atau bisa jadi mungkin sekarang hatinya sudah mati, jika sekali dua kali Alesa mungkin bisa memanfaatkan perbuatan suaminya yang berlaku kasar dengannya tapi setelah di maafkan suaminya akan melakukan lagi terus berulang kali sehingga membuat Alesa muak mendengar kata maaf.


Bahkan tiba-tiba Alesa teringat kejadian berapa bulan yang lalu, kejadian dimana ia di tampar oleh suaminya dengan sangat keras bahkan pipinya terasa kebas serta panas menjadi satu, ia juga sempat memelas dan memohon waktu itu dengan suaminya agar tak di tampar namun suaminya justru sedikit pun tak ada rasa belas kasihan terhadap nya.


__ADS_2