
Sebelum pulang ke kediamannya Sisil mampir ke perusahaannya dan menuju bagian gudang ia meminta kepala gudang mengepak pakaian milik Azzam yang sudah di kardusinnya itu, barang tersebut akan di kirim ke alamat orang tua Alesa.
Setelah itu baru Sisil kembali melajukan mobilnya meninggalkan perusahaannya dan menuju ke kediamannya, hanya berapa puluh menit mobil yang di lajukan oleh Sisil sudah memasuki halaman rumahnya.
Sisil segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya yang tampak sepi, karena suaminya pasti masih di perusahaan sedangkan keluarga pihak Sisil sudah kembali berapa hari yang lalu Dan kini hanya tinggal ibu mertuanya.
"Baru pulang, gimana udah selesai semua urusanmu?" tanya Ibunya Rangga saat melihat Sisil melangkahkan kaki hendak ke kamar
"Iya bu, Alhamdulilah udah selesai. Raya mana bu?" kata Sisil membelokkan langkah kakinya ke arah ibu mertuanya itu
Kemudian Sisil duduk di samping ibu mertuanya yang tengah bersantai di sofa ruang keluarga, Sisil mengerakkan leher kepalanya ke kanan ke kiri melonggarkan otot lehernya yang terasa pegal.
"Syukurlah kalau udah selesai, Raya tidur di kamar kalian dalam box bayi" kata Ibunya Rangga sembari menoleh sekilas ke arah sang menantu
"Terima kasih ya bu, maaf sudah ngerepotin ibu" kata Sisil tak enak hati dengan ibu mertuanya yang sangat baik
"Iya sama-sama, ibu justru senang kamu mau mengurusi Azzam. Kasihan dia di usia masih anak-anak harus menjadi anak yatim piatu" kata Ibunya Rangga yang mengerti keadaan Sisil
__ADS_1
Soalnya hanya Sisil dan pihak keluarga Alesa yang sangat peduli dengan keadaan Azzam, sedangkan keluarga Sisil tak ada bahkan setelah beberapa hari kepergian kedua orang tua Azzam mereka sibuk mengurusi harta peninggalan ayahnya Azzam.
Padahal semua itu hak Azzam dan syukurnya Sisil bergerak lebih cepat, sehingga pihak keluarga suaminya Alesa tak bisa berkutik lagi walaupun mereka bersikeras ingin harta itu dan yang membuat pusing padahal harta tak seberapa tapi jadi rebutan.
Sisil pun pamit dengan ibu mertuanya hendak membersihkan tubuhnya yang penuh keringat dan sangat kotor akibat habis dari ruko milik sang kakak, dan saat dapat anggukkan dari ibu mertuanya Sisil segera beranjak dan menuju kamar.
Tiba dalam kamar Sisil langsung menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya, setengah jam kemudian ia telah selesai mandi dan bahkan sudah memakai piyama tidur lalu Sisil mendekati box bayi mencium putrinya yang di tinggalnya hampir seharian ini.
Drrrt.....
Bunyi gawai milik Sisil yang masih berada di dalam tas, Sisil segera melangkah mendekat ke arah tasnya dan mengambil gawai miliknya terlihat di layar gawai itu nama sang kakak pertamanya yang menelepon namun tak langsung Sisil jawab karena ia heran mengapa tiba-tiba sang kakak menelponnya.
"Hallo, As......." kata Sisil ingin mengucap salam saat ia menerima telepon tersebut namun orang di seberang telepon sudah memotong
"Kenapa baru di angkat sih, kemana aja dari tadi. Gimana kamu sudah jual semua kan barang yang ada di ruko Ilham, cepat transfer uangnya ke rekening mbak" kata Orang di seberang telepon mencerocos bicara tanpa jeda siapa lagi kalau bukan Siti kakak pertama Sisil dan Ilham
"Apaan sih mbak, tanya itu satu-satu. Aku jadi bingung mau jawab apa" kata Sisil sedikit ketus dengan sang kakak pertama
__ADS_1
"Ala, gak usah basa basi. Pokoknya sekarang transfer uang hasil jual barang dari ruko Ilham tadi" kata Siti tak mau tau permintaannya harus di turuti
"Mbak Siti itu salah alamat kali, ngapain juga aku transfer uang hasil jual barang dari ruko Mas Ilham ke mbak Siti. Semua uang itu buat Azzam yang lebih berhak bukan mbak Siti" kata Sisil yang mulai kesal dengan pihak keluarganya yang selalu memikirkan uang uang dan uang
Padahal Azzam itu lebih butuh dari pada mereka yang sudah dewasa, dan apalagi sang kakak pertama sudah memiliki suaminya yang bertanggung jawab dan gaji besar masih selalu merasa kekurangan.
"Ala Azzam itu udah di tanggung oleh orang tua Alesa yang punya usaha tempe itu, dan kedua kakak laki-laki Alesa juga pasti bisa memberi uang kepada Azzam. Jadi otomatis uang hasil jual barang dari ruko Ilham transfer kesini, kalau kamu sepertinya gak butuh uang karena sudah kaya" kata Siti lagi panjang lebar
"Astagfirullah, maaf mbak aku gak bisa uang itu hak Azzam. Assalamualaikum" kata Sisil memilih mematikan sambungan telepon secara sepihak
Bicara dengan sang kakak pertama akan menguras emosinya saja, padahal saat ini ia sangat lelah habis melakukan perjalanan jauh dari pusat kota ke ruko milik sang kakak belum lagi tadi harus membongkar pakaian-pakaian milik Alesa, sang kakak dan Azzam.
Saat ingat habis bongkar pakaian milik Alesa tadi, Sisil teringat uang yang di simpannya di dalam plastik dan di masukannya di dalam tas yang di pakainya tadi lalu Sisil mengeluarkan plastik yang berisi uang itu.
Lembar demi lembar Sisil rapikan dan susun menjadi sepuluh lembar lalu di lipatnya, seperti itu terus sampai semua terlihat rapi dan bisa di lihat seberapa banyak jumlah uang dari celengan milik Alesa itu.
Semua uang itu ada sekitaran 20 juta, kini akan bertambah lagi tabungan yang Sisil siapkan khusus untuk Azzam ia akan deposit semua uang itu agar bisa di ambil ketika Azzam sudah beranjak remaja.
__ADS_1
Belum lagi kemarin Sisil juga mendapatkan ATM milik sang kakak yang di serahkan oleh pihak polisi, karena ia tak tau sandi ATM itu ia minta tolong di urus oleh pihak bank dan syukurnya sudah selesai bahkan uangnya sudah tergabung dengan uang tabungan yang Sisil siapkan untuk Azzam itu.
Tak ada yang tau perihal itu hanya Sisil Rangga dan ibu mertuanya Sisil yang tau, karena hanya mereka lah yang dapat Sisil percaya sedangkan keluarganya sendiri ia tak yakin soalnya semua pihak keluarganya begitu serakah kalau soal uang.