
Setelah makan malam Alesa yang tengah membereskan bekas makan mereka tiba-tiba perutnya terasa sakit seperti melilit, namun Alesa menghiraukan dan kembali melanjutkan pekerjaannya tapi ketika ia hendak mencuci piring-piring kotor Alesa merasa bagian pahanya basah seperti pipis di celana.
Alesa menundukkan kepalanya sembari mengangkat daster panjangnya itu dan di lihatnya bagian pahanya sampai ke betis ada cairan bercampur darah yang mengalir, Alesa pun baru sadar jika ia mau melahirkan dan Alesa tetap berusaha tenang tak ingin terlihat panik.
"Mas, Bu...." panggil Alesa sembari menghampiri sang ibu yang tengah mengobrol dengan suaminya di warung
"Ada apa?" tanya Ibunya Alesa sembari menoleh ke arah sang anak
"Mas, Bu sepertinya Alesa mau melahirkan" kata Alesa sembari mengangkat daster panjangnya memperlihatkan cairan bercampur darah
"Ahhh, iya nak Ilham Alesa mau melahirkan" kata Ibunya Alesa beranjak mendekati sang anak
Suaminya langsung beranjak ingin mencari mobil yang bisa mengantar mereka ke Puskesdes yang ada di ujung desa, kalau mengunakan sepeda motor tentu tak muat apalagi sekarang ada ibu mertuanya yang pasti mau ikut menyaksikan Alesa lahiran.
Beruntung tetangga mereka yang punya warung makan itu ada mobil jadi suaminya tak perlu jauh-jauh mencari mobil, suaminya pun minta tolong dengan tetangga mereka itu untuk mengantar Alesa ke Puskesdes yang ada di ujung desa.
Alesa dan sang ibu pun masuk ke dalam mobil sembari membawa satu tas yang berisi keperluan bayi dan keperluan Alesa, suaminya menutup ruko miliknya dahulu sebelum masuk ke dalam mobil setelah itu baru suaminya menyusul Alesa dan sang ibu yang sudah berada di dalam mobil dari tadi.
Mobil pun mulai melaju dan hanya 15 menit mereka sudah tiba di Puskesdes, Alesa dan suaminya serta sang ibu turun namun suaminya tak lupa memberi ongkos kepada tetangga mereka yang sudah mau mengantar mereka barusan tapi tetangga mereka itu menolak karena ia ikhlas menolong Alesa.
Alesa dan suaminya pun mengucapkan terima kasih karena tetangga mereka menolong mereka dengan ikhlas, bahkan tetangga mereka itu juga bilang kalau sudah lahiran dan mau minta jemput lagi akan di jemputnya membuat Alesa dan suaminya makin senang karena memiliki tetangga yang sangat baik.
__ADS_1
Tetangga mereka pun pamit pulang dan memberikan nomor hpnya kepada suaminya Alesa agar nanti suaminya Alesa bisa menghubunginya jika butuh bantuan lagi, selepas tetangga mereka pergi Alesa dan suaminya serta sang ibu segera masuk ke dalam Puskesdes yang masih terlihat beberapa pegawai.
"Bu Bidan, istri saya mau melahirkan" kata Mas Ilham ketika bertemu dengan seorang perempuan yang memakai seragam
"Ohh baik Pak, mari kita masuk ke dalam ruang persalinan" ujar Bu Bidan itu sembari membukakan salah satu pintu ruangan yang tertulis ruang persalinan
Alesa dan suaminya serta sang ibu langsung melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang persalinan, lalu Alesa di minta Bu Bidan untuk berbaring di ranjang pasien karena Bu Bidan ingin melihat sudah pembukaan berapa jalan lahir bayi itu.
"Ini baru pembukaan dua bu, jadi paling besok pagi baru lahiran. Kalau mau menginap silahkan, saya di luar kalau butuh apa-apa panggil saja" kata Bu Bidan itu dengan ramah
"Iya Bu Bidan, terima kasih" jawab Alesa yang baru merasakan sakit sedikit-sedikit
Satu jam telah berlalu kini Alesa baru merasakan sakit luar biasa di perutnya akibat kontraksi terus menerus, ia juga terus menggenggam erat tangan suaminya yang sedang duduk di samping ranjang pasien yang di tempatinya sekarang di sebelah kiri.
Waktu terus berjalan semalaman Alesa tak bisa memejamkan kedua kelopak matanya akibat perutnya yang terus terasa sakit, kini waktu juga sudah menunjukan pukul 03.00 pagi yang artinya masih tengah dalu dan sangat tepat Alesa pun baru merasakan air ketubannya pecah.
"Bu Bidan... Bu Bidan....." teriak Mas Ilham memanggil Bu Bidan ke ruangannya
"Iya ada apa Pak?" tanya Bu Bidan sembari mengucek matanya yang kelihatan terbangun dari tidurnya
"Air ketuban istri saya udah pecah" kata Mas Ilham memberi tahu Bu Bidan
__ADS_1
"Ohh iya Pak, entar saya kesana" jawab Bu Bidan masuk kembali ke dalam ruangannya hendak membangunkan panther kerjanya dan mencuci wajahnya agar terlihat segar
Bu Bidan dan panther kerjanya sudah masuk ke ruang persalinan dimana Alesa berada, Bu Bidan kembali memeriksa jalan lahir bayi yang ternyata baru pembukaan enam dan sekalian memeriksa detak jantung bayi dalam kandungan serta tensi darah Alesa.
Setelah di pastikan semua baik-baik saja, Bu Bidan meminta panther kerjanya untuk menginfus Alesa lalu setelah di infus Bu Bidan menyuntikkan obat perangsang di air infus agar Alesa bisa segera melahirkan dan ketika obat itu mulai beraksi Alesa kembali merasakan sakit luar biasa.
"Allahu Akbar" ucap Alesa semakin menggenggam tangan suaminya lebih erat
"Bismillah nak, pasti bisa" ucap Ibunya Alesa memberi kekuatan pada sang anak yang merasa kesakitan
Alesa hanya bisa meringis kesakitan sembari terus mengucap dalam hati agar sakit yang di rasakannya saat ini sedikit berkurang, tak lama kemudian terdengar adzan subuh berkumandang suaminya pamit sholat subuh sebentar selagi Alesa belum lahiran.
Selepas kepergian suaminya, ternyata Alesa berjuang ingin mengeluarkan bayi yang kepalanya sudah mulai tanpa di jalan lahir dengan satu tarikan napas lalu di hembuskan Alesa dengan sekuat tenaganya bayinya pun akhirnya lahir.
"Oweng.... Oweng.... Oweng...." suara Bayi Alesa yang menangis memenuhi ruangan persalinan itu
"Alhamdulilah" ucap Alesa dan sang ibu bersamaan
"Bayinya laki-laki" kata Bu Bidan lalu meletakkan bayi itu di dada Alesa sembari Bu Bidan berusaha mengeluarkan plasenta yang masih dalam rahim
Alesa tersenyum menatap bayi laki-lakinya kemudian mencium bayi laki-lakinya dengan penuh kasih sayang, dan tak berapa lama suaminya baru kembali ke ruang persalinan lalu ikut tersenyum melihat bayi mereka sudah lahir.
__ADS_1
Suaminya mengambil bayi mereka yang ada di dada Alesa lalu mencium bayi mereka dengan kasih sayang, dan mulai mengadzani bayi mereka sembari meneteskan air mata bahagia karena bayi yang di tunggu-tunggu akhirnya lahir juga di dunia ini.
Sang ibu juga bahagia melihat cucunya telah lahir ke dunia ini, sang ibu bahkan juga mencium kening Alesa serta mengucapkan selamat atas perjuangan Alesa yang melahirkan bayi mereka secara normal dan tentu perjuangan itu sangat luar biasa.