Rasa Yang Mati

Rasa Yang Mati
Bab 89


__ADS_3

"Bun, Azzam sholat di rumah aja ya. Azzam gak mau bareng ayah, Azzam juga mau jagain Bunda" kata Azzam ketika mendengar adzan magrib berkumandang


"Baiklah untuk malam ini aja, besok harus sholat di masjid lagi ya bareng ayah" kata Alesa kepada Azzam sembari mengelus lembut pucuk kepala Azzam


Suaminya tanpa pamit dan tanpa mengajak Azzam langsung berangkat ke masjid setelah mendengar Azzam bilang tak mau ke masjid barengnya, suaminya pun melangkahkan kaki keluar ruko miliknya dengan keadaan masih agak emosi.


Setelah Adzan magrib selesai berkumandang, Alesa segera beranjak bersama Azzam hendak menunaikan kewajiban sebagai hamba-NYA dan mereka berdua segera membentang sajadah yang menghadap kiblat.


"Bun, Azzam yang jadi imam ya" kata Azzam kemudian berdiri di depan Alesa


"Iya" jawab Alesa sembari menyunggingkan senyuman


Alesa begitu bersyukur Azzam juga sudah bisa menjadi imam untuknya dan untuk semua orang, bahkan Azzam juga sering adzan di masjid ketika Azzam berangkat ke masjid lebih awal dan semua itu berkat didikan Alesa dari kecil.


Azzam memulai gerakan sholat dan di ikuti oleh Alesa, sampai akhirnya mereka berdua telah selesai mengerjakan sholat dan Azzam juga memimpin doa-doa yang sudah di hapalnya selama setengah tahun ini.


Setelah itu Alesa dan Azzam menyempatkan diri untuk membaca al-quran, selesai semua Alesa segera beranjak dan merapikan alat sholat yang baru saja mereka pakai lalu Alesa melangkahkan kaki ke dapur hendak menyiapkan makan malam.


Ketika semua masakan Alesa telah tertata di atas karpet, bahkan waktu terus berjalan namun suaminya sampai detik ini belum juga pulang ke ruko tersebut membuat Alesa dan Azzam tetap menunggu karena Alesa tak mau harus makan terlebih dahulu.


"Bun, Azzam udah lapar banget. Ayah sepertinya gak pulang deh, mungkin sekalian sholat isya" kata Azzam yang terus merengek ingin segera makan

__ADS_1


"Ya udah Azzam ambillah nasi dan lauk pauk kalau mau makan duluan, Bunda ke depan bentar mau lihat ada bayang-bayang ayahmu pulang gak" kata Alesa pada Azzam lalu beranjak ke depan hendak melihat suaminya


Alesa memilih keluar dari ruko hendak melihat keberadaan suaminya, dari kejauhan tak nampak ada bayang-bayang suaminya pulanh membuat Alesa mondar mandir di teras depan menunggu suaminya yang tak kunjung menampakkan diri.


Namun saat hendak masuk Alesa melihat bayangan suaminya di warung makan yang ada di seberang ruko milik suaminya ini, karena ingin memastikan penglihatannya Alesa pun segera melangkahkan kaki menyeberang jalan menuju warung makan itu.


"Wah, sekarang semenjak bekerja jadi satpam Mas Ilham makan di warung ibu terus. Memang Alesa gak masak apa" kata Pemilik warung itu sembari menata makanan pesanan suaminya Alesa di atas meja yang ada di hadapan suaminya Alesa


"Iya donk bu, gaji 10.000.000 harus makan enak. Alesa masak sih tapi masakannya gak pernah bener kadang ke asinan kadang juga gak ada rasa mana juga menu masakannya itu-itu terus, aku kan jadi bosan" jelas Mas Ilham panjang lebar kepada pemilik warung makan itu


Alesa yang mendengar semua perkataan suaminya itu segera berlari dari warung makan itu dengan air mata yang menetes, ia pun memutuskan untuk kembali ke ruko milik suaminya dan ia tak menyangka ternyata suaminya jarang makan di rumah karena lebih sering makan di luar.


"Bunda dari mana, ayo makan Bun. Sebentar lagi masuk sholat isya', sepertinya ayah memang gak pulang" kata Azzam saat melihat Alesa sudah berada di dekatnya


"Iya, ini Bunda mau makan. Azzam udah selesai makannya" kata Alesa sembari duduk di atas karpet dan di hadapan Azzam


"Udah baru selesai, dari tadi nungguin Bunda tapi karena Bunda lama jadi Azzam duluan deh" kata Azzam sembari nyengir


Alesa pun segera mewadahi piring miliknya dengan nasi dan lauk pauk, kemudian Alesa segera menyantap makanan tersebut dengan susah payah ia menelan dan tak ada yang aneh dengan lauk pauk masakannya rasanya pas.


Tapi mengapa suaminya tak mau makan di rumah dan malah memilih makan di luar, dan Alesa kembali teringat perkataan suaminya yang bilang gaji 10.000.000 tapi mengapa suaminya mengurangi uang untuk beli sayuran dan uang nafkah untuknya.

__ADS_1


Selama ini Alesa pikir gaji suaminya itu kecil sehingga memaklumi suaminya yang mengurangi uang untuk beli sayuran dan uang nafkah untuknya, namun ternyata diam-diam suaminya telah membohonginya pantas saja suaminya bahkan sudah kebeli gawai yang berlogo apel.


Dan suaminya bilang itu hadiah dari direktur sekolah karena kinerja suaminya bagus, tapi ternyata semuanya bohong lalu kemana semua gaji suaminya selama bertahun-tahun bekerja jadi satpam dan mengapa juga suaminya masih sering memarahinya jika warung terlihat sepi.


"Bun, kok Bunda malah melamun. Ayo segera habisin makanan Bunda, bentar lagi adzan isya" kata Azzam menyenggol lengan Alesa


Membuat Alesa tersadar dari lamunannya dari tadi, bahkan nasi dan lauk pauk yang ada di dalam piringnya baru berkurang sedikit dan dari tadi Alesa justru melamun bukannya segera menghabiskan makanannya.


Selesai makan dan bertepatan adzan isya' berkumandang Alesa segera membereskan bekas makannya dengan Azzam, lalu langsung di cucinya piring-pirin kotor itu dan syukurnya selesai mencuci piring adzan isya juga baru selesai berkumandang.


Seperti tadi Azzam yang akan mengimami Alesa sholat, dan selesai sholat juga mereka berdua menyempatkan membaca al-quran sebagai pedoman dalam hidup mereka dan tentu bisa membuat hati menjadi lebih tentram serta damai.


Setengah jam kemudian akhirnya suaminya penampakkan diri juga, dari sholat magrib tadi sampai sholat isya' baru suaminya pulang ke rumah namun lagi-lagi suaminya pulang dengan wajah yang masam padahal tadi di warung makan wajahnya sangat ceria.


"Mas, kok baru pulang?" tanya Alesa sekedar berbasa basi


"Memangnya kenapa? Ada yang salah?" kata Mas Ilham cuek saja langsung masuk ke dalam kamar


Alesa hanya diam dan menghela napas panjang, kemudian Alesa kembali duduk di warung milik suaminya itu yang sekarang jarang sekali ada yang belanja bahkan sudah banyak barang-barang di warung milik suaminya itu yang kadalursa.


Karena waktu sudah menunjukan pukul 08.00 malam dan jalanan juga sudah sepi, Alesa pun memutuskan segera menutup pintu rolling door warung milik suaminya itu yang dari tadi juga sepi tak ada satu pun yang belanja di warung milik suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2