Rasa Yang Mati

Rasa Yang Mati
Bab 12


__ADS_3

Setelah hampir dua minggu berada di kediaman mertuanya akhirnya hari yang di nanti-nanti Alesa pun tiba, hari ini Alesa dan suaminya akan pulang ke desa dimana ruko usaha suaminya berdiri dan tempat tinggal mereka sekarang.


"Hati-hati di jalan, pas di rumah jangan di manja istri mu nanti kebiasaan" kata Ibu mertuanya Alesa kepada sang anak laki-laki


Alesa yang mendengar pura-pura menulikan pendengarannya dan masih sibuk berpamitan dengan adik iparnya yang begitu sedih hendak di tinggal pulang, bahkan pelukan dari Alesa tak kunjung di lepaskannya meski kakak iparnya sudah menegur berapa kali.


"Nanti sering-sering kirim kabar ya, Mbak" kata Adik iparnya Alesa sembari melepaskan pelukannya


"Insyaallah, kalau Mbak gak sibuk pasti Mbak kirim pesan" jawab Alesa sembari menghapus air mata adik iparnya


"Aiis, lebay banget sih" kata Kakak iparnya Alesa yang tak suka melihat kedekatan sang adik dengan Alesa


Kemudian Alesa beralih kepada anggota keluarga yang lainnya sembari menyalami mereka satu persatu dengan takzim, namun tak ada yang suka akan kepulangannya dengan suaminya karena tentu takkan ada lagi yang menjadi babu di rumah ini.


Bahkan tatapan mata ibu mertuanya dan kakak iparnya begitu tajam dan sangat jelas rasa ketidaksukaan mereka terhadap Alesa, namun Alesa tak mempermasalahkannya yang terpenting selama ia berada di kediaman mertuanya ia sudah berusaha menjadi menantu dan ipar yang baik.


Saking baiknya semua pekerjaan di rumah ini ia yang selalu mengerjakannya dan tak ada yang membantunya, seperti ibu mertuanya namun ia bisa maklum karena ibu mertuanya sudah tua tapi kalau kakak iparnya rasanya sepertinya masih kuat hanya saja memang orangnya pemalas jadi hanya bisa ongkang -ongkang kaki di rumah ini.


Dan syukurnya ia di bantu oleh adik iparnya yang sangat peduli dengannya bahkan juga sangat membela serta menyayanginya, tak seperti suaminya yang tak peduli sedikitpun dan tak ada rasa belas kasihan padahal ia sedang hamil besar.


"Lambat banget sih jalannya, bisa gak jalannya agak cepat lagi. Lihat bus itu udah lama nunggu kita" kata Mas Ilham yang berjalan lebih dulu sembari menenteng tas milik mereka

__ADS_1


Alesa hanya membuang napas dengan kasar mendengar suaminya mengatakan ia berjalan sangat lambat, padahal ia sudah berjalan sangat cepat memang dasar suaminya saja tak pengertian jelas-jelas dia lah yang berjalan kayak setan meninggalkan Alesa sangat jauh.


Setelah masuk ke dalam bus Alesa memilih diam serta menoleh keluar jendela sembari mengatur napasnya yang masih tersengal, semakin lama Alesa makin lelah dengan sikap suaminya yang kelihatan di depan semua orang sok paling baik yang kenyataannya itu hanya topeng semata.


"Sabar...." ucap Alesa dalam hati yang selalu menguatkan diri


Bus yang membawa Alesa dan suaminya serta penumpang lainnya sudah melaju meluncur ke pelabuhan Tanjung Pinang, Alesa tersenyum senang beban dan kepenatan selama di kediaman mertuanya telah selesai dan kini ia harus siap mental selanjutnya menghadapi suaminya selama di rumah nanti.


Alesa masih tetap di posisinya menoleh ke jendela menikmati pemandangan di luar jendela yang kanan dan kini penuh dengan pepohonan hijau yang membuat hati lebih terasa tenang dan damai, bahkan Alesa tak peduli dengan suaminya yang ada di sampingnya yang tengah sibuk dengan gawai di tangannya.


.


.


"Ya allah Mas, makan itu di nikmati gak perlu buru-buru juga. Entar tersedak gimana?" kata Alesa yang makan perlahan


"Entar kita di tinggal gimana, penumpang lain sudah pada selesai makannya" kata Mas Ilham yang masih emosi


Alesa yang tak tahan mendengar ocehan suaminya, akhirnya memakan makanannya tanpa mengunyah langsung di telannya dan di dorong dengan meminum air mineral agar makanan yang ada di dalam mulutnya tak menyangkut.


Setelah makanannya habis Alesa langsung beranjak dari duduknya dan meninggalkan suaminya begitu saja, Alesa segera naik ke dalam bus dan duduk lagi di tempat duduk mereka tanpa mau menoleh ke kanan kiri dimana para penumpang lain sedang memperhatikan pertikaian ia dengan suaminya barusan.

__ADS_1


Suaminya juga langsung bergegas naik bus setelah membayar makanan yang di makannya dan di makan Alesa, suaminya segera duduk di kursi samping Alesa tanpa peduli dengan tatapan para penumpang yang menatapnya dengan tajam.


"Udah tau istri lagi hamil besar, kenapa gak sabaran nungguin istri lagi makan" celetuk Salah satu penumpang di dalam bus


"Iya ya, kasihan sekali istrinya. Padahal orang hamil itu makan harus banyak dan dinikmati" jawab Yang lain


Suaminya Alesa memilih pura-pura tak mendengar ocehan penumpang yang membicarakannya, bahkan suaminya Alesa memilih untuk memejamkan kedua kelopak matanya agar tertidur dan tak mendengar lagi ocehan-ocehan yang berseliweran itu.


Alesa pun menoleh ke arah suaminya saat mendengar dengkuran halus yang di keluarkan dari mulut suaminya, Alesa terus memandangi wajah suaminya yang tertidur sangat pulas bahkan terlihat sangat teduh seperti wajah tak memiliki dosa.


"Andai kamu kayak dulu Mas, pasti rumah tangga kita akan harmonis selalu" kata Alesa dalam hati sembari membenarkan posisi kepala suaminya yang hendak jatuh dan di sadarkannya di pundaknya


Alesa kembali menoleh ke arah luar jendela lagi untuk memandangi pemandangan di luar jendela, namun ternyata langit biru berubah menjadi gelap hingga tak berapa lama hujan pun turun juga membasahi jalanan dan tanah di bumi.


Alesa jadi kecewa tak bisa lagi memandangi pemandangan di luar jendela karena jendela kaca itu berembun di akibatkan hujan turun dengan sangat deras, angin hujan sedikit masuk melalui lobang-lobang kecil di dalam bus membuat udara di dalam bus menjadi semakin dingin apalagi AC bus dari tadi hidup.


Para penumpang meminta kepada supir bus untuk mematikan AC bus, setelah udara dingin sedikit berkurang para penumpang memilih untuk tidur apalagi dengan cuaca yang sangat mendukung sekarang membuat mata siapa saja jadi terasa mengantuk termasuk Alesa.


Alesa ikut memejamkan kedua kelopak matanya dan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi agar posisi kepala suaminya yang masih di pundaknya tak berubah, namun ternyata Alesa tak bisa tertidur karena pundaknya mulai terasa keram akibat kepala suaminya sudah terlalu lama berada di pundaknya.


Meski pun sudah di paksa tetap saja tak bisa hingga akhirnya Alesa memilih membuka kembali kedua kelopak matanya, lalu Alesa memutuskan untuk memainkan gawainya saja ingin melihat kabar di dunia maya yang sangat jarang di lihatnya semenjak menikah karena kesibukannya sehari-hari.

__ADS_1


__ADS_2