Rasa Yang Mati

Rasa Yang Mati
Bab 98


__ADS_3

Selesai sholat subuh seperti biasa Alesa akan mengerjakan semua pekerjaan rumah, namun kali ini berbeda pekerjaannya sedikit berkurang karena suaminya membantunya untuk mengerjakan semuanya.


Bahkan untuk membuat sarapan tak di izinkan oleh suaminya soalnya suaminya menyarankan untuk beli saja, tentu membuat Alesa senang karena perlu repot-repot memikirkan mau bikin sarapan apa.


Setelah semua pekerjaannya selesai Alesa yang sudah mandi bahkan tak memiliki pekerjaan lagi memilih untuk duduk santai di depan TV sembari menyalakan TV, waktu terus berjalan bahkan matahari mulai tampak.


Suaminya sudah siap dengan pakaian kerjanya, dan bertepatan pesanan nasi uduk untuk mereka sarapan juga datang buru-buru Alesa beranjak ke depan ingin mengambil pesanan tersebut sekalian membayar.


Setelah itu Alesa kembali ke belakang sembari menenteng plastik yang berisi tiga bungkus nasi uduk, kemudian Alesa mewadahi nasi uduk itu ke piring mereka masing-masing dan syukurnya Azzam juga sudah bangun.


"Ayo, kita sarapan" kata Alesa setelah semuanya tertata di atas karpet


Kini mereka bertiga pun mulai menyantap nasi uduk itu dengan lahap, setelah nasi uduk mereka masing-masing habis kini suaminya menikmati kopi hitam buatan Alesa dan sedangkan Alesa dengan Azzam menikmati teh manis.


"Nanti gak usah masak buat makan siang, aku beliin aja nanti aku pulang makan bersama kalian" kata Mas Ilham setelah menyeruput kopi yang sisa sedikit


"Iya Mas" jawab Alesa yang lagi-lagi terharu dengan perlakuan suaminya


"Ya sudah, aku berangkat kerja dulu. Ingat jangan terlalu capek, banyak-banyak istirahat" kata Mas Ilham beranjak dari duduknya kemudian mencium pucuk kepala Azzam


Alesa mengantar suaminya sampai ke teras depan, saat suaminya sudah duduk di atas sepeda motor Alesa segera mencium punggung tangan suaminya dengan takzim dan di balas suaminya dengan mencium kening.


"Assalamualaikum" ucap Mas Ilham sebelum melajukan sepeda motor miliknya


"Walaikumsalam" jawab Alesa dengan menyunggingkan senyuman sembari melambaikan tangan


Alesa memandangi sepeda motor milik suaminya yang sudah melaju semakin jauh, tapi senyuman yang mengembang di wajah Alesa tak juga hilang karena Alesa benar-benar senang bisa merasakan kembali ke hangat suaminya.


Hemm

__ADS_1


Mendengar deheman dari belakang sontak Alesa menoleh ke belakang dan terkejut, ternyata menantu Bu Sri yang ada di belakang, Alesa yang masih tersenyum akhirnya berubah mengerucutkan bibirnya.


"Cie yang lagi bahagia, gak mau bagi-bagi ni" goda Menantu Bu Sri sembari menoel pundak Alesa


"Apaan sih kamu tu merasa moodku aja" kata Alesa masih dengan bibir mengerucut


"Hahaha, sorry. Aku seneng mbak akhirnya hubungan rumah tangga kalian benar-benar baik, namun aku masih sedikit heran kok bisa Mas Ilham itu tiba-tiba langsung berubah gitu" kata Menantu Bu Sri sembari mendaratkan bokongnya di kursi yang ada di teras depan ruko milik suaminya Alesa


"Sama aku juga heran, tapi biarin sih gak penting juga. Yang terpenting itu Mas Ilham udah berubah" kata Alesa yang ikut mendaratkan bokongnya di kursi satunya


"Iya bener itu mbak" jawab Menantu Bu Sri sembari tersenyum


Alesa dan menantu Bu Sri pun terus bertukar cerita mereka masing-masing, sampai mereka berdua tak sadar bahwa mereka bercerita sudah berapa jam dan baru tersadar ketika Bu Sri memanggil menantunya.


Menantu Bu Sri pun pamit puleygang dengan Alesa, setelah kepergian menantu Bu Sri Alesa segera masuk ke dalam ruko ingin menemani Azzam yang sendirian sedang menonton TV.


"Azzam udah mandi?" tanya Alesa yang sebenarnya sudah tau terlihat dari rambut cempak Azzam masih basah


"Makin pinter anak Bunda, mandi udah bisa sendiri pake baju juga" kata Alesa sembari mengelus pucuk kepala Azzam


"Iya Bunda, bukannya Bunda bilang Azzam harus mandiri karena tak selamanya Bunda ada di dekat Azzam" kata Azzam tersenyum menatap Alesa


"Iya Azzam benar" jawab Alesa kemudian mendaratkan ciuman di kedua pipi Azzam


Kini Alesa dan Azzam kembali fokus dengan layar TV yang tengah menyala itu, kebiasaan Azzam pagi-pagi hobi nonton si kembar yang dari Malaysia itu karena memang banyak manfaat mengajarkan segala hal.


Tak terasa kini hari telah menjelang siang, dan seperti janji suaminya tadi pagi bahwa ketika makan siang akan pulang dan sekarang terbukti suaminya sudah pulang ke ruko bahkan sembari membawa nasi bungkus.


Alesa dan suaminya serta Azzam pun segera menyantap nasi bungkus yang di beli suaminya di warung makan, makanan tersebut sangatlah lezat sampai mereka nambah dan syukurnya suaminya sengaja beli lebih.

__ADS_1


"Aku pamit berangkat kerja lagi, Assalamualaikum" kata Mas Ilham setelah mereka selesai makan


"Iya Mas, hati-hati di jalan. Walaikumsalam" kata Alesa sembari mencium punggung tangan suaminya dengan takzim


"Ayah...." teriak Azzam dari dalam sebelum ayahnya melajukan sepeda motor


"Ada apa sayang? Pake teriak-teriak segala?" tanya Alesa keheranan dengan kelakuan Azzam


"Ayah, boleh gak Azzam minta beliin robot-robotan yang bisa jadi mobil-mobilan yang kayak di iklan waktu itu" kata Azzam dengan raut wajah memelas seperti begitu menginginkan mainan itu


Suaminya berpikir sejenak mengingat mainan seperti apa yang di inginkan Azzam, setelah ingat suaminya pun langsung menganggukkan kepala dan janji pulang dari kerja akan membawakan mainan yang di inginkan Azzam.


Azzam tentu sangat bahagia ayahnya mau membelikannya mainan yang di inginkannya itu, Azzam pun langsung mencium pipi ayahnya dan mengucapkan terima kasih kepada ayahnya.


Alesa melihat pemandangan tersebut tersenyum rasanya bahagia sekali rumah tangga mereka sekarang begitu harmonis, setelah itu suaminya segera melajukan sepeda motor miliknya.


Sedangkan Alesa dan Azzam segera masuk lagi ke dalam ruko, namun saat melangkah masuk kepala Alesa kembali pusing dan bersamaan dengan darah keluar dari lobang hidungnya.


"Bunda kenapa? Kok ada darah lagi di hidung Bunda?" tanya Azzam yang begitu khawatir melihat Alesa


"Bunda gak apa-apa, ini pasti karena pusing makanya hidung Bunda berdarah lagi" kata Alesa segera mempercepat langkah kakinya menuju wastafel dan langsung di cucinya darah yang terus keluar itu


"Bunda benaran gak apa-apa?" tanya Azzam lagi ingin memastikan apalagi terlihat wajah Alesa langsung pucat


"Iya" jawab Alesa sembari memegang kepalanya yang terasa sangat berat itu


Azzam masih berdiri di samping Alesa sembari menatap Alesa dengan khawatir, Azzam ingin memastikan bahwa Alesa benar-benar tak apa-apa karena Azzam yak mau kejadian seperti waktu itu terulang lagi.


Cukup lama Alesa membersihkan darah yang terus keluar itu hingga akhirnya darah itu berhenti, karena kepalanya masih terasa berat Alesa segera melangkahkan kaki ke arah ruang TV di bantu oleh Azzam.

__ADS_1


"Azzam, Bunda minta tolong ya. Jangan kasih tau Ayah soal kejadian barusan, janji" kata Alesa kepada Azzam sembari menyodorkan jari kelingking


"Azzam janji, Bun" jawab Azzam menyatuhkan jari kelingking mereka berdua


__ADS_2