
Ketika Dokter menanggani Alesa yang kritis, roh Alesa keluar sebentar dan seperti tersesat di hamparan rumput hijau seperti sebuah taman dan disitu juga ada sosok roh laki-laki sedang duduk di bangku panjang.
"Mas Ilham...." panggil Alesa setelah mendekati sosok laki-laki duduk di bangku panjang itu yang ternyata suaminya
"Alesa, mengapa kamu juga disini?" tanya Mas Ilham berdiri menghampiri Alesa
"Memangnya ini tempat apa, Mas?" tanya Alesa bukannya menjawab ia justru balik bertanya
"Ini seperti surga, terlihat indah dan damai bukan" jawab Mas Ilham memandangi sekeliling tempat itu penuh dengan berbagai jenis tanaman bunga
Alesa menganggukkan kepala terpesona dengan suasana disitu, kemudian Alesa melangkahkan kaki ingin mengelilingi rerumputan hijau itu di temani suaminya yang sembari menggenggam jari jemari Alesa.
Alesa dan suaminya berjalan beriringan dan tangan mereka masih bertautan tak mau terlepas, suaminya juga memberi pertanyaan dengan Alesa hendak disini bersamanya atau kembali untuk menemani Azzam di dunia.
Karena sudah terpesona dengan suasana disitu Alesa pun memilih menetap disitu bersama suaminya, dan Alesa percaya meski mereka tak bisa lagi bersama Azzam pasti Azzam baik-baik saja karena banyak yang menyayangi Azzam.
Hingga itulah Dokter menyatakan bahwa Alesa tak bisa tertolong, karena detak jantung Alesa langsung berhenti seperti tak mau lagi berjuang melewati masa kritisnya hingga Dokter pun menyerah dengan takdir yang telah di tetapkan.
"A...Alesa" kata Ibunya Alesa kemudian pingsan beruntungnya kakak kedua Alesa langsung menangkap tubuh sang ibu
Semua yang mendengar penjelasan Dokter tentu terkejut, kemudian Sisil menghampiri Dokter lagi bertanya dengan kedua korban laki-laki siapa lagi kalau bukan sang kakak dan keponakannya.
__ADS_1
"Kalau anak kecil korban kecelakaan itu alhamdulilah selamat namun saat ini masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius dan sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang rawat, sedangkan korban satu lagi bukannya sudah di nyatakan meninggal di tempat kejadian" jelas Dokter lagi
"Apa? Gak mungkin. Ilham...." kata Ibu mertuanya Alesa kembali syok dan pingsan lagi ketika mendengar anak kesayangan meninggal dunia
Kedua orang pingsan itu segera di bawa ke ruang penangan, sedangkan yang lain terduduk di kursi yang ada di depan ruang UGD masih syok mendengar kabar kedua orang tua Azzam meninggal secara bersamaan itu artinya Azzam akan menjadi anak yatim piatu.
Brangkar yang membawa tubuh Azzam segera di dorong keluar oleh para perawat dari ruang UGD dan akan di pindahkan ke ruang rawat yang telah di urus oleh kakak pertama Alesa, kemudian ada lagi brangkar yang di dorong namun tertutup dengan kain dan hendak di bawa ke ruangan jenazah.
Pihak keluarga suaminya Alesa memilih untuk ke ruangan jenazah, karena mereka ingin melihat jenazah suaminya Alesa yang ternyata sudah di nyatakan meninggal di tempat kejadian.
Pihak keluarga Alesa berbagi tugas, ada yang ikut melihat jenazah Alesa dan ada sebagian yang melihat kondisi Azzam yang masih terbaring lemah di brangkar dan syukurnya sudah berada di ruangan perawatan.
"Intan..." panggil Ibunya Alesa saat membuka kedua kelopak matanya hanya melihat menantu keduanya ada di sampingnya
Ibunya Alesa menggelengkan kepala, kemudian kembali mengingat perkataan Dokter tadi bahwa anak bungsunya kini tak bisa di selamatkan yang artinya Alesa meninggal dunia.
"Intan, temani ibu. Ibu mau lihat jenazah Alesa" kata Ibunya Alesa sembari menitikkan air mata seperti masih tak percaya dengan berita ini
"Nanti saja bu, ibu masih lemah" kata Istri kakak kedua Alesa
"Tidak intan, ibu mau sekarang melihat jenazah Alesa. Ibu kuat kok" kata Ibunya Alesa berusaha menguatkan keadaan
__ADS_1
Tak ada pilihan lagi istri kakak kedua Alesa pun mau tak mau menuruti kemauan ibu mertuanya itu, kemudian perlahan istri kakak kedua Alesa membantu ibu mertuanya turun dari ranjang pasien.
Di ruangan jenazah terdengar tangisan pilu semua orang yang melihat jenazah Alesa dan suaminya, bahkan Sisil begitu terpukul kedua orang yang sangat di sayanginya pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Sisil melihat sebuah kalung emas yang melingkar di leher Alesa, kalung emas itu berinisial I&A sepertinya Sisil baru melihat kalung emas itu soalnya pas waktu Alesa main ke rumah ia tak melihat Alesa memakai kalung emas tersebut.
Sisil pun segera melepas kalung emas tersebut dan berniat akan di simpannya untuk di berikannya dengan Azzam nanti, ibunya Alesa pun tiba di ruangan jenazah bersama menantunya langsung menuju jenazah Alesa.
Disitu terlihat Alesa seperti bukan meninggal melainkan seperti sedang tertidur pulas, apalagi ada senyuman di bibir Alesa bahkan raut wajah Alesa terlihat damai dan berbinar membuat ibunya Alesa kembali menitikkan air mata.
"Lihat Intan, Alesa tersenyum. Sepertinya ia sudah bahagia di alamnya" kata Ibunya Alesa yang mengelus raut wajah Alesa
"Iya bu" jawab Istri kakak kedua Alesa yang memang melihat senyuman di bibir Alesa
Sisil sudah beralih ke jenazah sang kakak, sedangkan para laki-laki saat ini sedang sibuk mengurus jenazah kepada para pihak rumah sakit yang sebentar lagi akan di bawa ke rumah Sisil setelah mereka semua sepakat karena hanya rumah Sisil yang dekat dari rumah sakit.
Sedangkan jika ingin membawa jenazah Alesa ke rumah orang tuanya tak bisa karena akses jalan ke kediaman orang tuanya masih susah untuk di lalui sebuah mobil, sedangkan ibu mertuanya Alesa saat ini masih syok dan masih di temani oleh kakak iparnya Alesa di dalam ruang perawatan.
Ibu mertuanya Alesa duduk sembari bersandaran di ranjang pasien, menatap lurus luar pintu dengan tatapan kosong sepertinya ibu mertuanya Alesa lebih terpukul karena anak kesayangannya pergi meninggalkannya selama-lamanya dan seraya semua seperti mimpi.
Padahal besok seharusnya keberangkatan Alesa dan suaminya ke tanah suci ingin menunaikan ibadah umroh, namun ternyata semua di luar nalar belum apa-apa tuhan telah mengambil nyawa Alesa dan suaminya terlebih dahulu.
__ADS_1
Dan seharusnya hari ini mereka semua berkumpul karena mereka akan mengadakan syukuran untuk keberangkatan Alesa dan suaminya ke tanah suci, tapi sepertinya syukuran itu telah berganti menjadi tahlilan dan semua memang sudah takdir tak ada yang tau.