Rasa Yang Mati

Rasa Yang Mati
Bab 50


__ADS_3

"Mas, makan malam udah siap" kata Alesa setelah menata semua makanan di atas karpet


"Iya" jawab Mas Ilham beranjak dari warung dan melangkahkan kaki menuju dapur


Suaminya segera duduk di atas karpet yang di hadapannya sudah terhidang semua makanan lezat yang di anterin menantu Bu Sri siang tadi, dengan telaten Alesa mengisi piring milik suaminya dengan berbagai macam makanan itu.


Kemudian Alesa memberikan piring yang sudah berisi semua aneka makanan itu pada suaminya, setelah itu ia beranjak dari situ dan melangkahkan kaki ke depan hendak menjaga warung milik suaminya sembari membawa bayi Azzam ke warung.


Namun entah mengapa malam ini warung milik suaminya agak sepi, bahkan tak ada satu pun yang datang hendak belanja membuat Alesa tak susah payah melayani para pembeli dan Alesa justru sibuk bermain dengan bayi Azzam yang tengah belajar duduk.


Selesai suaminya makan dan telah kembali menjaga warung, Alesa pun pamit ingin makan juga dan tak lupa Alesa menitipkan bayi Azzam pada suaminya yang kebetulan bayi Azzam masih bermain di atas karpet yang ada di warung milik suaminya.


Karena kebiasaan makan begitu sangat cepat, jadi hanya lima menit Alesa telah selesai makan dan kini kembali ke depan menghampiri bayi Azzam yang ternyata masih sibuk bermain lalu Alesa duduk sembari mengambil bayi Azzam karena ingin di susuinya.


Waktu terus berjalan hingga mulai terdengar adzan isya' berkumandang, seperti biasa suaminya pasti akan pergi ke masjid untuk sholat berjamaah dan tak lupa menitipkan warung pada Alesa yang kebetulan masih duduk di karpet yang ada di warung.


"Aku berangkat, Assalamualaikum" kata Mas Ilham yang kelihatan lebih semangat pergi ke masjid, terlihat dari raut wajahnya yang berbinar membuat Alesa mengerutkan keningnya.


"Walaikumsalam" jawab Alesa namun tetap memperhatikan suaminya meski sudah melangkah semakin jauh


Deg

__ADS_1


"Menantu Bu Sri dengan Bu Sri" kata Alesa melihat seseorang yang berjalan beriringan yang sangat di kenalnya.


Perasaan Alesa jadi semakin tak tenang, apa ini ada hubungan dengan binaran di wajah suaminya pas mau berangkat ke masjid tadi meski ia tau suaminya memang biasa sholat di masjid hanya saja yang membuat Alesa tak tenang dan curiga dari wajah suaminya tadi yang kelihatan sangat semangat.


Apa salah seorang istri cemburu jika suaminya memiliki ketertarikan dengan wanita lain, meski wanita itu sudah memiliki suami bahkan terlihat sangat mencintai suami tapi tetap saja Alesa begitu khawatir apalagi ia yang sekarang terlihat tak menarik lagi di mata suaminya.


Alesa mengigit bibir bawahnya, ia tak mau hal yang ada di pikirannya terjadi meski suaminya selalu berlaku kasar dan memarahinya ia masih bisa menerima itu semua namun jika suaminya sudah berpaling dan tak mencintainya lagi rasanya ia tak sanggup.


Rasa cintanya kepada suaminya masih sangat besar bahkan melebihi ia mencintai diri sendiri, Alesa segera menyeka air matanya yang mulai mengenang di kantong matanya namun semakin ia menyeka air mata itu justru memberontak ingin keluar.


Hingga Alesa pun membiarkan saja air mata itu membasahi kedua pipinya sembari memeluk bayi Azzam dan mencium pipi bayi Azzam dengan sangat dalam, Alesa butuh pelukan hangat yang bisa mengurangi kesedihannya saat ini.


Setengah jam kemudian, meski Alesa duduk di lantai dan tertutup dengan sebuah lemari kaca yang tembus pandang, ia bisa melihat dari kejauhan suaminya yang berjalan beriringan dengan menantu Bu Sri dan Bu Sri entah apa yang mereka bicarakan sampai terlihat begitu seru.


"Assalamualaikum" ucap Mas Ilham setelah masuk ke dalam ruko


"Walaikumsalam, enak ya habis cuci mata" kata Alesa sembari mengendong bayi Azzam yang sudah tertidur dengan sangat pulas


"Cuci mata, apaan sih" kata Mas Ilham mengerutkan keningnya tak mengerti dengan arah pembicaraan Alesa


Alesa tak menyahut dan memilih melangkahkan kaki ke ruang TV, kemudian meletakan bayi Azzam ke kasur bayi dengan perlahan-lahan lalu ia duduk di samping bayi Azzam dan memutuskan untuk menonton TV saja agar rasa cemburu di hatai ya segera padam.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukan pukul 08.00 malam, suaminya pun menutup warung miliknya karena jalan sudah sangat sepi mana juga dari magrib hingga sekarang tak ada satu pun yang datang ke warung miliknya untuk belanja mungkin karena siang tadi lumayan ramai.


Di tambah habis sholat magrib tadi orang pada pergi yasinan di tempat orang yang berduka tadi siang, mungkin bisa jadi itu lah penyebabnya tak ada satu pun yang hendak belanja dan suaminya tak kecewa karena tadi siang serta sore juga warung miliknya lumayan ramai.


Tik...tik...tik


Terdengar suara rintih hujan yang berjatuhan di atas atap ruko milik suaminya, beruntung suaminya sudah menutup warung karena hujan turun semakin deras bahkan sesekali terdengar bunyi petir yang bersahutan dan tiba-tiba listrik pun padam


"Yahh, mati lampu" kata Alesa kecewa karena malam ini tidak akan bisa tidur dalam keadaan gelap gulita


"Itu ada lampu emergency di kamar, kamu pakai aja" kata Mas Ilham yang tau kalau Alesa paling tak bisa tidur jika gelap gulita


"Memang Mas gak makai?" tanya Alesa


"Gak, pakai aja" jawab Mas Ilham kemudian melangkahkan kaki ke kamar untuk mengambilkan lampu emergency buat Alesa


Suaminya segera menyerahkan lampu emergency itu kepada Alesa, tentu Alesa menerima dengan senang hati dan mengucapkan terima kasih kepada suaminya yang sudah ngertiin keadaannya namun senyumannya yang tadi mengembang seketika hilang saat ia ingat kejadian tadi.


Kejadian dimana suaminya bercanda gurau dengan menantu Bu Sri, meski ada Bu Sri diantara suaminya dan menantu Bu Sri tadi tetap saja Alesa kesal dan marah karena bisa-bisa suaminya dengan senang membuat wanita lain tertawa sedangkan dengannya.


Boro-boro yang ada sering di ajak bersitegang seperti musuh bebuyutan jarang akur, Alesa kembali cemberut sembari menghidupkan lampu emergency itu dan segera berbaring tak menghiraukan suaminya yang masih ada di dekatnya.

__ADS_1


Suaminya yang biasa saja juga tak peduli dengan Alesa yang tiba-tiba mendiamkannya dan justru memilih kembali ke kamar ingin segera tidur, apalagi malam juga sudah mulai larut meski waktu baru menunjukan pukul 09.00 malam tapi biasanya suaminya sudah tidur bahkan sudah ngorok.


__ADS_2