Rasa Yang Mati

Rasa Yang Mati
Bab 91


__ADS_3

"Sil, mbak minta tolong jangan kamu kasih tau Mas Ilham ya. Kalau mbak dan Azzam habis dari sini, mbak mohon" kata Alesa pada adik iparnya sembari mengenggam jari jemari milik adik iparnya


"Iya mbak" jawab Sisil sembari menganggukkan kepala


"Terima kasih, udah jagain Azzam. Kita pamit pulang ya" kata Alesa sembari beranjak dan mengandeng tangan Azzam


"Sama-sama, hati-hati di jalan mbak" ujar Sisil sembari melambaikan tangan kepada kakak ipar dan keponakannya yang mau masuk ke dalam mobil


Alesa dan Azzam membalas lambaian tangan Sisil, kemudian mereka berdua segera masuk ke dalam mobil travel yang akan membawa mereka sampai ke daerah dimana ruko milik suaminya berdiri.


Sepanjang perjalanan pulang Alesa hanya diam tak bersuara sama sekali hanya terdengar celotehan Azzam yang bercerita tentang selama Azzam di tinggalkan Alesa dengan Sisil tadi, Alesa sesekali tersenyum menanggapi cerita Azzam.


Alesa kembali teringat akan kejadian ketika ia memeriksakan diri di rumah sakit tadi, Dokter spesialis penyakit dalam mengatakan bahwa ia sekarang terkena penyakit Leukimia Stadium 3 jika tak segera di obati akan semakin parah.


Alesa benar-benar tak menyangka hidupnya kini tak lama lagi, ia ikhlas menerima penyakit yang di deritanya saat ini karena ia tau Tuhan sudah menentukan takdir dalam hidupnya namun ia jadi khawatir akan meninggalkan Azzam seorang diri di dunia ini.


Tiba-tiba ia kepikiran akan masa depan Azzam yang akan kehilangan sosok seorang ibu sepertinya, tapi ia selalu mendoakan Azzam agar bisa menerima kenyataan yang akan terjadi ke depan karena ia sangat yakin Azzam sosok anak yang hebat.


"Bunda, kok dari tadi diam. Bunda sakit?" tanya Azzam yang melihat Alesa tengah melamun


"Ahh, gak kok Bunda sehat" kata Alesa mengalihkan pandangannya menatap kedua bola mata Azzam


"Terus kenapa Bunda diam aja" kata Azzam sembari mengerucutkan bibirnya


"Maaf, Azzam Bunda mau tanya boleh" kata Alesa sembari merangkul pundak Azzam

__ADS_1


"Tanya apa, Bun" kata Azzam menatap lekat kedua bola mata Alesa


"Azzam janji ya dengan Bunda, kalau seandainya Bunda udah gak ada di dunia ini nanti. Azzam akan tetap jadi anak Bunda yang soleh dan hebat" kata Alesa namun tiba-tiba air matanya menetes


"Bunda kok nangis, jangan nangis Azzam janji kok bakal jadi anak soleh dan hebat karena Azzam percaya Bunda gak akan ninggalin Azzam sendirian" kata Azzam lalu memeluk erat tubuh Alesa


Tampak mereka sadari, mobil travel yang membawa Alesa dan Azzam sudah memasuki daerah perdesaan dimana bangunan ruko milik suaminya berdiri dan Alesa baru sadar segera melihat jam di gawainya.


Yang syukurnya baru pukul 01.40 siang artinya Alesa dan Azzam pulang tepat waktu, dan pastinya suaminya takkan tau bahwa ia habis pergi bersama Azzam.


Jika sampai suaminya tau bisa Alesa pastikan suaminya akan marah besar karena ia pergi tanpa pamit, apalagi sudah meninggalkan ruko milik suaminya begitu saja dan tak membuka warung milik suaminya dari pagi tadi.


Setelah mobil travel itu berhenti di depan ruko milik suaminya, Alesa dan Azzam pun segera turun dari mobil travel itu setelah membayar ongkos mereka kepada supir mobil travel lalu Alesa bergegas mendekati pintu ruko dan membuka.


Karena kebetulan Alesa dan Azzam sudah sholat dzuhur dan sudah makan siang pas di perjalanan tadi, jadi Alesa seperti biasa harus membuka warung milik suaminya sedangkan Azzam karena kelelahan memilih untuk istirahat siang.


"Alesa.... Alesa...." teriak Mas Ilham yang tiba-tiba muncul


Deg


Perasaan Alesa jadi tak enak, ia takut suaminya mengetahui apa yang telah ia lakukan tadi dan belum sempat Alesa menyahut, suaminya sudah ada di dekatnya dan langsung mencengkeram lengan Alesa dengan sangat keras.


"Bagus ya, sekarang udah berani pergi tanpa izin dengan aku bahkan bawak Azzam segala" kata Mas Ilham dengan sorot mata yang sangat marah


"Ma....Mas sakit" kata Alesa meringis karena merasa sangat sakit di cengkeram oleh suaminya

__ADS_1


"Kamu habis dari mana, HAH. Apa jangan-jangan kamu menemui selingkuhan kamu, iya. Dasar j*lang" kata Mas Ilham begitu emosi


"Apa maksud, Mas? Kalau pun aku mau selingkuh udah dari dulu aku ninggalin Mas dan memilih selingkuh, tapi karena aku masih menghargai kamu yang aku yakini bisa berubah meski aku harus menunggu berapa tahun yang akan datang" kata Alesa tak terima di tuduh selingkuh apalagi sampai di bilang j*lang


"Kalau kamu gak nemuin selingkuhan kamu terus kamu dari mana, HAH" bentak Mas Ilham lagi


"Mas tanya dengan Sisil, aku dari mana" kata Alesa berusaha melepaskan cengkeraman tangan suaminya


Azzam yang sangat kelelahan tak mendengar sama sekali suara ayah dan ibunya yang sedang bertengkar, apalagi tadi sebelum tidur Azzam sempat menyalakan TV jadi pikiran alam sadar Azzam suara ribut-ribut itu di akibatkan oleh suara dari TV.


Karena ingin memastikan suaminya langsung mencengkeramannya dari lengan Alesa, dan segera mengambil gawainya yang ada di dalam saku celananya lalu menghubungi nomor kontak Sisil.


Hanya berbicara berapa menit suaminya sudah mematikan sambungan telepon, kemudian suaminya tanpa banyak bicara langsung kembali keluar ruko dan melajukan lagi sepeda motornya ingin kembali ke tempat kerjanya yang tadi di tinggalnya begitu saja.


Suaminya tau Alesa pergi dari Bu Sri yang memberitahu bahwa ingin belanja di warung miliknya namun tutup, sudah di gedor-gedor namun tak ada sahutan dan kemungkinan Alesa pergi karena tak mungkin warung tiba-tiba tutup.


Suaminya yang mendengar itu tentu sangat marah berusaha menahan emosi sampai menunggu kabar dari Bu Sri jika warung sudah buka, makanya suaminya langsung buru-buru pulang ke rumah dan ingin bertanya langsung dengan Alesa.


Setelah tau dari sang adik bahwa Alesa berkunjung ke rumah sang adik, suaminya tak bisa berkata-kata meski masih ada banyak pertanyaan tumben-tumben Alesa tiba-tiba mengunjungi sang adik tanpa mengajaknya.


Namun saat sang adik menjelaskan bahwa Alesa mungkin sedang suntuk di rumah makanya memilih pergi tanpa pamit dengannya, suaminya pun memakluminya karena memang semenjak suaminya bekerja di luar sudah tak pernah mengajak Alesa dan Azzam jalan-jalan.


Sedangkan Alesa yang ada di ruko kini menangis tak tau harus bagaimana lagi menghadapi suaminya yang sampai detik ini masih sama tak bisa berubah, padahal Alesa bertahan selama ini selain memikirkan masa depan Azzam.


Dan ia juga sempat menyakini hatinya kalau suaminya pasti bisa berubah, namun sudah hampir lima tahun pernikahan mereka tapi suaminya masih sama selalu kasar dan dingin dengannya.

__ADS_1


__ADS_2