
Waktu sudah menunjukkan pukul 03.15 sore, Azzam sudah selesai mandi bahkan sudah siap dengan baju koko-nya untuk pergi ke masjid sembari menunggu ayahnya yang sampai detik ini belum menampakkan batang hidung.
Azzam terus bolak balik di depan pintu depan menunggu kepulangan ayahnya, karena Azzam sudah tak sabar melihat mainan yang di inginkannya itu dan selang berapa menit terdengar suara sepeda motor berhenti di teras depan.
Azzam pun segera membuka pintu dan benar saja ternyata ayahnya yang pulang, saat menoleh ke arah sepeda motor ayahnya Azzam melihat sebuah plastik besar yang bisa di pastikannya itu mainan yang di inginkannya.
"Wah kayaknya ada yang gak sabaran ni" goda Mas Ilham sembari mengambil plastik besar yang tergantung di sepeda motornya dan menyodorkan ke arah Azzam
Azzam langsung menerima plastik besar itu dengan sangat bahagia setelah tau apa isinya, Azzam pun melompat kegirangan sembari masuk ke dalam ruko memberi tahu Alesa bahwa mainan yang di inginkannya sudah di belikan ayahnya.
"Bilang apa dulu dengan ayah" kata Alesa sembari tersenyum melihat Azzam begitu bahagia
"Terima kasih, ayah. Mainannya" kata Azzam kemudian memeluk ayahnya
"Iya sama-sama, ayah juga ada hadiah buat Bunda" kata Mas Ilham sembari menyodorkan sebuah kotak berwarna merah kepada Alesa
"Ini apa, Mas?" tanya Alesa saat menerima kotak berwarna merah itu
"Buka aja" ujar Mas Ilham sembari tersenyum
Alesa pun segera membuka kotak berwarna merah itu, saat tau isinya kedua bola mata Alesa berbinar tak menyangka sebuah barang mewah yang tak pernah bisa ia beli akhirnya ada di tangannya.
"Gimana kamu suka gak?" tanya Mas Ilham saat melihat Alesa hanya diam memandangi kalung emas itu
__ADS_1
"Suka banget, Mas. Tapi ini kan mahal" kata Alesa tentu senang mendapatkan kalung emas namun di satu sisi hatinya tak enak untuk menerima apalagi bisa ia pastikan bahwa kalung emas itu pasti mahal
"Gak apa-apa, sesekali beliin istri tercinta. Sini aku pakaikan" kata Mas Ilham mengambil kalung emas itu dari tangan Alesa kemudian memasangkan di leher Alesa
Alesa pun tampak cantik setelah memakai kalung emas yang ada inisial I&A itu, kalung emas itu sudah satu minggu yang lalu di pesan oleh suaminya namun baru selesai hari ini tadi.
Ketika dapat kabar kalung emas itu selesai suaminya langsung meluncur untuk mengambilnya, makanya suaminya pulang ke rumah sedikit terlambat belum lagi beliin mainan yang di inginkan Azzam.
"Terima kasih, Mas" kata Alesa dengan tulus sembari menatap diri yang ada di pantulan cermin
"Bunda makin cantik, ya kan yah" kata Azzam yang ikut bahagia setelah kedua orangnya kini makin harmonis
"Iya cantik banget seperti bidadari" kata Mas Ilham kemudian mencium pucuk kepala Azzam dan mencium pucuk kepala Alesa
Selagi menunggu ayahnya Azzam sibuk bermain dengan mainan barunya, sedangkan Alesa duduk di samping Azzam memperhatikan Azzam yang sibuk bermain dengan mainan baru itu.
Setelah ayahnya selesai mandi dan sudah siap dengan baju koko serta sarung handalannya yang tak lupa juga peci di atas kepala, Azzam dan ayahnya pun pamit dengan Alesa hendak pergi ke masjid.
Selepas kepergian dua sosok yang berarti dalam hidup Alesa, Alesa segera beranjak ingin sholat juga namun Alesa baru teringat bahwa ia saat ini sedang datang bulan pas waktu ia buang air kecil tadi sebelum suaminya pulang kerja.
Karena tak ada kerjaan Alesa memilih kembali ke kamar tidur, duduk diam memandangi diri yang ada di pantulan cermin meja rias itu sembari melihat kalung emas yang terlingkar di lehernya yang terlihat sangat cantik.
Tiba-tiba Alesa menitikkan air mata, ia begitu sedih kalung emas itu takkan selamanya ada di lehernya jika ia telah pergi dan satu sisi ia juga senang di sisa usianya yang tinggal sedikit banyak momen yang bahagia di berikan suaminya.
__ADS_1
Andai waktu bisa di putar ia menginginkan semua momen indah dan bahagia ini di saat ia masih sehat, bukan ia tak mau berjuang dengan penyakitnya dan mendului takdir namun ia justru berserah diri saat ini apapun yang terjadi ke depannya.
"Assalamualaikum" ucap Mas Ilham ketika masuk ke dalam rumah
"Walaikumsalam" jawab Alesa yang tersadar dari lamunannya saat mendengar salam dari suaminya yang sudah pulang itu artinya ia sudah setengah jam melamun di depan meja rias
Alesa pun segera beranjak dan menghampiri suaminya yang ternyata hendak masuk ke dalam kamar, kemudian Alesa mencium punggung tangan suaminya dengan takzim dan di balas suaminya dengan mencium kening.
"Kamu habis nangis?" tanya Mas Ilham yang tak sengaja melihat jejak air mata di pipi Alesa
"Gak kok, Mas" jawab Alesa berbohong
"Kamu gak bisa bohong dengan aku, lihat ada bekas air mata di pipi mu" kata Mas Ilham sembari menangkup wajah Alesa
"Aku hanya masih terharu, kamu beliin kalung emas ini. Ini air mata bahagia" kata Alesa mencari alasan agar suaminya tak curiga
"Aku lihat di kedua bola matamu sepertinya kamu menyimpan rahasia dengan aku, kalau boleh tau apa itu" kata Mas Ilham yang masih menatap kedua bola mata Alesa dengan begitu dalam
"Rahasia apa? Gak ada" jawab Alesa berusaha tenang dan rileks
"Baiklah kalau kamu belum mau jujur sekarang, tapi aku harap ketika kamu berubah pikiran kamu mau jujur dengan aku" kata Mas Ilham kemudian melepaskan tangannya dari wajah Alesa dan segera masuk ke dalam kamar hendak mengganti baju
Sedangkan Alesa memilih keluar dari kamar tidur dan duduk di ruang TV sembari menyalakan TV karena tak ada kerjaan lain, tak berapa lama suaminya ikut duduk di samping Alesa ikut menonton TV.
__ADS_1
Hening tak ada lagi pembicaraan yang keluar dari mulut Alesa mau pun suaminya, hanya terdengar suara dari TV yang tengah menyala itu dan saat ini justru Alesa mau pun suaminya sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.